IJMA’ AHLUSSUNNAH DALAM MENSIKAPI PENGUASA


Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya.

Ya Allah, limpahkanlah taufiq-Mu kepada kami dan kepada setiap orang yang mencintai dan mengamalkan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dan hati saudara-saudara kami umat Islam dari berbagai noda yang mengotorinya dan bukakanlah hati kami untuk menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.

Kejayaan umat Islam adalah impian dan dambaan setiap muslim. Penerapan syari’at Allah Ta’ala di muka bumi adalah idaman dan cita-cita setiap orang yang beriman. Terwujudnya keadilan dengan sepenuh makna dan dalam segala aspek kehidupan umat manusia adalah tujuan perjuangan setiap orang yang beriman kepada hari akhir.

Untuk merealisasikan cita-cita luhur nan suci ini, syari’at Islam hanya mengajarkan satu cara, yaitu mewujudkan keimanan yang benar dan amal yang shaleh selaras dengan syari’at Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55)

Sebagaimana Allah Ta’ala telah mengajarkan metode jitu untuk merealisasikan kejayaan kita umat Islam, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita dari petaka besar yang akan meruntuhkan kejayaan dan segala kenikmatan yang ada pada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.” (QS. Al Anfal: 46)

Amatilah, pada ayat ini Allah Ta’ala menjadikan ketaatan kepada syari’at Allah dan Rasul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perpecahan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan serta hilangnya kekuatan dan kekuasaan umat Islam.

Dan bila kita mengurutkan kronologi kejadian di atas dengan terbalik, maka akan menjadi seperti berikut: Berbagai kelemahan dan hilangnya kekuatan dan kekuasaan umat Islam diakibatkan oleh adanya perselisihan dan perpecahan antara mereka. Dan perselisihan/perpecahan adalah akibat langsung dari ketidaktaatan umat Islam terhadap syari’at Allah dan Rasul-Nya.

Dan sudah barang tentu, dan kita semua menyadari bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya akan dapat direalisasikan, bila kita benar-benar mengamalkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus sholeh).

Wasiat dari Allah ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut:

لا تختلفوا فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا

“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/runtuh.” (HSR Muslim)

Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al-Qur’an dan As Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat Islam dari selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan.

Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini telah terpecah-pecah pemahaman dan keimanannya, dan mereka berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Allah dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syari’at yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, sehingga keadaan mereka itu seperti digambarkan dalam pepatah arab:

ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها إن السفينة لا تجري على اليبس

Kau dambakan keselamatan, tapi engkau tak menempuh jalurnya
Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan

Oleh karena itu berbagai upaya mereka hanyalah menambah berat petaka yang melanda umat, dan bukan menguranginya.

Banyak dari tokoh umat Islam menyeru dan menggalang kekuatan umat Islam untuk mewujudkan kembali kejayaannya, dengan berbagai metode yang mereka yakini; ada yang menempuh jalur parlemen untuk dapat mencapai pada kekuasaan, dan ada pula yang menempuh jalur kekerasan, dan ada yang menempuh jalur-jalur lainnya. Akan tetapi betapa sedikitnya tokoh umat Islam yang tetap istiqomah meniti jalur dan metode yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalur pembinaan masyarakat dengan ilmu yang shahih dan amal yang shaleh, tanpa dinodai oleh syubhat, kesyirikan dan bid’ah.

Kisah berikut adalah bukti nyata dan penjabaran gamblang tentang metode yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam mewujudkan kejayaan umat islam:

Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negoisasi antara kedua belah pihak, diantara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah:

“Wahai keponakanku, bila yang engkau hendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit (kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh”.

Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim yang beraqidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlaq islamiyyah. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran orang ini dengan membacakan surat Fushshilat (artinya):

“Haa Miim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. ika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud”. (QS. Fusshilat: 1-13)

Setelah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada ayat ke 13 ini, Utbah bin Rabi’ah berkata kepada beliau:

فقال عتبة : حسبك، ما عندك غير هذا ؟ قال : لا

“Cukup sampai disini, apakah engkau memiliki sesuatu (misi/tujuan) selain ini? Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Tidak.” [Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah]

Inilah sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah, dan inilah sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan kejayaan umat. Dan barang siapa menyelisihi metode ini, sehingga menempuh jalur lain, niscaya kekecewaan dan kegagalanlah yang akan ia tuai Dalam pepatah dinyatakan:

من استعجل الشَّيء قبل أوانه عوقب بحرمانه

“Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.”

PRINSIP AHLUS SUNNAH DALAM MENYIKAPI PENGUASA

Firman Allah berikut yang merupakan pedoman yang senantiasa dipegangi oleh Ahlussunnah wal Jama’ah dalam menyikapi pemerintahan atau khilafah yang ada:

يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan Ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. An Nisa’: 59)

Pada ayat ini Allah memerintahkan kita semua untuk taat kepada Allah, yaitu dengan mengikuti kitab-Nya, dan mentaati Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti sunnahnya, serta mentaati para pemimpin (ulul ‘amri) diantara kita, baik ulul ‘amri dari kalangan ulama’ atau umara’ (penguasa). Ini adalah kewajiban kita semua untuk senantiasa taat kepada Allah, Rasulullah dan para pemimpin diantara kita. Akan tetapi walau demikian, pada ayat ini Allah Ta’ala mengulang perintah untuk taat, yaitu kata ta’atilah (athi’u) sebanyak dua kali, yaitu taat kepada Allah dan ta’at kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ketika menyebutkan ulul ‘amri, Allah tidak mengulang kata ta’atilah (athi’u).

Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa kewajiban ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlak karena sebagai konsekwensi pengakuan dan keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah senantiasa taat dan untuk tidak beramal selain dengan syari’at yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Sedangkan keta’atan kepada ulul ‘amri tidak bersifat mutlak, akan tetapi keta’atan kepada mereka hanya wajib atas kita sebatas dalam hal yang ma’ruf atau selama tidak melanggar dengan kewajiban ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Pemahaman semacam ini dengan tegas telah disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره ما لم يؤمر بمعصية فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة

“Dari sahabat Ibnu Umar rodiallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan menta’ati, baik dalam hal yang ia suka atau yang ia benci, kecuali kalau ia diperintahkan dengan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan menta’ati.” (Bukhari dan Muslim)

Dan pada hadits lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lebih tegas bersabda:

يَكُوْنُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ وَأَخَذَ مَالَكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada diantara mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati syaitan yang terdapat di jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah bersabda, “Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!” (Riwayat Muslim)

Adakah penguasa yang lebih dzolim dari penguasa yang tidak menjalankan syari’at Nabi, berhati setan, memukul rakyatnya, dan merampas harta mereka??

Suatu gambaran yang amat mengerikan, para pemimpin atau penguasa yang amat lalim, sampai-sampai dinyatakan hati mereka adalah hati setan. Bila seorang pemimpin telah berhati setan, maka ia akan menjadi bengis, berdarah dingin, korupsi, sewenang-wenang, dan tidak kenal belas kasihan kepada orang lain.

