MUSLIMIN ALJAZAIR BERSIMBAH DARAH, SEBUAH PERJUANGAN YANG TERNODA


Penulis: Ust. Ja’far Umar Thalib
Pengantar & Footnote : Ibrahim Abu Abdillah

Artikel ini ditulis di Majalah Salafy edisi IX/Rabi’uts Tsani/1417/1996, jauh sebelum munculnya LJ. Sebagai sebuah pelajaran berharga yang patut menjadi renungan dan ibrah bagi segenap orang yang ingin meniti jalan dakwah Salafiyyah yang senantiasa penuh dengan ujian dan cobaan. Syaithan tentu tak akan pernah ridha ketika seorang hamba berusaha menapaki dan meniti jalan dakwah yang mulia ini. Ujian duniawi akan selalu membisiki. Kadang tanpa kita sadari si jahat berupaya keras untuk menunggangi. Saling nasehat menasehati adalah tuntutan syar’i sebagai pertanda saling mencintai, tentu hanya karena Allah-lah niat suci yang melandasi. Jangan sampai seorang muslim terjatuh dan terperosok ke lubang yang sama, mengulangi suatu kesalahan yang pernah terjadi. Sejarah adalah pelajaran yang sungguh sangat berharga. Berupaya menapaktilasi jalan hidup orang-orang terdahulu yang Allah muliakan karenanya serta menjauhi dan menghindari penyimpangan dan kesesatan para manusia yang jauh dari petunjuk dan cahaya kebenaran.
Benarlah apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil hafidhahullah bahwa: “Politik adalah jebakan buat para ulama dan perangkap bagi para da’i”. Jazahumullahu khairan bahwa Syaikh Rabi’ hafidhahullah pernah mengingatkan dengan keras (ketika kita berkiprah di Ambon) bahwa kita telah bergeser dari Jihad yang Salafy ke Jihadnya Hizbi, Jihad Ikhwani. Walhamdulillah, tidak ada yang merasa berat untuk mengakui, bertaubat dan rujuk kepada kebenaran.

ALJAZAIR adalah salah satu negara di Afrika Utara. Aljazair dijajah oleh Prancis yang membawa budaya dan agamanya di tengah-tengah kaum muslimin yang berbahasa Arab, sehingga gerakan Prancisisasi dan kristenisasi berjalan gencar di sana. Keadaan Aljazair kurang lebih sama dengan keadaan negara-negara kaum muslimin di dunia ini yang dijajah oleh imperialisme barat.

Jum’iyah Al-Ulama AI-Muslimin Al-Jazairiyyin dan perjuangannya
Pada tahun 1931 Syaikh Abdul Hamid Badis bersama para ulama Aljazair lainnya mendirikan organisasi Jum’iyah Al Ulama Al Muslimin Al Jazairiyyin dan berjuang untuk membangun dakwah salafiyah di Alja­zair. Ide pendirian organisasi ini timbul pada tahun 1913 yang dikemukakan oleh Ibnu Badis dalam pertemuan dengan temannya dari Al Jazair yang bernama Syaikh Muhammad Basyir Al Ibrahim. Pertemuan ini berlangsung di Madinah. Syaikh Basyir – beliau juga seorang ulama Aljazair – menceritakan bahwa rekannya – Ibnu Badis – mengajak berdiskusi dengannya setiap malam setelah shalat ‘Isya di masjid Nabawi. Beliau duduk di rumah Basyir sampai waktu berangkat shalat subuh dan berjama’ah di masjid Nabawi. Demikianlah kegiatan beliau setiap malam selama tiga bulan kunjungan Ibnu Badis di Madinah. Pada saat itu keadaan di Aljazair diliputi berbagai kebodohan terhadap agama, hingga bid’ah, syirik dan berbagai penyimpangan lainnya telah membudaya di sana. Thariqat sufiyah menguasai kehidupan keagamaan di Aljazair. Syaikh Abdul Hamid Badis kemudian mengibarkan bendera dakwah salafiyah dengan menyerang ahlu bid’ah dan para penyeleweng agama dalam majelis-majelis pengajian beliau di Aljazair.
Pada tahun 1925 beliau menerbitkan majalah Al Muntaqid, yang dengannya beliau menjelaskan manhaj salafush shalih dan membantah berbagai bid’ah yang sedang berkembang di sana. Kemudian beliau juga me­nerbitkan majalah Asy Shihab. Melalui majalah ini beliau berupaya mengumpulkan dukungan berkenaan dengan upaya perbaikan umat Islam di Aljazair dengan men­dirikan Al Jum’iyah al Ulama Al Jazairiyyin.
