Perpecahan Umat – Tafsir QS. Al-An’am [6] : 159


Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” Al-An’am [6] : 159

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Ibnu Katsir berkata: “Pemeluk agama sebelumnya berselisih satu sama lain di dalam pola fikir. Masing-masing mengaku bahwa kelompoknya yang benar, umat in pun berselisih satu sama lain di dalam beragama, semuanya tersesat kecuali satu yaitu Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu mereka yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, dan generasi sahabat dan para tabi’n dan para ulama kaum muslimin (salaf) dahulu dan sekarang, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadroknya ketika Rasulullah ditanya tentang golongan yang selamat, maka Beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang yang mengikuti Sunnahku pada hari ini dan sahabatku.’” (Tafsir Ibnu Katsir 5/282).
Ayat ini diperhatikan secara serius oleh ulama Sunnah, oleh karena itu sungguh amat beruntunglah apabila kita dapat mengambil ilmu mereka. Mari kita simak nasehat mereka.

FAWAID AYAT

– Tanda orang musyrik, mereka suka berpecah-belah
Ibnu Katsir berkata: “Orang musyrik suka mengganti dan merubah agamanya, mereka beriman terhadap sebagian akan tetap menolak sebagian yang lain. Mereka meniggalkan agamanya seperti orang Yahudi, Nasrani, Majusi, penyembah berhala dan semua pengikut agama yang bathil sebagaimana dicantumkan di dalam ayat ini (QS. Al An’am [6] :159).” (Tafsir Ibnu Katsir 6/282)
– Hindari partai & golongan yang merusak persatuan umat & agama Islam
Ibnu Jarir At-Thobari berkata: “Orang yang tersesat mereka meninggalkan agamanya dan sungguh partai dan golongan telah memecah belah agama telah diridhoi Allah untuk para hambaNya, sehingga sebagian menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Inilah yang dinamakan perpecahan, mereka bergolong-golong tidak mau bersatu, mereka mengerti agama yang benar, akan tetapi meninggalkannya dan memecah-belah.” (Tafsir At- Thobari8/78)
– Pemecah-belah umat bukan golongan Nabi
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Syaikh dari as-Sudi bahwa maksud ayat lastaminhum “…Wahai Nabi kamu tidak diperintahkan untuk memerangi mereka…”, lalu dihapus ketetapan ini dengan surat Al-Baqarah [2] : 92, dan Beliau diperintah memerangi mereka. Abdul Ahwash berkata: “Nabimu Nabi Muhammad berlepas diri dari umatnya yang berselisih (Durul Mansur 3/400).

ORGANISASI, PARTAI DAN HUKUMNYA

Organisasi ialah kumpulan beberapa orang yang mempunya tugas masing-masing dengan tujuan yang sama dan disusun secara berstruktur. Persatuan adalah gabungan dari beberapa bagian yang sudah bersatu dalam suatu lembaga. Himpunan adalah organisasi atau perkumpulan yang bersatu dalam satu wadah karena satu ideologi. (Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer : 1063).Yayasan ialah badan hukum yang tidak beranggota, ditangani oleh pengurus, didirikan dengan tujuan mengupayakan layanan dan bantuan sosal seperti sekolah, rumah sakit dan sebagainya (Hlm. 1727). Partai politik adalah kumpulan orang yang mempunyai asas, haluan, pandangan, serta tujuan yang sama di bidang politik (Hlm. 1099).
Dari keterangan di atas dikarenakan bahwa organisasi atau kelompok yang didirikan untuk urusan duniawi menurut asal hukumnya adalah halal, kecuali bila organisasi tersebut membawa mafsadah atau kerusakan pribadi, umat atau agama islam, sebagaimana kaidah usul yang mengatakan al-ashlu il-asyya’ ‘al-ibahah (asal segala sesuatu hukumnya mubah). Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS.Al-Baqarah [2] : 29)

HUKUM MENDIRIKAN ORGANISASI DAKWAH

Bagaimana bila mendirikan partai, jama’ah, golongan dengan tujuan berdakwah!?
Berikut ini jawabannya :
…Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Ruum [30] : 31-32)

Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak boleh bagi siapa pun mengangkat orang, mengajak umat untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selain Nabi dan ijma’ ‘ulama Sunnah. Adapun cirri ahli bid’ah mereka mengangkat pemimpin dari umat ini, atau membuat peraturan yang mengakibatkan umat berpecah-belah, mereka mencintai umat karena mengikuti peraturan golongannya dan memusuhi orang yang tidak mengikuti golongannya.” (Dar’ut ta’arudh 1/149). Selanjutnya beliau berkta: Ðan tidak boleh seorang pun membuat undang-undang yang dia menyenangi orang atau memusuhinya dengan dasar peraturannya, bukan peraturan yang tercantum dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 20/164).

Syaikh Sholih Fauzan (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) ditanya: “Kita sering mendengar istilah jama’ah-jama’ah (golongan-golongan) Islam pada zaman sekarang yang telah menyebar di dunia.
Dari mana istilah penamaan ini?” Beliau menjawab: “Rasulullah telah memberitahu kepada kita cara beramal, Beliau tidaklah meninggalkan sesuatu yang dapat mendekatkan umat ini kepada Allah melainkan beliau telah menjelaskannya, dan tidaklah meninggalkan sesuatu yang membuat manusia jauh dari Allah melainkan beliau telah menjelaskannya. Termasuk perkara yang kamu tanyakan ini, beliau bersabda (artinya): ‘Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian hidup (setelah aku meninggal dunia) akan menjumpai perselisihan yang banyak.’ Bagaimana cara menanggulanginya ketika peristiwa ini terjadi? Beliau berdabda: ‘Wajib bagimu berpegang teguh kepada Sunnnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku, hendaknya kamu berpegang kepadanya, dan gigitlah dengan gigi gerahammu, jauhkan drimu dari perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah tersesat.’ (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Al-Irwa’ : 2455).

Maka dari jama’ah yang ada, apabila dia berdiri diatas petunjuk Nabi dan para sahabatnnya, terutama Khulafaur Rasyidin dan abad yang mulia, maka jama’ah dan golongan dimana saja kita masuk di dalamnya, dan wajib kita bekerja sama dengan mereka. Adapun jama’ah yang menyelisihi petunjuk Nabi, kita wajib menjauhinya, walaupun dia mengatakan jama’ah islamiyah. Yang jadi ukuran bukan nama, akan tetap keadaan. Adapun nama memang banyak dan marak kita saksikan dimanamana, akan tetapi nihil dan bathil juga. Rasulullah bersabda: “Telah berpecah-belah orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan, dan orang Nasrani berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan berpecah-belah umat ini (islam) menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecual satu.’ Kami berkata: “Siapa dia wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ‘Orang yang berpijak semisal saya pada hari ini dan berpijak kepada Sunnah sahabatku.
Keterangan ini jelas dan gamblang. Jika kita menjumpai jama’ah dan ini tandanya, mereka mengikuti Sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, maka mereka golongan Islam yang benar. Adapun jama’ah yang menyelisih jalan ini, dan berjalan diatas jalan yang lain, jama’ah itu bukan golongan kita, dan kami pun bukan golongan mereka, kta tidak masuk di dalamnya, dan mereka pun tidak masuk golongan kita, mereka bukan dinamakan dengan jama’ah, akan tetapi mereka itu firqoh (golongan pemecah- elah) dari firqoh yang tersesat. Karena istilah jama’ah tidaklah ada melainkan di atas manhaj yang benar, yang manusia bersatu di atasnya, sedangkan kebathilan pasti memecah-belah dan menyekutukan Allah. Allah berfirman:“…dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)…(QS. Al-Baqarah [2] : 137) (Al-Ajwibah Al-Mufidah an As’ilatil Manhajihil Jadidah 6-8)

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid (anggota Kibarul ‘Ulama Saudi Arabia) berkata: “Tidak boleh diangkat seorang pun untuk mengajak umat ini menuju jalannya melainkan Nabi kita dan Rasul kita Muhammad. Barangsiapa yang mengangkat selain Nabi sebagai panduan hidup maka dia tersesat dan ahli bid’ah.” (Hukumul intima’ Ilal Firoq wal Ahzab wa Jama’at islamiyah :96-97)