Ibnu Hajar berkata: “Meskipun ia memukul punggungmu dan memakan hartamu”, perilaku ini banyak terjadi di masa pemerintahan Al-Hajjaaj dan yang semisalnya.” (Fathul Bari 13/36)

Lihatlah Ibnu Hajar menjadikan kepemimpinan Al-Hajjaaj sebagai contoh nyata bagi penerapan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Al Hajjaj adalah seorang tokoh yang amat bengis dan kejam, sampai-sampai khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz pernah berkata:

لوتخابثت الأمم، فجاءت كل أمة بخبيثها، وجئنا بالحجاج لغلبناهم

“Seandainya seluruh umat berlomba-lomba dengan orang yang paling keji dari mereka, kemudian setiap umat mendatangkan orang yang paling keji dari mereka dan kita mendatangkan Al Hajjaj, niscaya kita dapat mengalahkan mereka.”

Pada hadits lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ) قِيْلَ “يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟” فقال (لاَ مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوْا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوْا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ). رواه مسلم

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan merekapun membenci kalian, kalian melaknati mereka dan merekapun melaknati kalian.” Dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah tidak (sebaiknya tatkala itu) kita melawan mereka dengan pedang?” Rasulullah berkata, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari para pemimpin kalian, maka bencilah amalannya dan janganlah kalian mencabut tangan kalian dari ketaatan kepadanya.” (Riwayat Muslim)

Pada hadits lain Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang melihat sesatu dari pemimpinnya yang ia benci, maka hendaknya ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejauh sejengkal, kemudian ia mati maka kematiannya bagaikan kematian jahiliyah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk tetap bersabar jika melihat berbagai hal yang tidak kita sukai atau perbuatan mungkar yang dilakukan oleh penguasa. Bahkan barang siapa yang tidak bersabar dan keluar dari ketaatannya sehingga memisahkan diri dari jama’ah kemudian ia mati maka kematiannya dinyatakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kematian jahiliyah!

Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud dengan mati jahiliyah (dalam hadits ini)… yaitu keadaan matinya seperti matinya orang-orang di zaman jahiliyah yang mati di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang ditaati. Karena mereka tidak mengenal adanya pemimpin. Dan bukanlah maksudnya ia mati dalam keadaan kafir akan tetapi mati dalam keadaan bermaksiat… Dan yang mendukung bahwa maksud dari jahiliyah adalah hanya sebatas penyerupaan (bukan makna dzohirnya mati dalam keadaan kafir) adalah sabda Rasulullah yang lain:

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَكَأَنَّمَا خَلَعَ رِبْقَةَ الإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ

“Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal maka seakan-akan ia telah melepaskan kekang Islam dari lehernya”…” (Fathul Bari 13/7).

Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan merupakan ilmu dan keadilan yang diperintahkan untuk dilaksanakan adalah bersabar atas kedzoliman para penguasa dan kelaliman mereka, sebagaimana hal ini merupakan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.” (Majmuu’ Fataawaa 28/179)

Beliau juga berkata: “Dan diantara prinsip pokok pembahasan ini bahwasanya hanya sekedar terdapatnya al-baghyu (kedzoliman) pada seorang penguasa atau sebuah kelompok maka tidaklah mengharuskan untuk memerangi mereka. Bahkan tidak pula membolehkan untuk memerangi mereka. Bahkan salah satu prinsip pokok yang ditunjukan oleh dalil-dalil bahwasanya seorang penguasa yang dzolim maka masyarakat diperintahkan untuk bersabar atas kelaliman dan kedzolimannya serta tidak memerangi mereka, sebagaimana hal ini telah diperintahkan oleh Nabi pada lebih dari satu hadits. Nabi tidak mengizinkan secara mutlak untuk mencegah terjadinya kedzoliman dengan peperangan, bahkan bila pada upaya mencegah tindak kedzoliman akan menyebabkan timbulnya fitnah, mereka dilarang dari upaya tersebut dan diperintahkan untuk bersabar.” (Al Istiqamah 32)

Prinsip ini bukan hanya berlaku dalam hubungan interaksi antara rakyat dan pemerintah dan ulama’ akan tetapi berlaku dalam segala urusan, sampai-sampai dalam hubungan antara anak dan orang tuanya prinsip ini tetap berlaku dan wajib diindahkan oleh setiap muslim. Perhatikanlah firman Allah berikut ini:

وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما وصاحبهما في الدنيا معروفا

“Dan jika keduanya (Ayah dan ibu) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu patuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Dan masih banyak lagi dalil serta keterangan ulama’ ahlis sunnah tentang prinsip ketaatan kepada sesama manusia, baik pemerintah, atau orang tua, atau atasan dalam sebuah organisasi, atau perusahaan atau lainnya, yang semuanya menguatkan apa yang saya utarakan ini, yaitu ketaatan kepada sesama manusia hanya boleh dilakukan selama tidak melanggar syari’at Allah.

Kewajiban Mengingkari Kemungkaran

Berangkat dari prinsip di atas maka umat Islam dimanapun tidak berkewajiban, bahkan tidak boleh untuk mentaati peraturan atau perintah siapapun yang melanggar syari’at Allah dan Rasul-Nya. Dan sebagai penerapannya, umat Islam di Indonesia atau dimanapun mereka berada tidak boleh untuk mentaati atau menjalankan peraturan atau undang-undang yang jelas-jelas melanggar syariat Islam, misalnya prostitusi dilegalkan, dan dilindungi, yaitu dengan adanya komplek-komplek yang melayani praktek maksiat tersebut, riba’ dengan adanya berbagai macam model perbankan, dimulai dari bank yang jelas-jelas menyatakan riba’ atau yang memakai kedok bank syari’at atau perkreditan, penerapan sistem demokrasi, juga emansipasi wanita, persamaan hak dan kewajiban antara komponen masyarakat, tanpa pandang bulu agama dan ajarannya dst.

Bukan hanya tidak boleh mentaati, akan tetapi umat Islam berkewajiban mengingkari berbagai kemaksiatan tersebut, masing-masing sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, dan sesuai dengan manhaj atau metode yang diajarkan oleh Rasulullah dalam mengingkari kemungkaran (berdakwah).

من رأى من منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya.” (Muslim)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini membagi manusia menjadi tiga golongan:

Golongan pertama: adalah orang-orang yang mampu untuk menghilangkan kemungkaran dengan tanganya (kekuatannya), yaitu pemerintah atau pemimpin atau yang diberi wewenang dalam hal ini, seperti lembaga-lembaga dan gubernur serta panglima.

Golongan kedua: orang-orang yang mengingkari dengan lisannya, yaitu yang tidak memiliki kekuasaan, tapi memiliki kemampuan untuk menjelaskan.

Dan golongan ketiga: orang-orang yang mengingkari kemungkaran dengan hatinya, yaitu mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menjelaskan.