Ide pendirian tersebut mendapat sambutan hangat dari para ulama seperti Syaikh Thayyib Al Aqabi, Syaikh Mubarak Al Miliy, Syaikh Ar Rabbiy At Tabasiy dan Iain-lain. Pada tahun 1931 melalui majalah Asy Shihab keluarlah undangan pertemuan di Aljir (ibukota Al Jazair) pada tanggal 5 Mei hari Selasa bertepatan dengan tanggal 17 Dzulhijah 1349 Hijriyah. Dalam pertemuan tersebut dibentuklah organisasi yang diberi nama Jum’iyatul Ulama Al Jazairiyin. Organisasi ini diketuai oleh Syaikh Abdul Hamid Badis dengan wakilnya Syaikh Muhammad Basyir Al Ibrahim. Mereka amat gencar mendidik kader-kader dengan mendirikan madrasah-madrasah di seluruh Aljazair, menerbitkan buku-buku agama dan terus menerbitkan majalah guna menyebarkan pemahaman Salafush Shalih Ahlus Sunnah wal Jama ‘ah dan meng-counter berbagai pemahaman dan pengamalan bid’ah di kalangan umat Islam di Aljazair. Demikian juga mereka berjuang menghadang gerakan kristenisasi di kalangan muslimin di Aljazair. Dakwah salafiyyah hidup subur di Aljazair, sehingga Ahlul bid’ah merasa sangat terancam dengan dakwah ini.
Lima tahun setelah berdirinya organisasi ini Syaikh Muhammad Basyir Al Ibrahim membentangkan pro­gram pokok organisasi ini sebagai berikut:
1. Memerangi thariqat sufiyyah, karena tidak akan sempurna upaya perbaikan keadaan umat di Al Jazair selama masih adanya thariqat sufiyyah.
2. Menyebarkan upaya pengajaran di kalangan anak kecil dan orang dewasa yang terbebas dari campur tangan pemerintah Prancis.
3. Menghadang laju kristenasasi dan komunis di Aljazair.
Dakwah salafiyyah di Aljazair dimulai oleh para ulama tersebut di atas, namun kemudian redup sepeninggal mereka, khususnya setelah kemerdekaan Aljazair dari Perancis.

Gerakan Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh di Aljazair
Dengan makin melemahnya dakwah salafiyah, maka tumbuhlah dakwah khalifiyyah Ikhwanul Muslimin di Aljazair. Umat Islam mulai lalai dari kewajiban menuntut ilmu Salafus Shalih sebagaimana mereka pernah diajari oleh para ulama yang telah meninggal tersebut. Pada saat demikian mulailah tumbuh gerakan Ikhwaniyyah.
Mayoritas kaum muslimin yang bodoh menyambut gembira gerakan ini, hingga mereka seolah-olah lupa terhadap dakwah salafiyyah. Bersamaan dengan ini tumbuh dan berkembang pulalah gerakan Jama’ah Tabligh dari India. Tokoh yang membawa dakwah Ikhwaniyyah ini adalah seorang budayawan Aljazair yang bernama Malik bin Nabi rahimahullah. Majalah Al Bayan, London-Inggris, memuat sejarah tokoh ini yang ditulis oleh Muhammad Al ‘Abdah dari edisi Nomor 14 tahun 1409 H/ 1988 M sampai dengan Nomor 23 tahun 1410H/1989M.
Beberapa saat setelah perkembangan dakwah Ikhwaniyyah, lahirlah dari mereka gerakan takfir (pengkafiran kaum muslimin), karena pengaruh buku-buku Sayid Qutub rahimahullah. Di samping itu Ikh­wanul Muslimin akhirnya terpecah menjadi dua: satu golongan dinamakan Ikhwan ‘alamiyyin yang menginduk pada Ikhwanul Muslimin di Mesir dan satu golongan lainnya dikatakan Iqlimiyyin yang berdiri sendiri terpisah dari induknya di Mesir. Golongan kedua ini dinamakan juga Ikhwanul Muslimin Aljaz’arah. Bersamaan dengan itu timbul pula gerakan sufiyah yang bernama Jama’ah Tabligh dari India. Kemudian ketika bangkit dakwah kaum Rafidlah (Syi’ah ekstrim) di Iran yang dipimpin oleh Khumaini, Ikhwanul Muslimin secara internasioanl menyambut dan mendukung revolusi ini. Termasuk pula di Aljazair, kaum Rafidlah dan dakwahnya masuk dengan sambutan yang hangat dari Ikhwanul Muslimin dengan alasan menyambut semangat revolusi Islam.