Syaikh Abu Anas Ali berkata: “Sesungguhnya partai dan golongan yang memiliki peraturan yang menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah ditolak oleh ajaran Islam, karena tidak ada dalil dari Al Qur’an dan hadits yang membolehkan umat Islam berpartai dan bergolong-golong, justru sebaliknya kita jumpai banyak dalil yang mencela berdirinya berberapa partai dan golongan, misalnya firmanNya yang tercantum dalam surat Al An’am: 159 dan Ar Ruum: 32, bahkan dampak yang kita ketahui dengan adanya banyak partai dan golongan satu sama lain saling menjelekkan, mencaci, memfasikkan, bahkan boleh jadi lebih daripada itu, mengkafirkan yang lain tanpa dalil (Kaifa Nualiju Waqanal Alim 199-200).

BENARKAN DAKWAH TIDAK AKAN MAJU TANPA ORGANISASI ?

Syaikh Abu Anas Ali berkata: “Ada orang yang berkata: ‘Tidak mungkin dakwah akan tegak dan tersebar melainkan apabila di bawah naungan partai dan golongan. ‘ Maka Kami menjawab: ‘Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: ‘Pendapat ini adalah salah, bahkan sebaliknya dakwah menjadi kuat dan tersebat tatkala manusia kuat berpegang terguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah dari orang yang paling banyak mengikuti jejak Nabi dan para sahabat. Ketahuilah wahai para pemuda!….Sesungguhnya banyak jama’ah atau golongan adalah fakta yang menyakitkan dan bukan fakta yang menyehatkan. Saya berpendapat hendaknya umat Islam satu partai saja, yaitu yang kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.” (As-Shohwatul Islamiyah Dhowabith wa Taujihat oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: 258-259).

Syaikh ‘Utsaimin berkata: “Adapun umat yang berpecah-belah menjadi sekian banyaknya golongan sehingga masing-masing mengatakan dia yang palng benar, bukan hanya itu saja, bahkan mereka
menganggap sesat golongan lain, membid’ahkan golongan yang lain, membuat orang menjauhi kelompok lain, maka tidaklah diragukan lagi bahwa ini adalah pendiskreditan dan cacat bagi umat Islam. Ini merupakan senjata yang paling kuat untuk membinasakan kebangkitan Islam yang penuh barokah ini. Maka perlu kami nasehati saudara-saudara kami, hendaknya kalian bersatu, hindari perpecahan, kembali kepada jalan yang haq. Inilah kewajiban setiap umat Islam. (Kajian Ibnu ‘Utsaimin edisi I: 31).

Al Muhaddits Syaikh Al Albani ketika ditanya: “Bagaimana menurut pandangan syariat Islam, kaum muslimin bergolong-golong, berpartai yang berbeda, berorganisasi Islam, padahal satu sama lain berbeda sistemnya, caranya, seruannya, aqidahnya dan berbeda pula landasan yang menjadi pegangan mereka, padahal golongan yang benar hanya satu sebagaimana disebut di dalam hadits yang shahih?” Beliau menjawab: “Tidaklah ragu bagi orang yang berilmu Al Qur’an dan Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman salafush shalih yang diridhoi Allah, bahwa berpartai, bergabung dalam kelompok-kelompok yang berbeda pola berfikirnya, ini adalah yang pertama. Dan manhaj atau cara serta sarana yang berbeda pula, ini yang kedua, maka tidaklah Islam membolehkan hal ini sedikit pun, bahkan Allah Pencipta kita melarang kita berpecah-belah bukan hanya satu ayat, misalnya surat Ar Ruum: 32, Hud:118-119. Didalam ayat ini Allah tidak mengecualikan perselisihan yang pasti terjadi, (karena ini merupakan kehendak kauni yang harus terjadi, bukan kehendak syar’i), maka Allah akan mengecualikan golongan yang dirahmati, yaitu: ‘ illa man rohima robbuka’ artinya: “Kecuali orang yang dirahmati oleh Rabbmu.” (QS. Hud [11] : 119) (Fatwa Syaikh Al Albani rekaman kaset nomor: 608, atau lihat Kitab Kaifa Naufal Waqianul Alim: 201)

Syaikh Ibnu Jibrin tatkala ditanya: “Bagaimana hukumnya umat Islam mendirikan partai politik?” Beliau menjawab: “Islam mengajak kita bersatu, dan melarang kita berpecah-belah, orang Islam dilarang
berpecah-belah berdasarkan firmanNya didalam surat Al Imran: 105, surat Ar Ruum: 31-32.