Diantara manfaat dibaginya manusia menjadi tiga golongan semacam ini, adalah tercapainya tujuan yaitu terlaksanakannya/tersampaikannya nasehat kepada yang hendak dinasehati tanpa terjadi ketimpangan, sebab bila ada orang yang melebihi kapasitasnya dalam mengingkari kemungkaran, niscaya akan terjadi ketimpangan bahkan kerusakan, misalnya: orang yang tidak berilmu mengingkari dengan cara membantah, menulis atau menganalisa dst, niscaya yang terjadi adalah kemungkaran baru, sebab orang tersebut pasti akan berkata-kata tanpa dasar ilmu, sehingga akan sesat dan menyesatkan. Begitu juga apabila ia mengingkari dengan kekuatan, niscaya akan terjadi kerusakan, yaitu melampaui batas, bersikap anarkis, atau menyingkirkan kemungkaran dengan kemungkaran lain yang sama atau lebih besar. Misalnya yang sering terjadi di masyarakat, ketika ada pencuri yang tertangkap oleh massa, maka karena tidak berilmu mereka membakar atau membunuh atau menyiksa pencuri tersebut, padahal sikap itu jelas tidak islami dan diharamkan dalam syari’at, bahkan termasuk berhukum dengan selain hukum Islam, karena hukuman pencuri adalah dengan dipotong tangannya, bukan dicincang atau dibakar hidup-hidup dst.

Oleh sebab itu, bila dalam mengingkari kemungkaran kita mengandalkan kekuatan masa, mengerahkan masa, berdemonstrasi yang sebenarnya mereka tidak berhak untuk mengingkari dengan kekuatan/tangan, maka akan terjadi kemadharatan yang besar, diantaranya: terjadinya kemacetan di jalan raya, mungkin terjadi penjarahan terhadap pertokoan, pengrusakan massal, dst, padahal kemaslahatannya seringnya tidak ada atau terlalu kecil bila dibanding dengan kerugiannya. Saya yakin setiap orang muslim di Indonesia pernah menyaksikan atau minimal membaca atau mendengar kejadian yang terjadi di masa reformasi beberapa tahun lalu. Tentu ini adalah sikap yang tidak islami dan termasuk berhukum kepada selain hukum Allah, dan berhukum kepada hukum rimba atau masa, wallahul musta’aan.

Dan diantara kaedah Ahlis Sunnah yang senantiasa diajarkan dan diperhatikan oleh para ulama’ dalam setiap hal ialah kaedah:

مراعاة المصلحة والمفسدة

Kewajiban merealisasikan kemaslahatan dan menghindarkan kemadharatan

Dalam penerapannya yang berkaitan dengan mengingkari kemaksiatan, para ulama’ menjelaskan bahwa bila suatu amalan, termasuk pengingkaran terhadap suatu kemaksiatan akan berdampak buruk dan lebih berat nilai negatifnya dibanding maslahat yang dapat dicapai, maka pengingkaran tersebut tidak boleh dilakukan, baik pengingkaran tersebut dilakukan dengan kekuatan atau lisan atau tulisan. Sebab tujuan diturunkan syari’at Islam kepada umat manusia adalah demi merealisasikan kemaslahatan bagi mereka dan menghindarkan kemadharatan dari mereka.

Oleh karena itu setiap langkah dan upaya yang akan kita tempuh dalam mengingkari kemungkaran harus kita timbang dengan kaedah ini, apa maslahat yang akan tercapai, dan apa madharat yang akan timbul dari pengingkaran tersebut.

Belajar dari Sejarah Dakwah Bijak Rasulullah

Marilah kita renungkan bersama sikap arif yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada dua kisah berikut ini:

Kisah Pertama:

A’isyah radhiallahu ‘anha mengkisahkan: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة ولجعلتها على أساس إبراهيم فإن قريشا حين بنت البيت استقصرت ولجعلت لها خلفا. متفق عليه

“Seandainya bukan karena kaummu yang baru saja meninggalkan kekufuran (baru masuk Islam), niscaya aku akan menghancurkan Ka’bah, dan aku bangun kembali di atas pondasi Nabi Ibrahim; karena tatkala orang-orang Quraisy membangunnya, mereka kekurangan biaya, dan akan aku tambah satu pintu dari arah belakang.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Nawawi rahimahullah tatkala menjelaskan hadits ini beliau berkata, “Hadits ini merupakan dalil bagi beberapa hukum penting, di antaranya: Bila pada suatu saat terjadi pertentangan antara beberapa kepentingan (kemaslahatan), atau pertentangan antara kemaslahatan dan mafsadah (kerugian), dan tidak mungkin untuk digabungkan antara perbuatan meraih kemaslahatan dan meninggalkan kerugian, maka sikap yang benar ialah dengan mendahulukan yang lebih penting. Karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa mengembalikan bangunan Ka’bah seperti sediakala di masa Nabi Ibrahim adalah satu kemaslahatan. Akan tetapi kemaslahatan ini bertentangan dengan kerugian yang lebih besar, yaitu kekhawatiran akan timbulnya fitnah (yaitu murtadnya) sebagian orang yang baru masuk Islam. Hal ini dikarenakan mereka (orang-orang yang baru masuk Islam) meyakini akan keutamaan Ka’bah, sehingga mereka menganggap pemugaran Ka’bah adalah suatu kejahatan besar. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan keinginannya itu”. [Syarah Shahih Muslim 9/89]

Kisah Kedua:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه يقول: كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في غزاة، فكسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار، فقال الأنصاري: يا للأنصار، وقال المهاجري: يا للمهاجرين. فقال رسول الله: ما بال دعوى الجاهلية؟! قالوا: يا رسول الله كسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار. فقال: دعوها فإنها منتنة، فسمعها عبد الله بن أبي، فقال: قد فعلوها؟! والله لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجن الأعز منها الأذل. قال عمر: دعني أضرب عنق هذا المنافق. فقال: دعه لا يتحدث الناس أن محمدا يقتل أصحابه. متفق عليه

“Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: Pada saat kami bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu peperangan, tiba-tiba ada seseorang dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seseorang dari kaum Anshar, maka orang Anshar tersebut berteriak meminta pertolongan kepada kaumnya; orang-orang Anshar, dan sebaliknya orang Muhajirin tadi juga berteriak meminta bantuan kepada kaumnya orang-orang Muhajirin. Mendengar hal tersebut Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah?!” Mereka pun menjawab, “Wahai Rasulullah, ada seseorang dari Muhajirin yang memukul pantat seseorang dari kaum Anshar. Maka Nabi pun bersabda, “Tinggalkanlah, karena sesungguhnya itu (seruan jahiliyyah) adalah busuk”. Maka tatkala Abdullah bin Ubai mendengar hal itu ia berkata, “Apakah mereka (orang-orang Muhajirin) benar-benar telah melakukannya (berbuat semena-mena terhadap kaum Anshar)? Sungguh demi Allah bila kita telah tiba di kota Madinah, niscaya orang-orang yang lebih mulia [Yang ia maksud ialah orang-orang Anshar –pen] akan mengusir orang-orang yang lebih hina” [Yang ia maksud ialah orang-orang Muhajirin –pen] (Mendengar ucapan demikian ini) Umar bin Khattab berkata kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Izinkanlah aku untuk memenggal leher orang munafik ini (Abdullah bin Ubai), Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah dia, jangan sampai nanti orang-orang beranggapan bahwa Muhammad telah tega membunuh sahabatnya sendiri.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Kita semua tahu bahwa berjihad melawan orang-orang munafikin adalah wajib hukumnya, karena selain mereka itu adalah orang-orang kafir yang akan kekal di neraka, mereka juga membahayakan umat Islam. Dan perilaku atau ulah gembong munafikin ini, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul yang merugikan ummat Islam sudah terlalu banyak. Agar lebih jelas betapa besar kejahatan manusia satu ini, maka kami ajak saudara-saudaraku untuk mengingat-ingat kembali beberapa kejadian berikut:
Siapakah yang mendalangi terjadinya tuduhan berzina kepada istri Nabi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha?
Siapakah yang mendalangi kembalinya sekitar 300 pasukan kaum muslimin, sehingga mereka tidak ikut dalam perang Uhud?
Siapakah yang memelopori pembangunan Masjid Dhirar?
Siapakah yang enggan ikut serta dengan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya dalam perang Tabuk?
Siapakah yang tidak ikut serta membela kota Madinah dalam perang Khandak? Semua kejadian ini didalangi oleh Abdullah bin Ubai bin Salul serta kawan-kawannya.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh mahluk satu ini sedemikian besarnya, akan tetapi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan para sahabat untuk membunuhnya. Bahkan anak orang munafik ini, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul telah datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin darinya untuk membunuh ayahnya sendiri, akan tetapi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam malah memerintahkannya agar ia berlemah lembut kepadanya [Baca Tarikh At Thobari 2/110, dan Sirah Ibnu Hisyam 4/255]. Ini semua karena beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin timbul perpecahan di tengah-tengah umat, walaupun orang munafik ini telah banyak berupaya untuk menimbulkan perpecahan dan senantiasa berusaha untuk memecah belah umat.