Sementara itu aqidah yang mendominasi gerakan Ikhwanul Muslimin adalah aqidah Asy-’Ariyyah. Ikh­wanul Muslimin Aljaz’arah lebih kuat semangat fanatismenya dengan Asy-’Ariyyah dibandingkan dengan Ikhwanul Muslimin ‘Alamyin.
Pada tahun 1400 H/1979 M tampillah seorang tokoh yang bernama Ali Bin Haj atau Ali Balhaaj. la adalah seorang orator yang mengajarkan aqidah dengan manhaj (sistem) Asy-’Asyariyah dan kemudian tampil dengan sedikit pemahaman salafiyah, sehingga yang ditonjolkan dalam dakwah Balhaaj ini bahwa Salafiyah adalah dakwah dalam bidang aqidah semata. Pada waktu itu Ali Balhaaj masih sangat keras pertentangannya dengan Abbas Madani, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin lainnya, sementara dakwah salafiyah mulai merebak di kampus-kampus perguruan tinggi dan di masjid-masjid di Aljazair. Dakwah salafiyah ini dibawa oleh para alumni Universitas Islamiyah Madinah Nabawiyah. Akan tetapi, kemudian Ali Balhaj ditokohkan sebagai pimpinan dakwah salafiyyah. Hal ini merupakan awal dari malapetaka atas dakwah Salafiyyah di sana. Seseorang yang sangat labil dalam berpegang dengan pemahaman salafiyyah justru dipercaya memimpin dakwah yang sangat berat dan besar musuhnya. Apalagi dia amat kuat latar belakang nasionalisme, Asy ‘Ariyyah dan semangat Ikhwanul Musliminnya.
Pada tahun 1401 H/1980 M, muncul pula tokoh lain yang cenderung kepada jihad bersenjata, yaitu Mus­tafa Abu Ya’ la dengan kelompok barunya Al Jama ‘ah Al Islamiyyah. Kelompok ini tumbuh di Mesir dengan nama populernya Jama ‘atul Jihad dan menyebar hampir di seluruh negara Arab.
Pada tahun itu pula terjadi demonstrasi besar-besaran di kampus Universitas Kampus Aljier yang diadakan oleh berbagai kelompok Ikhwanul Muslimin tersebut yang menuntut diterapkannya syari’at Islam di Aljazair. Pada waktu itu Ali Balhaaj menampakkan sikap tidak setuju terhadap kegiatan demonstrasi ini dengan alasan demonstrasi tidak ada dalilnya di dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Dan dalam perkara ini, dia benar dan menampakan sikap salafinya, akan tetapi dalam banyak pidatonya, kemudian dia menampakkan sikap seolah-olah menyetujui kegiatan demonstrasi ter­sebut. Hal ini dikarenakan labilnya pemahaman dia terha­dap manhaj salaf, sehingga ia hanyut dengan berbagai pidato agitasi politik. Akhirnya pemerintah menangkapnya bersama para agitator lainnya dan menjebloskan mereka ke penjara. Setelah itu dakwah di Aljazair diberangus akibat peristiwa demontrasi dan penangkapan tersebut. Begitu pula dakwah agitasi politik terhenti dengan berbagai malapetakannya.

Dakwah Salafiyyah bangkit kembali
Dengan diberangusnya dakwah agitasi politik dan dijebloskannya para tokoh dakwah tersebut ke penjara, orang mulai menyadari betapa butuhnya umat ini akan ilmu tentang agamanya. Para dai salafiyyin kembali melancarkan upaya penyebaran ilmu agama, sehingga dengan demikan mulailah semarak di Aljazair semangat menuntut ilmu agama di masjid-masjid dan di halaqah-halaqah. Para dai salafiyin menyebarkan dakwah salafiyah dengan menyebarkan ilmu di seantero negeri yang merupakan negara terluas kedua di Afrika, sehingga semangat mencintai ilmu sangat tinggi dan meluas.
Diceritakan oleh Abdul Malik bin Ahmad bin Al Mubarak Ramadhani Aljazairi – seorang thalibul ‘ilmi – bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany hafidhahullah di Amman, Yordania dalam suatu majelis mendapat telepon dari Aljazair sebanyak lima puluh kali yang menanyakan berbagai masalah dan meminta nasihat. Penyebaran kitab-kitab ahlus sunnah semakin gencar melalui berbagai pameran kitab yang dibanjiri oleh thulabul ‘ilmi dan juga melalui pembagian kitab secara gratis dari kedutaan Saudi Arabia. Para alumnus Universitas Islam Madinah juga membawa kitab-kitab ulama ahlus sunnah sebagai rujukan. Hal ini semua semakin memperbesar penyebaran ilmu dan pemahaman sala­fiyyah. Akibatnya berbagai kelompok hizbiyyun terpaksa juga membuka majlis-majlis ilmu walaupun sebelumnya mereka amat sinis terhadap ilmu dan ahlul ilmu. Kaum sufiyyah semakin terjepit, sehingga mereka tidak berani lagi terang-terangan dalam menyatakan pemahaman dan keyakinannya. Kaum atheis sosialis juga semakin tidak berdaya menghadapi semangat yang amat besar dari umat Islam untuk menuntut Ilmu agama.