Dari keterangan ulama Sunnah diatas, nampak jelas bahwa kenyataan yang ada, partai dan golongan yang landasannya menyimpang dari Sunnah tidaklah menjadi sebab berkembangnya dakwah islamiyah,
akan tetapi sebaliknya merusak aqidah umat. Berapa banyak para rokoh partai menghalalkan yang haram, menghalalkan bid’ah dan syirik, loyal dengan ajaran selain Islam karena ingin mencari pengikut dan ingin mencari kursi. Akan tetap sebaliknya berdakwah yang dilakukan oleh perorangan dari kalangan ulama Sunnah yang kembali kepada pemahaman salafush sholih, mereka berhasil, mereka bersatu, walaupun lain tempat dan waktu.
Lihat dakwah Imam Ahmad dan ahli hadits lainnya, ahli fiqih adan ahli tafsir salafush shalih, Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab dan ulama Sunnah yang baru saja meninggal dunia, misalnya Ibnu Baz, Al Albani, Ibnu ‘Utsaimin dan lainnya baik yang telah meninggal dunia atau yang masih hidup, dakwah mereka nyata, menerangi penduduk dunia, rahmatan lil ‘alamiin. Mereka berhasil memberantas kemusyrikan dan kebid’ahan, penyakit yang sangat berbahaya di dunia yang merusak tauhid dan sunnah, padahal mereka tidak mendirikan partai, organisasi dan jama’ah yang tersesat.

BAHAYA FANATIK GOLONGAN

Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madhkholi berkata: “Sungguh sebagian ulama telah menjelaskan kerusakan yang disebabkan oleh manusia yang fanatik kepada madzhab-madzhab atau golongan, diantaranya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, beliau menjelaskan kerusakan sebagai berikut:
• Menentang nash yang kuat dari Al Qur’an dan Sunnah, karena fanatik kepada golongan , dan kadang-kadang merasa cukup dengan pendapat saja. Penulis berkata: “Memang demikian kenyataannya, banyak pengikut terkena sihir dan tertipu oleh pemimpinnya, sehingga agama adalah apa kata pemimpinnya.”
• Mengambil hadits lemah dan palsu sebagai dasar untuk mempertahankan pendapatnya, bahkan mereka berdusta dan berani membuat hadits untuk mendukung pendapatnya.
• Mereka mendahulukan pendapat orang yang dianggap berilmu pada zaman sekarang daripada ilmu ulama salafush shalih. Penulis berkata: “Benar, karena ulama salaf pada zaman dahulu dianggap tidak tahu fiqhul waq’ atau politik, dan dituduh dengan tuduhan jelek.”
• Terjerat oleh pendapat perorangan, dan tidak mau mengambil ilmu atau kebenaran madzhab yang lain, tidak mau membaca nasehat ulama, dikarenakan fanatic kepada pemimpinnya. Penulis berkata: “Memang demikian, tidak sedikit pemimpin yang rusak aqidahnya dan moralnya, akan tetapi karena jadi pemimpin, menjadi cermn hidup oleh pengikutnya.”
• Umumnya ketetapan atau anggaran dasar setiap golongan sunyi dari dalil syar’I bahkan membencinya. Penulis berkata: “Benar, bagaimana tidak, karena tim perumusnya dari berbagai macam aliran, sedangkan ketetapan diambil dengan cara suara terbanyak, mana yang banyak itulah yang menang.”
• Tersebarnya taqlid, jumud dan tertutupnya pintu ijtihad.
(Diringkas dar Al Taashub Al Dzamim wa Atsarohu oleh Dr. Robi’bin Hadi Umer Al Madkholi 5-15)