Bahkan dengan sikap Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian ini, kemunafikan orang ini menjadi diketahui oleh setiap orang, sehingga setiap kali ia membikin ulah, kaumnya sendirilah yang memarahi dan mengancamnya. [idem]

Lihatlah, sikap bijak dan hikmah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi kejahatan gembong munafikin ini telah membuktikan kepada kita bahwa tidak setiap kesalahan harus disikapi dengan keras, akan tetapi kadang kala sikap lembut lebih efektif dan manjur dalam meredam dan memberantas kerusakan. Dan betapa besar perhatian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan upaya yang beliau tempuh guna menjaga persatuan kaum muslimin.

METODE MENASEHATI PENGUASA

Sudah menjadi kewajiban atas setiap muslim untuk senantiasa nasehat-menasehati sesama mereka dalam hal kebaikan dan dalam hal kesabaran, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Kewajiban ini bukan hanya berlaku diantara sesama rakyat biasa saja, akan juga berlaku diantara rakyat dengan penguasanya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله يرضى لكم ثلاثا ويسخط لكم ثلاثا، يرضى لكم أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئا وأن تعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا، وأن تناصحوا من ولاه الله أمركم، رواه مالك وأحمد

”Sesungguhnya Allah meridhoi bagi kalian tiga perkara dan memurkai atas kalian tiga perkara, Dia meridhoi bagi kalian agar menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, berpegang teguh dengan tali Allah (syariat Allah), dan jangan berpecah belah dan menasehati orang yang Allah jadikan sebagai pemimpin kalian.” (Riwayat Malik dan Ahmad)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدين النصيحة الدين النصيحة الدين النصيحة، قالوا يا رسول الله لمن؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم. رواه أبو داود والترمذي والنسائي

”Agama adalah nasehat, agama adalah nasehat, agama adalah nasehat”. Mereka berkata:” Wahai Rasulullah bagi siapa?” Rasulullah menjawab: ”Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemerintah kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin secara umum.” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy & An Nasa’i)

Kewajiban rakyat, adalah bekerja sama dengan pemerintah, institusi terkait dan setiap individu yang menyeru kepada kebenaran, wajib berkerjasama dalam kebenaran, menegakkannya, dan mendakwahkannya, serta saling membahu dalam membasmi kerusakan. Inilah kewajiban yang menjadi tanggung jawab seluruh kaum muslimin dengan cara-cara yang dibenarkan Allah pada firman-Nya:

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن

”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara baik.” (QS. An Nahl: 125)

Dan pada Firman-Nya:

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal sholeh.” (QS. Fusshilat: 33)

Dan pada Firman-Nya:

ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا منهم

”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik kecuali orang-orang yang dholim diantara mereka.” (QS. Al Ankabut: 46)

Dan pada Firman-Nya:

ولو كنت فضا غليظ القلب لانفضوا من حولك

”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Dan pada firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat diutus menuju Fir’aun:

فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى

”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 44)

Dan merupakan kewajiban atas orang-orang yang memiliki kecemburuan karena Allah, dan atas para da’i untuk memperhatikan batasan-batasan syariat, dan menasehati pemimpin mereka dengan ucapan yang baik, bijak serta dengan cara yang baik pula, agar kebaikan itu bertambah banyak dan kejelekan semakin berkurang. Dan agar da’i kepada jalan Allah bertambah, semakin giat untuk berdakwah dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan, menasehati para pemimpin dengan segala cara yang baik dan selamat, serta mendoakan mereka di tempat yag terpisah: semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, menunjukkan dan membantu mereka kepada kebaikan. Dan semoga Allah menolong mereka untuk dapat meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan, serta menegakkan kebenaran.

Demikianlah, dia berdo’a kepada Allah dan betul-betul mengharap dari Allah, semoga Allah menunjukkan mereka ke jalan yang lurus, membantu mereka untuk meninggalkan kebatilan dan menegakkan kebenaran, dengan cara yang baik. Demikian juga ia bersikap dengan saudara-saudaranya yang memiliki kecemburuan, ia menasehati dan mengingatkan mereka, agar mereka giat dalam berdakwah dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan. Dengan metode inilah kebaikan akan bertambah banyak dan kejelekan akan berkurang, dan Allah akan memberi petunjuk kepada para pemimpin kepada kebaikan dan keistiqamahan, dan hasilnya pun akan menjadi baik bagi semua orang.

Diantara cara yang tidak baik dan tidak bijak dalam menjalankan kewajiban menasehati penguasa atau orang lain ialah menyampaikan teguran atau kritikan dehadapan khalayak ramai.

Imam As Syafi’i rahimahullah berkata:

من وعظ أخاه سرا فقد نصحه وزانه ومن وعظه علانية فقد فضحه وشانه

“Barang siapa menegur saudaranya dengan cara tersembunyi, maka ia telah menasehati dan menghiasinya, dan barang siapa yang menegur saudaranya dengan cara terus terang di hadapan khalayak, maka ia telah membeberkan aibnya dan menjelek-jelekkannya.”

Pada suatu saat dinyatakan kepada Mis’ar bin Qidaam rahimahullah: “Sukakah engkau kepada orang yang memberitahukanmu tentang aib/kekuranganmu? Beliau menjawab: “Bila ia menyampaikan nasehat kepadaku di tempat sunyi, maka saya akan menyukainya, dan bila ia menegurku di hadapan khalayak ramai, niscaya aku tidak akan menyukainya.”

Al Ghazali, mengomentari perkataan Mis’ar bin Qidaam dengan berkata: “Sungguh ia telah benar, karena sesungguhnya nasehat yang disampaikan di hadapan khalayak ramai adalah penghinaan.” (Ihya’ ‘Ulumuddin 2/182)

Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara.

Dan diantara metode yang tidak islamy ialah menyebarkan kejelekan atau kesalahan atau perbuatan dosa orang lain disaat ia tidak ada dihadapannya. Perbuatan ini dinyatakan sebagai perbuatan ghibah (menggunjing) dan ghibah diharamkan dalam syari’at, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)

Bila hal ini diharamkan untuk kita lakukan kepada sesama rakyat, maka diharamkan juga untuk kita lakukan terhadap para penguasa.