Abdul Malik Ramadlani Aljazairi menceritakan bahwa satu majlis ilmu di masjid dihadiri oleh dua ribu orang dalam keadaan membawa kitab, setiap yang hadir siap untuk belajar dengan serius. Keadaan demikian terus berlangsung sampai segenap sistem masyarakat dan ne­gara terpengaruh olehnya. Diceritakan bahwa pada satu daerah di Aljazair sebelah barat telah di hancurkan enam puluh kubah yang dibangun di atas kubur dengan dibantu oleh para pejabat pemerintah setempat. Di kantor-kantor pemerintah ditegakan shalat berjamaah pada jam-jam dinas. Pemerintah menetapkan peraturan yang mewajibkan setiap kantor usaha menyediakan masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Tempat-tempat mesum semakin sedikit, bahkan pemerintah menghukum orang Islam yang terang-terangan tidak berpuasa di siang hari pada bulan Ramadlan dengan hukuman resmi. Di parlemen mulai diperdebatkan dengan terbuka undang-undang pelarangan khamer, olah raga di tempat umum bagi wanita dan berbagai permasalahan yang sesuai dengan syariat Islam.
Tentara yang semula dilarang memelihara jenggot, mulai sebagian mereka menumbuhkan jenggot. Jilbab untuk muslimah semakin memasyarakat, pakaian yang melambangkan keIslaman seperti jubah dan ‘imamah bagi lelaki bukan barang asing lagi. Hal ini semua adalah merupakan barakah yang Allah turunkan dengan sebab dakwah salafiyah mengajari umat ilmu tentang Qur’an dan Sunnah dan membangkitkan semangat beramal dengannya serta memberantas bid’ah, syirik dan kejahilan. Keadaan ini terus berlangsung selama lima tahun dan dakwah salafiyah tidak diganggu atau dikotori oleh para da’i agitator semacam Ali Balhaj, ‘Abbas Madani dan kawan-kawannya, karena mereka semua meringkuk di penjara dan orang pun mulai melupakan mereka.
Akhirnya, kaum sosialis yang memegang jabatan-jabatan tinggi di pemerintahan mulai berfikir untuk membendung kemajuan dakwah salafiyah ini, karena mereka merasa sangat terancam dengan keruntuhan. Mereka paham bahwa dakwah ini tidak mungkin terbendung, kecuali dengan para tokoh singa podium yang dapat memutar arus kebangkitan Islam ke arah agitasi politik, sehingga dapat dengan mudah ditumpas oleh para musuh Islam yang tetap bercokol di jabatan-jabatan tinggi nega­ra. Pilihan pun jatuh pada alternatif yang paling ringan resikonya bagi musuh Islam itu yaitu dengan membebaskan para tokoh agitator yang sedang meringkuk di penjara seperti Ali Balhaj dan kawan-kawannya. Ini adalah sekenario mereka dalam upayanya menghancurkan dakwah salafiyah di Aljazair. Dari sinilah bermula kembali malapetaka atas kaum muslimin di Aljazair.

Kebangkitan Kembali Dakwah Agitasi Politik
Suasana kehidupan dalam penjara bagi Ali Balhaj dan kawan-kawannya adalah suasana menumpuk kebencian dan dendam atau dalam istilah populernya adalah Barisan Sakit Hati (BSH). Semangat kebencian dan dendam semakin tinggi, karena sehari-harinya mereka melahap buku-buku karya Sayid Quthub, Hasan Al Banna, ‘Abdul Qadir ‘Audah, Muhammad Al-Ghazali rahimahumullah wa ghafarahum (semoga Allah merahmati dan mengampuni mereka). Juga buku-buku karya Doktor Yusuf Qaradlawi hadanallahu wa iyyahu (semoga Allah menunjuki kita dan dia). Sehingga ketika pada akhir tahun 1987 M/1407 H Ali Balhaj dan kawan-kawannya keluar penjara, mereka mulai bangkit kembali melancarkan dakwah agitasi politik. Abbas Madani yang semula berselisih dengan Balhaj, bersatu demi tujuan dan pro­gram yang sama. Ia dan Madani adalah termasuk tokoh yang menyeru kepada persatuan Sunnah-Syi’ah sebagaimana umumnya para tokoh Ikhwanul Muslimin. Kedua orang ini segera membonceng massa dakwah salafiyah, hingga terjadilah perpecahan di antara kaum salafiyyun karena termakan oleh agitasi Balhaj Cs.. Kaum salafiyyun sebenarnya banyak yang menyadari terjadinya penyimpangan jalannya dakwah salafiyah yang sedang dikendalikan oleh tokoh agitator ini. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya, yang termakan oleh agitasi politik lebih banyak sedangkan salafiyyin yang menyadari penyimpangan itu amat sedikit.