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid menjelaskan ada empat puluh satu bahaya dengan berdirinya partai dan golongan Islam di antaranya:
• Mereka mengikat wala’ dan bara’ atau menyenangi dan membenci orang karena golongan.
• Kebanyakan kelompok/golongan yang menamakan dirinya kelompok/golongan Islam merusak Islam, lihat kelompok Baha’iyah dan Qodyahiyah, dst.
• Kami bertanya: “Apakah setiap partai membolehkan apabila ditandingi oleh partai yang lain di dalam suatu negeri? Jika dijawab boleh, ini adalah jawaban yang tidak masuk akal, dan tidak ingin umat ini menjadi baik. Jika tidak boleh, bagaimana membolehkan dirinya dan melarang orang lain? Padahal semua partai menurut dugaan mereka ingin membela Islam.”
• Berapa banyak partai dasarnya hanya politik belaka, sunyi dari kaidah Islam, yang akhirnya merusak Islam dan dakwah Islam menjadi suram.
• Dengan adanya beberapa golongan di dalam tubuh kaum muslimin menunjukkan adanya perpecahan di dalamnya.
• Dengan banyaknya partai akan mengebiri aktivitas amal islami.
• Masing-masing partai dan golongan menyembunyikan kebenaran Islam karena penyakit fanatik golongan.
• Partai dan golongan pasti merusak persaudaraan umat Islam.
• Dengan berdirinya banyak golongan pasti mencela dan memberi gelar yang jelek kepada golongan lan. Ini adalah cirri orang jahiliah perusak Islam.
• Partai dan golongan dibangun atas dasar suara yang banyak, tidak mau dikritik dan dibantah.
• Pada awalnya partai itu dibangun untuk mewujudkan amal Islami agar menjadi insan yang bertauhid, akan tetapi pada umumnya berubah menjadi bentuk yang aneh pada tubuh umat, karena ingin menyaingi partai yang lain.
• Bahaya yang paling nampak dengan berdirinya golongan dan partai adalah lenyapnya dakwah menuju ke jalan Allah sesuai dengan Sunnah Nabi.
• Dakwah yang dilakukan partai dibangun atas dasar pola berfikir dan rancangan kelompoknya.
Inilah sebagian bahaya akibat munculnya banyak partai dan golongan.
• Bagi yang ingin mengetahui bahaya yang lain, silakan baca Kitab Hukmul intima’ Ilal firoq Wal Ahzab Wal Jama’at Al Islamiyah oleh Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid hlm. 135-152.

UMAT ISLAM PASTI BERPECAH-BELAH AKAN TETAPI WAJIB BERSATU

Fitnah yang muncul pada ahkir zaman bahwa umat islam berpecahbelah menjadi beberapa golongan, masing-masing mengaku kelompoknya yang benar, seperti halnya orang Yahudi dan orang Nasrani, mereka berpecah-belah dan mengaku bahwa hanya golongannya yang benar.

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” (QS. Al Baqarah : 113)

Adapun dalil yang menjelaskan bahwa umat Islam pada akhir zaman pasti berpecah-belah di antaranya hadits Anas bin Malik, Nabi bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh satu, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua, semuanya dineraka kecuali satu, dan dia adalah jama’ah.” (HR. Ibnu Majah: 3989) dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di Shahih Ibnu Majah 2/364

Yang dimaksud jama’ah di dalam hadits ini adalah kembali kepada yang haq, atau sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi yaitu orang yang berpijak kepada Sunnah Nabi pada hari itu dan Sunnah para Sahabat. Perpecahan umat Islam ini merupakan takdir kauny (kehendak Allah untuk menciptakan) bahwa pada akhir zaman umat Nabi Muhammad pasti berpecah-belah, akan tetapi bukan berarti kita boleh berpecah-belah, sebagaimana dalil yang selalu dikumandangkan oleh ahli bid’ah dalam rangka menutup aib mereka, mereka berdalil dengan hadits palsu “Ikhilafu umati rahmat” (perpecahan umat ini adalah rahmat). Ketahuilah perkataan itu bukan hadits Rasulullah akan tetap hadits palsu. Syaikh Al Albany berkata: “Para pakar ahli hadits telah mencoba mencari sanad hadits ini akan tetapi tidak menemukannya.” (lihat Silsilah Ahadits Dho’ifah 1/141)