Dan syari’at ingkar mungkar kepada penguasa yang digariskan pada ayat di atas lebih ditegaskan lagi oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada sabdanya berikut ini:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذَ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan-pen), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Riwayat Ahmad, At-Thobrooni, dan Ibnu Abi ‘Ashim, dan Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah)

Pada hadits ini sangatlah jelas bagaimana metode yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menasehati penguasa. Oleh karena itu hadits ini dibawakan oleh Al-Hafizh Abu Bakr ‘Amr bin Abi ‘Ashim Ad-Dhohhak dalam kitabnya yang masyhur “As-Sunnah” dalam bab كَيْفَ نَصِيْحَةُ الرَّعِيَّةِ لِلْوُلاَةِ

“Bagaimana cara rakyat menasehati para penguasa”

Dan kisah berikut semakin menguatkan makna yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas:

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيْلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلاَنًا (عِنْدَ مُسْلِمٍ: عُثْمَانَ) فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَرَوْنَ أَنِّي لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ (عِنْدَ مُسْلِمٍ:فَيْمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ) دُوْنَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لاَ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ . متفق عليه

Abu Wa’il mengisahkan: “Dikatakan kepada Usaamah (bin Zaid bin Haritsah), “Kalau seandainya engkau mendatangi si fulan (pada riwayat Muslim, dijelaskan siapa si fulan, yaitu: Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu) lalu engkau menasehatinya?” Usamah berkata, “Sesungguhnya kalian benar-benar beranggapan bahwasanya aku tidak menegurnya kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menasehsatinya secara diam-diam (pada riwayat Muslim: “antara aku dan dia (empat mata) tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Usamah: “tanpa aku membuka sebuah pintu“, dengan berkata: “aku tidaklah menasehatinya kecuali dengan memperhatikan kemaslahatan, dengan nasehat yang tidak mengobarkan api fitnah.” (Fathul Bari 13/51)

Beliau juga menjelaskan perkataan Usamah “tanpa aku membuka sebuah pintu” dengan berkata, أَيْ بَابُ الإِنْكَارِ عَلَى الْأَئِمَّةِ عَلاَنِيَةً خَشْيَةَ أَنْ تَفْتَرِقَ الْكَلِمَةُ “Yaitu pintu mengingkari para penguasa dengan cara terang-terangan (di hadapan khalayak), karena aku mengawatirkan persatuan kaum muslimin akan tercerai-berai.” (Fathul Bari 13/52)

Al-‘Aini –mengomentari perkataan Usamah-, “Sesungguhnya aku telah menegurnya secara diam-diam“: Maksudnya menyampaikan nasehat di saat sendirian, tanpa aku membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya: aku (Usamah) menegur Utsman guna mencari kemaslahatan bukan untuk memprovokasi timbulnya fitnah karena pada sikap mengingkari para penguasa dengan terang-terangan (secara terbuka di hadapan rakyat -pen) terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Pada sikap tersebut terdapat pencemaran nama baik mereka yang mengantarkan kepada terpecahnya tekad kaum muslimin dan tercerai berainya persatuan mereka.” (Umdatul Qari 15/166)

Syaikh Utsaimin pernah ditanya, “Kenapa anda tidak menegur pemerintah dan menjelaskan hal itu kepada masyarakat?” Maka beliau menjawab, “…Akan tetapi nasehat telah disampaikan… sungguh demi Allah!!! Aku beritahukan kepada engkau (wahai fulan), dan aku beritahukan kepada saudara-saudaraku bahwa sikap: “Mempublikasikan sikap anda yang telah menyampaikan nasehat kepada pemerintah mengandung dua mafsadat/marabahaya:

Mafsadat pertama: Hendaknya setiap orang senantiasa mengkhawatirkan dirinya akan tertimpa riya’, sehingga gugurlah amalannya.

Mafsadat kedua: Bila pemerintah tidak menerima nasehat tersebut, maka teguran ini menjadi hujjah (alasan) bagi masyarakat awam untuk (menyudutkan) pemerintah. Akhirnya mereka akan bergejolak (terprovokasi) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” (Dari kaset as’ilah haula lajnah al-huquq as-syar’iyah. Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Ramadani dalam Madarik an-Nazhor hal 211)

Diantara metode berdakwah kepada para penguasa ialah dengan cara mendoakannya agar mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, bukan malah mendoakan kejelekan untuknya.

Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

لو أن لي دعوة مستجابة ما جعلتها إلا في إمام، فصلاح الإمام صلاح البلاد والعباد

“Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya seorang penguasa berarti baiknya negeri dan rakyat. (Siyar A’alam An Nubala’ oleh Az Dzahaby 8/434)

Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya bergembira tatkala mengetahui bahwa metode dalam menasehati pemerintah ternyata telah dijelaskan dengan gamblang oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Baginya tidak ada bedanya, apakah nasehat tersebut akhirnya diterima oleh sang penguasa atau tidak.

Apakah Demonstrasi Merupakan Jihad yang Paling Afdhal?!

Penjelasan di atas tidak bertentangan sama sekali dengan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang jahat.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Hakim & Al Albany)

Hadits ini menjelaskan bahwa jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa diktator yang kejam. Hal ini dikarenakan kemungkinan untuk selamat dari pembunuhan amat kecil, beda halnya dengan berjihad melawan orang-orang kafir, kemungkinan untuk selamat amat besar. Ditambah lagi manfaat dari perbuatannya ini amat besar, yaitu bila penguasa tersebut mau menerima nasehatnya, maka kemanfaatannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat, dan bukan hanya oleh orang tertentu.

Dan pada hadits ini, tidak ada sama sekali dalil yang menyebutkan bahwa penyampaian nasehat ini disampaikan di hadapan khalayak ramai, atau dari atas podium, atau yang serupa. Bahkan terdapat satu isyarat bahwa nasehat ini disampaikan secara langsung dihadapannya, oleh karena itu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (عند سلطان جائر) “di sisi/di hadapan seorang penguasa yang jahat“.

Dengan demikian hadits ini amat menyelisihi perbuatan banyak orang yang sok berpegangan dengan hadits ini, kemudian berorasi di mana-mana dengan menyebutkan berbagai kritikannya kepada pemerintah, atau dengan berdemontrasi, atau yang serupa. Sebab ia menyampaikan nasehat bukan di hadapan penguasa, akan tetapi di hadapan masyarakat, sehingga yang terjadi hanyalah kekacauan, keresahan dan jatuhnya kewibawaan pemerintah di hadapan masyarakat. Dan bila kewibawaan pemerintah telah jatuh, maka para penjahat, pencuri, perampok, dan orang jahat lainnya akan semakin berani melancarkan kejahatannya. Hal ini sudah sama-sama kita rasakan pada masa-masa yang dijuluki oleh banyak orang dengan masa reformasi, padahal yang terjadi sebenarnya ialah masa-masa repot nasi. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari masa-masa kelam nan suram yang pernah kita lalui bersama?!

Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya adalah orang yang semangat dalam menjalankan metode-metode yang diajarkan Nabi yang tidak berbicara kecuali dengan wahyu dari Allah. Maka sungguh sangat menyedihkan jika kita mendapati seorang yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah” kemudian malah mencari metode-metode lain yang tidak diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih-lebih lagi jika ternyata metode yang mereka gunakan adalah metode hasil import dari orang-orang kafir, Allahul Musta’aan…!!!

Oleh karena itu sikap menghujat pemerintah baik di mimbar-mimbar atau di ceramah-ceramah atau melalui demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan di jalan-jalan sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan metode yang digariskan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits di atas.

BOLEHKAH MEMBERONTAK KEPADA PENGUASA YANG DZOLIM?

Merupakan perkara yang dimaklumi bahwasanya diantara ushul (pokok-pokok) madzhab khawarij (dan juga mu’tazilah –akan datang penjelasannya) adalah memberontak terhadap penguasa yang dzolim. Bahkan orang-orang mu’tazilah pun mengetahui akan hal ini sebagaimana penuturan Abdul Qoohir Al-Baghdaadi berikut ini.

Abdul Qoohir Al-Baghdaadi mengatakan, “Dan mereka telah berselisih pendapat tentang perkara-perkara apa yang disepakati khawarij meskipun mereka terpecah-pecah menjadi bermadzhab-madzhab. Maka Al-Ka’bi (seorang tokoh mu’tazilah -pen) menyebutkan dalam kumpulan perkataan-perkataannya bahwasanya yang menggabungkan khawarij (yang disepakati oleh seluruh khawarij -pen) meskipun mereka terpecah menjadi bermadzhab-madzhab adalah pengkafiran Ali, Utsman, kedua hakim, orang-orang yang ikut perang jamal, semua orang yang setuju dengan penetapan hukum kedua hakim, mengkafirkan (orang yang) melakukan dosa, dan wajib memberontak terhadap imam yang dzolim. Sedangkan guru kami Abul Hasan (Al-Asy’ari) berkata, “Yang menggabungkan khawarij (yang disepakati seluruh firqoh-firqoh khawarij -pen) adalah pengkafiran Ali, Utsman, orang-orang yang ikut perang jamal, kedua hakim, dan barangsiapa yang ridho dengan penetapan hukum (melalui kedua hakim -pen), membenarkan kedua hakim atau salah satunya, dan wajibnya memberontak kepada penguasa yang dzolim”. Dan ia (Abul Hasan Al-Asy’ari) tidak setuju apa yang disebutkan oleh Al-Ka’bi bahwasanya khawarij sepakat mengkafirkan pelaku dosa-dosa. Dan yang benar apa yang disampaikan oleh guru kami Abul Hasan dari mereka”. [Al-Farqu bainal Firoq hal 55]

Dan memberontak serta memerangi penguasa muslim yang dzolim merupakan pemikiran yang disepakati oleh seluruh firqoh-firqoh khawarij kecuali Al-Ibaadhiah yang memandang tidak harus dengan memberontak dengan mengangkat senjata. Akan tetapi yang penting penguasa yang dzolim itu bisa disingkirkan sesuai dengan kemampuan rakyat, baik dengan pedang (senjata) ataupun dengan cara-cara yang lainnya.

Abul Hasan Al-Asy’ari berkata, “Adapun (mengangkat) pedang (untuk melawan penguasa yang dzolim -pen) maka khawarij mengatakan dan berpendapat demikian, hanya saja Al-Ibaadhiah (salah satu firqoh Khawarij -pen) tidak memandang penentangan rakyat (kepada penguasa) dengan pedang, akan tetapi mereka memandang untuk menghilangkan para penguasa yang dzolim (lalim) dan mencegah mereka untuk menjadi para penguasa dengan cara apa saja yang rakyat mampu baik dengan pedang ataupun dengan selain pedang” [Maqoolaat Al-Islaamiyiin I/125]. Oleh karena itu banyak ulama yang menyatakan bahwa membangkang terhadap penguasa yang dzolim adalah madzhab khawarij dan mu’tazilah.

Imam Al-Aajurri berkata, “Maka tidak semestinya orang yang melihat ijtihadnya seorang khawarij yang telah membelot kepada penguasa baik yang adil atau yang dzolim lantas ia membelot dan mengumpulkan massa dan menghunuskan pedangnya serta menghalalkan (untuk) memerangi kaum muslimin, maka tidaklah semestinya ia terpedaya dengan qiro’ah (bacaan Al-Qur’an) si khawarij ini, jangan juga terpedaya dengan lamanya sholatnya, tidak juga puasanya yang terus-menerus, tidak juga indahnya perkataannya dalam ilmu jika madzhabnya adalah madzhab khawari”. [Asy-Syari’ah I/345]

Ibnu Abdil Barr berkata, “Firqoh-firqoh Mu’tazilah dan seluruh Khawarij berpendapat untuk menentang penguasa yang dzolim, adapun Ahlus Sunnah maka mereka berkata, “Yang merupakan pilihan yaitu hendaknya sang penguasa adalah utama, adil, dan baik. Namun jika tidak demikian maka kesabaran untuk taat kepada penguasa yang dzolim lebih utama daripada memberontak kepadanya…” [Syarh Al-Muwaththo’ li Az-Zarqooni III/12]

Imam An-Nawawi berkata, “Adapun sisi yang disebutkan dalam buku-buku fikih karya sebagian sahabat kami (syafi’iyah) bahwasanya penguasa boleh dilengserkan (jika dzolim) dan juga dihikayatkan dari Mu’tazilah maka ini merupakan kesalahan orang yang berpendapat demikian dan menyelisihi ijmak (konsensus para ulama).” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim XII/229]

Ibnu Taimiyyah berkata, “Oleh karena itu Nabi memerintahkan untuk bersabar terhadap kedzoliman para penguasa dan melarang untuk memerangi mereka selama mereka masih sholat.

Rasulullah bersabda:

أَدُّوْا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوْا اللهَ حَقَّكُمْ

“Tunaikanlah kalian hak-hak mereka (para penguasa) dan mintalah hak-hak kalian kepada Allah.” (HR Al-Bukhari VI/2588 no 6644)

Dan kami telah menjelaskan hal ini secara panjang lebar di tempat yang lain.

Oleh karena itu merupakan Ushuul (prinsip-prinsip dasar) Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah adalah senantiasa bersatu dengan Jamaa’ah dan meninggalkan sikap memerangi (para pemimpin yang dzolim-pen) tatkala fitnah. Adapun Ahlul Ahwaa’ (pengekor hawa nafsu) seperti Mu’tazilah maka mereka memandang sikap memerangi para penguasa merupakan Ushuul agama mereka(*). Mu’tazilah menjadikan prinsip-prinsip dasar agama mereka ada lima. (1) Tauhid yaitu menafikan sifat-sifat Allah, (2) Keadilan yaitu mendustakan taqdir, (3) Al-Manzilah baina manzilatain, (4) Pelaksanaan ancaman (yaitu pelaku dosa besar akhirnya kekal di neraka-pen), dan (5) Amar ma’ruuf nahi mungkar yaitu memerangi para penguasa”. [Majmuu’ Fataawaa XXVIII/128-129]

(*) Penguasa di sini maksudnya adalah penguasa yang dzolim, karena hal ini jelas dari perkataan Ibnu Taimiyyah baik dilihat dari perkataan sebelumnya ataupun sesudahnya. Maka silahkan lihat perkataan beliau selengkapnya di Majmuu’ Fataawaa XXVIII/128-129