Majelis-majelis ilmu yang penuh dengan pengunjung dijadikan ajang pelampiasan kebencian dan dendam terhadap pemerintah. Ummat digiring menuju lubang kebinasaan yang mengerikan. Di atas mimbar-mimbar agitasi politik inilah, ilmu dan ulama Ahlus sunnah dilecehkan. Rakyat dijejali oleh kebencian dan kecurigaan terhadap pemerintah. Sehingga yang berkembang adalah sikap emosional dan mengikuti hawa nafsu tanpa bimbingan ilmu dan manhaj yang benar. Dengan demikian, Aljazair mulai dibayangi kerusuhan dan kegoncangan politik, sosial, budaya dan ekonomi. Semua ini merupakan makar kaum sosialis komunis terhadap Islam dan kaum muslimin umumnya dan terhadap dakwah salafiyyah dan salafiyyin khususnya.
Pada tahun 1989, melalui plebisit umum, pemerintah mengganti undang-undang dasar negara lama dengan undang-undang dasar baru yang diwarnai oleh liberalisme murni. Hal ini berarti memberi peluang lebih luas bagi dakwah agitasi politik, karena negara me-
ngakui dan memberi ijin berdirinya partai-partai politik. Dengan demikian dakwah agitasi politik yang semula hanya membonceng di berbagai majelis ilmu salafiyyin sekarang mendapat kesempatan untuk tampil dengan wadah yang resmi. Dalam suasana demikian inilah berdiri partai FIS (Front Islamic de Sault) di Aljazair yang didirikan oleh Abbas Madani, Ali Balhaj, Bin Azus dan lain-lain. Sementara itu Ikhwanul Muslimin Al Iqlimiyyin membentuk Rabithah Ad Dakwah Al Islamiyah untuk menyatukan berbagai orpol, ormas dan golongan Islam dalam wadah persatuan. FIS masuk dalam anggota organisasi ini yang di dalamnya bergabung berbagai golongan akidah Sunny, Asy’ari, Rafidhi, Sufi dan lain-lain. Semua golongan ini dipersatukan dengan sihir politik. Rabithah tersebut dipimpin oleh Ahmad Sahnun. Ali Balhaj pernah berkata ketika diwawancarai oleh majalah Al-Bayan, London (edisi 23 th. 1410 H/1989 M hal.70) dalam sebuah wawancara: “Apakah Rabithah juga dibangun di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau mereka menerima siapa saja sekalipun bukan Sunny di dalam organisasi ini?” Dia menjawab: “Kami berupaya di dalam ber­bagai pertemuan organisasi ini untuk menjadikan manhaj Ahlus Sunnah itu mendominasi majelis. Hanya ini yang dapat saya jawab sekarang dari pertanyaan anda”. Demikianlah jawaban diplomatis dari Ali Balhaj.
Ikhwanul Muslimin alamiyyin berkoalisi dengan partai-partai sosialis dan nasionalis. Perpecahan di kalangan salafiyyin semakin melebar, sehingga berkem­bang di kalangan mereka dan masyarakat, istilah sala­fiyah ilmiah dan salafiyah harakiyah. Pemahaman salaf yang sangat mengutamakan ilmu dan ahlul ilmi dicap sebagai salafiyah ilmiah. Sedangkan kelompok yang berpemahaman dengan “akidah salaf” dan dakwahnya adalah pergerakan politik dinamakan salafiyah harakiyah.
Demikianlah kenyataannya, dakwah sala­fiyah yang telah mencapai masa keemasan dan kegemilangannya diporak porandakan oleh para politikus yang berbaju salaf. Sampai di tingkat ini saja, musuh-musuh Islam telah berhasil membendung keberhasilan dakwah salafiyah melalui para agitator politik dari kalangan salafiyyin atau dengan ungkapan yang lebih tepat: Mereka adalah orang-orang yang menyusup ke dalam barisan salafiyin.