Dalil mereka ini tidak masuk akal, karena mustahil orang yang berselisih dan berpecah-belah hidupnya penuh dengan rahmat. Bukankah pasangan suami istri bila berselisih terancam jwanya, bagaimana berselisih dalam hal aqidah dan ibadah merasa rahmat!? Oleh karena itu ahl bid’ah dan orang yang fanatik golongan merasa sakit hatinya bila dikritik kesalahannya. Ketahuilah perpecahan umat ini merupakan ujian bagi orang yang beriman, hendaknya mereka memilih jalan yang benar dan meninggalkan kelompok tersesat lainnya.

Adapun dalil wajibnya kita bersatu, tidak boleh berpecah-belah dan bergolong-golong :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran [3] : 103)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhoi kami tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara: Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan sesuatu kepadaNya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah,… (HR. Muslim: 3236).

BAGAIMANA AGAR UMAT ISLAM BERSATU ?

Ayat dan hadits di atas menunjukkan cara untuk menyatukan umat Islam, yaitu kita harus kembali kepada tali Allah, sedangkan makna Al Qur’an dan Sunnah sebagaimana dijelaskan di dalam hadits: “Kitab Allah adalah tali Allah yang menjulur dari langit ke bumi.” (Lihat Silsilah Hadits As Shahihah 5/37).

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa As Sunnah termasuk tali Allah, sabda Nabi: “Aku tinggalkan dia perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah nabiNya.” (HR. Imam Malik 1395 bersumber dari Umar bin Khattab dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam kitabnya Manzilatus Sunnah fil Isla 1/18).

Umat Islam tidak cukup hanya berpegang kepada Al Qur’an dan hadits yang shahih untuk menyatukan umat, karena ahli bid’ah pun mengaku berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah, akan tetapi mereka berselisih dan berpecah-belah, karena itu tidaklah umat Islam akan bersatu melainkan apabila di dalam berpegang kepada Al Qur’an dan hadits yang shahih disertai dengan pemahaman salafush shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in dan ahli hadits. Sebab jika tokoh umat memahami dalil nash dengan pemahaman salafush shalih niscaya mereka tidak akan berpecah-belah walaupun mereka berselisih dalam suatu masalah, karena khilaf mereka jatuh pada masalah ijtihadiah.

Adapun dalil wajibnya kita memahami dalil nash dengan pemahaman salafush shalih adalah sebagai berikut:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selamalamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah [9] : 100)

Dalam ayat di atas Alloh memuji sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang sekarang ini dikenal dengan nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau pengikut salafush shalih.
Rasulullah bersabda: “Maka barangsiapa yang menjumpai itu (perpecahan umat) hendaknya dia berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para kholifah yang menunjukkan kepada kebaikan dan mendapat petunjuk, gigitlah Sunnah ini dengan gigi geraham. (HR. Tirmidzi 2600 dan lainnya dishahihkan oleh Syaikh Al Albani lihat Silslah As Shahihah 6/610).

Rasulullah tidak hanya berpesan kepada umatnya agar berpegang kepada Sunnahnya saja, akan tetapi kepada Sunnah sahabatnya pula. Dari Abu Burdah, Rasulullah bersabda: “Dan sahabatku adalah orang yang dapat dipercaya untuk umatku, maka jika mereka telah pergi, maka akan datang apa yang telah dijanjikan kepada umatku.” (HR. Muslim 4596). Imam Nawawi berkata: ‘Adapun makna “apa yang telah dijanjikan” yaitu munculnya bid’ah, perkara baru dalam urusan agama, dan munculnya fitnah.” (” yaitu munculnya bid’ah, perkara baru dalam urusan agama, dan munculnya fitnah.” (Syarah Imam Muslim 16/83)