Pemberontak Adalah Mubtadi’

Banyak ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwasanya barangsiapa yang memberontak (keluar dari ketaatan) terhadap pemerintah yang dzolim maka ia adalah mubtadi’ yang telah menyimpang dan keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ali bin Al-Madiini berkata, “Semoga Allah memuliakan engkau. Sunnah yang lazim yang barang siapa yang meninggalkan salah satu perkara darinya dan tidak berpendapat dengan sunnah tersebut atau tidak beriman dengannya maka dia bukanlah termasuk ahlu sunnah tersebut…” [Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah I/165]. Kemudian ia menyebutkan perkara-perkara tersebut hingga beliau berkata, “… Kemudian mendengar dan taat kepada para penguasa dan para pemerintah kaum mukminin baik sholeh maupun jahat dan (setia mendengar dan taat) kepada orang yang memegang tampuk khilafah dengan kesepakatan manusia dan keridhoan mereka. Tidak halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tidur malam hari kecuali ia memiliki seorang imam baik sholeh maupun jahat…” [Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah I/167]. Kemudian ia berkata, “…Barangsiapa yang memberontak kepada seorang penguasa dari para penguasa kaum muslimin padahal manusia telah bersatu bersamanya dan mengakui kekhilafahannya dengan cara apapun (ia berhasil mencapai kehilafahan tersebut-pen), baik dengan diridhoi atau dengan kudeta, maka pemberontak ini telah memecah belah persatuan dan menyelisihi atsar-atsar (hadits-hadits) dari Rasulullah. Jika dia mati maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memerangi penguasa dan memberontak terhadapnya. Barangsiapa yang melakukannya maka dia adalah mubtadi’ tidak mengamalkan sunnah”. [Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah I/168]

Imam Ahmad bin hambal berkata, “Setia mendengar dan taat kepada para penguasa dan pemimpin kaum muslimin baik yang sholeh maupun yang jahat…” [Ushulus Sunnah hal 42 point no 15]

Kemudian beliau berkata, “Barangsiapa yang memberontak kepada seorang pemimpin kaum muslimin padahal kaum muslimin telah bersatu di bawah kepemimpinan dan kekhilafahannya dengan cara apapun (ia berhasil mencapai kehilafahan tersebut -pen), baik dengan diridhoi atau dengan kudeta, maka ia telah memecah tongkat persatuan kaum muslimin dan telah menyelisihi atsar-atsar dari Rasulullah. Jika dia si khawarij (pemberontak) ini mati maka matinya mati jahiliyah. Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memerangi penguasa dan tidak juga memberontak terhadapnya. Barangsiapa yang melakukannya maka ia adalah mubtadi’ tidak di atas sunnah dan jalan (yang lurus)”. [Ushulus Sunnah hal 45-47 point no 20 dan 21]

Ibnul Qoyyim berkata, “Dan kami telah menyebutkan di awal kitab ini sejumlah perkataan-perkataan Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits yang merupakan konsensus mereka sebagaimana dihikayatkan oleh Al-‘Asy’ari dari mereka. Dan kami menghikayatkan konsensus-konsensus mereka sebagaimana dihikayatkan oleh Harb –sahabat Imam Ahmad- dari mereka secara tekstual. Ia berkata…, ”Ini adalah madzhab Ahlul Ilmi, Pengikut Atsar, dan Ahlus Sunnah yang berpegang teguh dengan sunnah yang merupakan panutan (teladan) sejak zaman para sahabat Nabi hingga hari ini. Dan aku telah mendapati orang-orang yang aku temui yaitu para ulama darii penduduk Hijaaz, Syaam, dan selain mereka berada di atas madzhab ini. Maka barangsiapa yang menyelisihi sesuatu dari madzhab ini atau mencela madzhab ini ata mencela pengucapnya (yang berpendapat dengan madzhab ini) maka dia adalah mubtadi’ yang keluar dari jama’ah (Ahlus Sunnah), telah melenceng dari manhaj Ahlus Sunnah dan jalan kebenaran…” Dia berkata, “Dan ini adalah madzhab Ahmad, Ishaaq bin Ibrahim, Abdullah bin Makhlad, Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi, Sa’iid bin Manshuur, dan yang lainnya dari orang-orang yang telah kami bermajelis dengan mereka dan kami mengambil ilmu dari mereka. Dan diantara perkataan mereka…” (Kemudian dia pun menyebutkan aqidah-aqidah mereka hingga ia berkata) “Dan jihad berjalan tegak bersama para penguasa baik mereka adalah penguasa yang baik ataupun yang fajir. Hal ini tidak dibatalkan dengan kedzoliman orang yang dzolim dan tidak juga keadilan seorang yang adil. Demikian juga (sholat) jum’at, sholat ‘ied, haji dijalankan bersama penguasa meskipun mereka tidak baik… dan tunduk kepada orang yang telah dijadikan Allah sebagai penguasa urusan kalian. Janganlah engkau mencabut tangan dari ketaatan kepadanya dan janganlah engkau memberontak kepadanya dengan (mengangkat) pedang hingga Allah menjadikan bagi engkau kemudahan dan jalan keluar. Dan janganlah engkau memberontak kepada penguasa dan (hendaknya) engkau mendengar dan taat dan tidak membatalkan bai’atmu kepadanya. Barangsiapa yang melakukan hal ini maka dia adalah mubtadi’, penyelisih, dan telah memisahkan diri dan sunnah dan jama’ah. Dan jika sang penguasa memerintahmu untuk melakukan perkara yang ada kemaksiatan kepada Allah maka janganlah sampai engkau mentaatinya dan tidak boleh bagimu untuk memberontak kepadanya dan mencegah hak sang penguasa”. [Haadil Arwaah I/287-288]

PEMBERONTAKAN BUKAN HANYA DENGAN SENJATA SAJA

Syari’at Islam adalah syari’at yang sempurna dan lengkap, setiap bagian dari ajarannya senantiasa melengkapi syari’at lainnya. Islam tidak menerima pemisahan antara berbagai syari’atnya. Dan syari’at Islam –sebagaimana yang telah diketahui- mencakup idiologi (aqidah/keyakinan) yang tertanam dalam sanubari, ucapan yang diucapkan oleh lisan atau yang semakna dengannya, yaitu tulisan, dan juga mencakup amalan. Dan ketiga bagian ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Sebagai contoh sederhana bagi apa yang saya ungkapkan di atas, maka saya mengajak untuk merenungkan contoh berikut:

Ibadah sholat subuh, ini adalah salah satu ibadah agung yang diajarkan dalam Islam. Ibadah ini sekilas hanyalah suatu rangkaian amalan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, dan berjumlah dua rakaat, demikianlah gambaran singkat tentang ibadah ini.

Akan tetapi bila diamati lebih mendalam, ibadah ini lebih dari itu semua, sebab ibadah ini mencakup dua bagian utama:
Keyakinan/niat yang tertanam dalam jiwa.
Amalan, dan amalan terbagi menjadi dua macam:
a. Amalan lisan, yaitu berupa ucapan atau bacaan.
b. Amalan anggota badan.