Situasi terus berlangsung, musuh Islam tidak merasa puas dengan limit keberhasilan yang telah mereka capai. Pada tahun 1412H/1991 M, pemilu diadakan di Aljazair yang berakhir dengan kemenangan FIS secara mutlak pada putaran pertama, sehingga presiden Jedid akhirnya dipaksa mengundurkan diri. Ketika ia mundur dari jabatannya, pihak militer mengumumkan keadaan darurat, sehingga pemilu dibatalkan dengan alasan terjadi kecurangan. Partai-partai politik diberangus dengan undang-undang keadaan darurat.
Muhammad Bodiaf, tokoh sosialis nasionalis, yang sedang berada di tempat pengasingannya di Maroko, dipulangkan ke Aljazair untuk diangkat sebagai Presiden Aljazair. Dua ratus orang aktifis FIS ditangkap dan bersamaan dengan itu muncullah sayap militer FIS yang didominasi oleh pemikiran Khawarij atau istilah lain ialah kaum reaksioner. Pembunuhan kaum muslimin yang terlibat dalam FIS dilakukan oleh pemerintah militer. Sedangkan pembunuhan terhadap kaum muslimin yang terlibat dengan pemerintah dilakukan oleh sayap militer FIS. Ali Balhaj dan Abbas Madani pada akhirnya tertangkap dan kembali meringkuk di penjara, karena mereka sudah tidak dibutuhkan lagi dalam upaya musuh Islam menghancurkan dakwah salafiyah. Sekarang Balhaj sudah menjadikan penjara sebagai tonggak prestasinya. Di dalam penjara, ia membagi ulama dengan istilah ulama sujun (ulama penjara) dan ulama suhun (ulama piring nasi). Hal ini merupakan caranya menyindir ulama ahlus sunnah yang tidak menyetujui dakwah agitasi politik.
Pertumpahan darah terus berlangsung, korban jiwa mencapai ratusan bahkan ribuan, itu tidak termasuk kor­ban luka-luka. Rakyat dicekam ketakutan dan kengerian, hingga tumbuhlah dengan subur di kalangan rakyat jelata semangat Islam Phoby (ketakutan dalam Islam). Akhirnya mayoritas rakyat takut diajari ilmu tentang Is­lam. Akibatnya dakwah salafiyah hampir mandek to­tal. Dakwah agitasi politik berakhir dengan ratap tangis para janda dan yatim rakyat jelata. Dakwah tersebut meninggalkan noda di bumi Aljazair dalam bentuk air mata dan darah kaum mustadl ‘afin (kaum tertindas). Noda yang lebih parah dari itu ialah ketakutan rakyat jelata dari dakwah Islamiyah umumnya dan dakwah salafiyah khususnya.
Kaum sufiyyah yang semula tersisih di desa-desa dan tak berdaya menghadapi dakwah salafiyah akhirnya diangkat oleh pemerintah sebagai imam-imam di masjid-masjid kota dan desa. Kubur-kubur yang dikeramatkan dan dahulu telah dihancurkan oleh du ‘at salqfiyin, kini dibangun kembali. Dakwah salafiyah di Aljazair menurun sampai ke titik nol. lnna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji ‘un.

Penutup
Kisah dakwah salafiyah di Aljazair saya angkat pada kesempatan kali ini karena gejala dan bibit yang sedang tumbuh di kalangan salafiyin di negeri kita ini hampir sama dengan tahapan malapetaka yang berjalan di Aljazair. Sesungguhnya apa yang terjadi di Aljazair dan yang sedang menggeliat di Indonesia, juga terjadi di banyak negeri-negeri muslim seperti Saudi Arabia. Di sana terjadi dengan tokohnya yang bernama Muhammad bin Abdillah Al-Qahthany dan Juhaiman yang berakhir dengan pertumpahan darah yang memalukan di Masjidil Haram Mekah Al-Mukaramah padatahun 1979. Kemudian sekarang terjadi lagi dengan tokohnya Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin yang kemudian pindah ke Birmingham, Inggris, Dr. Safar Hawali, Salman Al-Audah, Dr. Muhammad Sa’id Al-Qahthany yang akhirnya meringkuk di penjara Saudi Arabia. Juga Dr. Nashir Al-Umar, Aidl Al-Qarny dan lain-lain.