Selanjutnya orang yang menolak pemahaman para sahabat maka akan diancam menjadi orang yang tersesat. “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ [4] : 115) Syaikh Al Albani berkata: “Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah, bahwa umat Islam pada zaman sekarang kecuali sedikit di antara mereka- tatkala meraka tidak berpegang teguh kepada kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka tersesat dan hina, yang demikian itu karena mereka berpegang kepada pendapat pemimpin mereka. Tatkala terjadi perselisihan, pendirian mereka pada dasarnya kembali kepada pemimpinnya mereka. Jika ada ayat yang cocok, mereka ambil, jika tidak, mereka tolak. Bahkan sebagian mereka berkata: “Setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka, maka dimansukh (dihapus).” Semoga Allah merahmati Imam Malik, beliau berkata: “Dan tidak akan baik umat pada akhir zaman ini melainkan apabila mereka kembali sebagaimana ulama pertama memperbaiki umat.” (Hajjatun Nabi 1/17).

Kesimpulannya para tokoh masyarakat hendaknya mengajak umat agar kembali kepada pemahaman salafush shalih tatkala mengambil dalil dari Al Qur’an dan Sunnah, agar umat tetap bersatu dan tidak timbul perasaan benar sendiri dan meyalahkan orang yang benar. Tokoh umat hendaknya hati-hati dalam memimpin uamt jangan sampai menjadi penyebab kerusakan umat. Dari Tsauban, Rasulullah bersabda:
“وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي َاْلأَئِمَةَ الْمُضِلِّينَ
Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Tirmidzi 2155 dishahihkan oleh Syaikh Al Albani Shahihul Jami’ 2316). Tokoh umat hendaknya takut di hadapan pengadilan Allah pada saat pengikut mengadu pada hari kiamat. Baca Surat Ibrahim [14] : 21-22 dan surat Ghofir [23] : 47-48, surat As Saba’ [34] : 31-33. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada kita semua, menjadi pemimpin yang mengajak umat kepada yang haq yang diridhoi oleh Allah.

Disarikan dari tulisan Ustadz Aunur Rofiq Ghufron

Berikut ini kajian yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsary tentang Perpecahan Umat :

1. Perpecahan Umat 1
2. Perpecahan Umat 2
3. Perpecahan Umat 3
4. Perpecahan Umat 4

Semoga bermanfaat. Amin.

4 comments on “Perpecahan Umat – Tafsir QS. Al-An’am [6] : 159

  1. S U R O N O S Pd. mengatakan:

    Tapi kenapa di Indonesia banyak kelompok-kelompok pengajian yang membanggakan golongannya sendiri, dengan alasan beda pendapat itu rochmatan lil alamin. Bukan beda pendapat yang macam itu yang sebenarnya dimaksudkan oleh Allah tapi beda pendapat yang semisal seorang membuat meja yang lain membuat mobil, trus yang lainnya menciptakan peralatan pertanian dan sebagainya. Mereka nggak sadar banyak berbantah akhir dari keseluruhanya sepi dari kebijakan. wallahu a’lam bi showab. Urun rembuk Ustad.

    • Arif Hakim mengatakan:

      adapun perpecahan itu adalah keniscayaan. nabi telah menyebutnya. namun persatuan adalah keharusan. upaya menuju kesatuan dimulai dg ilmu. ta’lim.

  2. ra vi mengatakan:

    memang ajaran salafus sholeh terdahulu itu sesuai dengan sunnah, tetapi mengapa kita sekarang mesti melabeli nama kelompok kita ini Salafi ?
    apa tidak cukup dengan golongan muslim saja; sebab kita nanti terkena di ayat al an’am 159 ini , sebab orang yang membuat kelompok dalam islam maka rasulullah sholallahi alaihi wasalam berlepas tangan dari kita.

    tolong bantuan penjelasan dari para ustad.. jazakumullah khairan

    • Arif Hakim mengatakan:

      Walau syaikh Al Albani membolehkan sebutan salafi, tidak berarti itu keharusan. Ustadz Abdurrahem Green pernah menjelaskan bahwa sebutan2 semacam itu bisa menjauhkan sesama Muslim. Kami lebih sepakat mengembalikannya kpd ‘Islam’ saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s