Di Kuwait timbul gerakan serupa dengan tokoh­nya Abdur Rahman Abdul Khaliq, Dr. Abdur Razaq As-Sayiji dan lain-lain. Gerakan mereka semua mempunyai modus vivendi yang sama dengan apa yang terjadi di Aljazair. Hanya di Saudi dan di Kuwait lebih banyak ulama ahlus sunnah wal jama’ahnya, sehingga gerakan ini dengan pertolongan Allah dapat segera ditumpas atau paling tidak di-counter habis-habisan dan tidak sempat berakibat fatal terhadap dakwah salafiyah di sana. Se­dangkan di Aljazair dan di Indonesia tidak ada ulama ahlus sunnah wal jama’ah yang mumpuni, sehingga berakibat fatal dan sangat dikuatirkan di Indonesia juga nantinya berakibat fatal terhadap dakwah ahlus sunnah wal jama’ah.
Saya sebagai seorang muslim ingin menasehati segenap kaum muslimin umumnya dan segenap sala­fiyin pada khususnya, berhati-hatilah dari pemikiran harakiyah siyasiah (pergerakan politik) yang membonceng dakwah salafiyah. Tokoh-tokoh pergerakan ini sudah bermunculan di Indonesia dengan baju salafiyin. Buku-buku telah ditulis dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk menyebarkan pemikiran jahat ini. Pidato-pidato, studi intensif (daurah) dengan mendatangkan tokoh-tokoh mereka dari dalam maupun luar negeri terus dengan gencar dilakukan. Pesantren-pesantren, masjid-masjid didirikan di Indonesia untuk menyebarkan racun pemikiran ini. Kaum salafiyin terpecah menjadi dua kelompok pemahaman yaitu salafiyin yang merujuk kepada para ulama ahlus sunnah wal jama’ah dan “salafiyin” yang merujuk kepada pemikiran Abdur Rahman Abdul Khaliq, Salman Al-Audah dan lain-lain. Kaum salafiyin yang merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah dicap sebagai ahlul ghuluw (ekstrim) dan muqalidin (suka bertaklid kepada orang per orang). Sedangkan “salafiyin” yang sudah teracuni pemikirannya oleh fikrah harakiyah siyasiyah menamakan diri dengan salafiyin munshifin (yang adil atau inshaf).
Dengan demikian perjuangan kami adalah menye­barkan ilmu ulama ahlus sunnah wal jama’ah dan mengcounter racun-racun pemikiran harakiyah siyasiyah. Racun-racun itu adalah bid’ah yang dikemas dengan penjelasan para ulama ahlus sunnah yang dipolitisir. Kami menganggap bahwa bahaya gerakan ini lebih besar bahayanya daripada gerakan ahlul bid’ah yang sesungguhnya karena bid’ah pemikiran ini lebih samar dan tidak diketahui oleh banyak orang.
Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari yang meninggal pada tahun 329 H menasehatkan di dalam kitab beliau Syarhus Sunnah yang ditahqiq oleh Abu Yasir Khalid bin Qasim Ar-Radadi pada halaman 68 dan 69 point ke-7 dan 8 (artinya):
Berhati-hatilah dari bid’ah-bid’ah yang kecil dalam perkara agama. Karena bid’ah-bid’ah yang kecil itu akan menjadi besar. Demikian pula bid ‘ah yang terjadi pada umat ini. Semula ia adalah bid’ah kecil yang menyerupai kebenaran. Sehingga tertipu den-gannya orang yang terperosok di dalamnya. Dan setelah terperosok ia tidak dapat keluar darinya. Lalu ia terus menjadi bid’ah yang besar dan pada akhirnya menjadi agama tersendiri yang dianut. Sehingga ia pun menyelisihi Ash-Shirath Al-Mustaqim dan kemudian keluar dari Islam.
(Artinya):
Maka telitilah olehmu – semoga Allah merahmatimu – semua yang engkau dengar ucapannya (tentang agama) dari orang yang sezaman denganmu khususnya, janganlah kamu tergesa-gesa masuk (mengikuti) pada suatu ucapan atau pendapat sampai kamu pertanyakan dulu apakah para shahabat Nabi pernah berkata seperti itu atau ulama (ahlul hadits) pernah menyatakan demikian. Maka jika kamu mendapatkan riwayat dari mereka (para shahabat dan ulama), segeralah kamu berpegang dengannya dan jangan melanggarnya karena suatu alasan serta jangan kamu meninggalkan pendapatnya karena ingin memilih pendapat lain. Bila kamu berbuat demikian kamu akan masuk neraka!

Maraji:
1. As-Siyasah baina Firasatil Mujtahidin Wa Takayyusil Murahiqin, oleh Abdullah bin Al Mubarak Ali Khadran Al Yamani.
2. Bundel Majalah Al-Bayan, London edisi 1-6, 7-12, 13-18, 19-24,43-48.
3. Madarik An Nadhr Fi As Siyasah baina At Tathbiqat Asy Syar’iyyah wa Al Infi’alat Al Hammasiyyah, oleh Abdul Malik bin Ahmad, bin Al Mubarak Ramadlani Al Jazairi. Buku ini telah di baca dan dipuji oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani.
4. Syarhus Sunnah, oleh Imam Al-Barbahary Tahqiq Abu Yasir Khalid bin Qasim Ar Radadi.

Footnote:
[1] penulis sendiri ketika itu menentang acara tersebut karena disamping setiap daerah diwajibkan menyetor sekian puluh juta untuk menanggung bersama biaya ratusan juta yang harus dikeluarkan untuk acara tersebut, juga karena kondisi para ikhwah yang berjaga-jaga di front terdepan peperangan yakni di daerah-daerah perbatasan dengan para pemberontak RMS, yang berjaga di hutan-hutan siang dan malam sangat membutuhkan suplai logistik yang tidak sedikit. Beberapa ikhwah kita ajak berdiskusi permasalahan ini, sampai kita menghadap salah satu ustadz ketika itu, jawaban mereka semua mirip dan sama: “Ustadz Ja’far lebih tahu kemaslahatannya daripada kita semua karena beliau lebih berilmu daripada kita”. Dengan kondisi monolog “tidak sehat” ini , penulis “nekad” mengundurkan diri dari jabatan yang diemban ketika itu dan menyatakan berlepas diri dari acara yang menguras biaya ratusan juta yang sungguh akan jauh lebih besar manfaatnya jika dikirimkan sebagai logistik kepada para ikhwah dan kaum muslimin Ambon yang sangat membutuhkannya. Itulah sistem komando yang menggelincirkan kita ke dalam tandzim hizbiyyah, tidak perlu ada penjelasan ilmiyah kecuali kalimat kita harus taat dan ustadz Ja’far lebih tahu kemaslahatannya serta semua hal yang akan kita lakukan harus seijin dan sepersetujuan ustadz. Allahul Musta’an.
Karena itulah tidak berlebihan jika akh Abdul Ghafur ketika menulis surat kepada Jamarto sampai mengatakan: “Camkanlah! Bapaklah yang telah mengkhianati amanat kami! Bapaklah yang mengkhianati para Masyayikh! Bapaklah yang berbuat kedustaan!! Bapaklah yang menikam kami semua dari belakang dan bahkan menjerumuskan kami semua ke dalam hizbiyyah!! Bapaklah yang menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangan atas nama “komando yang tak terbantahkan” bahkan dosa jika tidak mentaatinya!! Komando bapak sungguh merupakan komando yang membinasakan diri dan agama kami!!”
Semua itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar kita yang pernah terjerumus tidak mengulangi kesalahan tersebut dan bagi yang membaca kisah tersebut jangan sampai menirunya. Selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap orang – siapapun dia dan setinggi apapun ilmunya – tidaklah terbebas dari kesalahan. Kita pernah mengalami masa-masa begitu takutnya berbeda dengan “atasan”, begitu ngerinya mengatakan tidak dengan perintah yang telah diturunkan. Dan ini adalah kesalahan fatal yang pernah kami lakukan dan tidak perlu bagi kami untuk merasa malu mengungkapkannya. Semoga dapat menjadi ibrah dan pelajaran. Sekarang masa itu telah berlalu, membuka lembaran baru penuh harapan. Nasehat, kritik dan saran yang membangun (bukan mematikan) tentulah harus kami perhatikan. Sebagaimana masa-masa lalu yang – alhamdulillah – dimudahkan oleh Allah untuk ikhlas meninggalkan penyimpangan dan rujuk kepada kebenaran, Insya Allah kita sekarang tetap berprinsip demikian.
Tiada gading yang tak retak, kalau ada kesalahan (apalagi kesesatan!) wajiblah bagi kami untuk merujuk kepada kebenaran dan Insya Allah kami bukanlah manusia-manusia yang keras kepala mempertahankan kebatilan, apalagi hizbi yang dengan lantang menyerukan slogan-slogan kebid’ahan dan kesesatan. Hendaknya seorang muslim meralat kesalahannya jika telah nampak kesalahan tersebut dan jangan sekali-kali terus bersikukuh di atas kesalahannya. Mengenali kesesatan agar kita tidak terjerumus ke lubang kehinaan. Rujuk kepada kebenaran adalah suatu kemuliaan dan terus berkubang di dalam kesesatan adalah kehinaan.

This entry was posted in SIYASAH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s