Keyakinan: Setiap orang yang menjalankan sholat subuh harus meyakini bahwa sholat ini adalah wajib, bahkan bagian dari rukun Islam, dan tidak dibenarkan bagi siapa saja untuk meninggalkannya. Sehingga barang siapa yang menjalankan amalan ini dengan i’tikad/keyakinan bahwa sholat ini hukumnya adalah sunnah, atau mubah, atau fardhu kifayah, maka ia telah berdosa besar, bahkan telah keluar dari agama Islam, karena ia mengingkari salah satu prinsip agama, walaupun ia tidak pernah meninggalkannya. Keyakinan semacam ini merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah ini yang tidak boleh dipisahkan dari amalan lahiriyahnya.

Ucapan: Sebagaimana telah diketahui bahwa pada ibadah sholat terdapat berbagai bacaan yang harus diucapkan oleh setiap orang yang melaksanakannya.

Amalan badan: Sebagaimana telah diketahui bahwa sholat terdiri dari berbagai rangkaian amalan.

Tiga bagian dari amalan ini tidaklah mungkin untuk dipisahkan, dan tidaklah sah dan diterima sholat seseorang yang tidak terpenuhi padanya ketiga bagiannya ini.

Begitu juga halnya dengan pemberontakan terhadap penguasa, amalan ini mencakup dua bagian: keyakinan, dan amalan, dan amalan dapat berupa ucapan lisan dan juga dapat berupa perbuatan anggota badan.

Bila seseorang berkeyakinan bahwa ia dibolehkan untuk memberontak dan menentang penguasa yang sah, maka ia telah melakukan bagian pertama dari pemberontakan terhadap penguasa, dan terwujud padanya salah satu karakteristik sekte khawarij, yaitu ideologi pemberontakan yang tertanam dalam jiwanya. Oleh karena itu, para ulama’ ketika menyebutkan biografi seseorang yang meyakini bolehnya melakukan pemberontakan kepada penguasa yang sah, mereka berkata tentangnya:

كان يرى رأي الخوارج

“Ia berpendapat seperti pendapatnya orang-orang khawarij”

Sebagai contohnya, silahkan baca biografi : Isma’il bin Sami’ Al Hanafy [Haadil Arwaah 1/266] Tsaur bin Zaid Ad Dily [Idem 2/29], Sa’ad bin ‘Ubaidah As Sulamy [Idem 3/415], ‘Ikrimah Maula Ibnu ‘Abbas [Idem 7/234], Ma’mar bin Al Mutsanna Abu ‘Ubaidah [Idem 10/221], dan Naser bin ‘Ashim Al Laitsi [Idem 10/381].

Atau dengan berkata:

كان يرى السيف

“Dahulu ia berpendapat bolehnya memberontak dengan pedang/senjata”

Sebagaimana pada biografi Ali bin Abi Tholhah [Idem 7/298], Imron Al Qothon Al Bashry [Idem 8/116].

Adapun ucapan atau tulisan, maka lebih jelas lagi bahwa setiap orang yang menyatakan dengan lisannya atau tulisannya bahwa ia membolehkan pemberontakan kepada penguasa, maka tidak diragukan lagi bahwa perlakuannya itu adalah bagian dari perilaku sekte khawarij. Oleh karena itu para ulama’ tidak ada yang meragukan bahwa ‘Imraan bin Hitthan, adalah seorang khawarij, padahal yang ia lakukan hanyalah menyusun bait-bait syair yang memuji perilaku sekte khawarij dan memprovokasi masyarakat untuk memberontak. Silahkan baca biografinya pada Tahzibut Tahzib karya Ibnu hajar Al Asqalany 8/113.

Belajar dari Kisah Dzul Khuwaishirah

Dan kisah berikut dapat menjadi contoh nyata dan sekaligus dalil akan hal ini:

عن أبي سعيد رضي الله عنه قال: بينا نحن عند رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو يقسم قسماَ، أتاه ذو الخويصرة -وهو رجل من بني تميم- فقال: يا رسول الله، اعدل! قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ويلك ومن يعدل إن لم أعدل؟!، قد خبت وخسرت إن لم أعدل . فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه يا رسول الله ائذن لي فيه، أضرب عنقه. قال رسول الله صلى الله عليه و سلم دعه فإن له أصحاباً يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم، وصيامه مع صيامهم، يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية
وفي رواية : إنه يخرج من ضئضئي هذا، قوم يتلون كتاب الله رطباً لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

“Dari Abi Sa’id Al Khudry rodiallahu ‘anhu, ia menuturkan: Tatkala kami sedang berada di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang membagi-bagikan pembagian, tiba-tiba datang kepada beliau Dzul Khuwaishirah –dia adalah seorang lelaki dari Bani Tamim-, lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, berlaku adillah! Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah kamu, siapakah yang akan berbuat adil bila aku tidak berbuat adil?! Engkau pasti binasa lagi merugi bila aku tidak berlaku adil.” Kemudian Umar bin Al KHatthab berkata: Wahai Rasulullah, perkenankanlah aku pada orang ini, akan aku penggal lehernya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia memiliki sahabat-sahabat yang salah seorang dari kalian akan menganggap remeh/sedikit sholatnya bila dibanding dengan sholat mereka, puasanya bila dibanding dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an , akan tetapi bacaan Al-Qur’an mereka tidak dapat melewati tulang lehernya. Mereka akan keluar dari agama islam layaknya sebuah anak panah yang melesat tembus dari binatang buruan.”

Pada riwayat lain dinyatakan: “Sesungguhnya akan terlahir dari keturunan orang ini suatu kaum yang mereka membaca kitab Allah dalam keadaan utuh, akan tetapi bacaannya tidak dapat melewati kerongkongannya. Mereka akan keluar dari agama layaknya sebuah anak panah yang melesat tembus dari binatang buruan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dzul Khuwaisirah inilah cikal bakal dan perintis paham khawarij, dan ia memulai dan mewariskan paham ini ke anak keturunan dan pengikutnya dalam wujud ucapan dan idiologi/pemahaman, dan belum dalam bentuk perbuatan. Sebab sekte khawarij pertama kali mengadakan pemberontakan pada zaman Khilafah Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu, adapun pada zaman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar & Umar, mereka tidak berani untuk melakukan hal tersebut. Mereka merintis paham ini dimulai dengan keyakinan bahwa penguasa telah berlaku lalim sehingga boleh untuk digulingkan atau diberontak, kemudian mereka mensosialisasikan paham ini melalui ucapan atau tulisan, dan pada akhirnya tergalanglah kekuatan sehingga mereka memberanikan diri untuk melakukan pemberontakan terbesar, yaitu pemberontakan dengan angkat senjata, dan itulah yang terjadi di setiap zaman dan tempat, dan demikianlah logika akal sehat mengurutkan kronologi setiap pemberontakan.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Akan terlahirkan dari keturunan orang ini suatu kaum yang mereka membaca kitab Allah dalam keadaan utuh, akan tetapi bacaannya tidak dapat melewati kerongkongannya.” Ini merupakan dalil yang sangat kuat bahwasanya sikap khuruj (pemberontakan) terhadap penguasa bisa terwujud dengan mengangkat pedang dan juga bisa dengan perkataan. Orang ini (yang meminta Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk berlaku adil -pen) tidak mengangkat pedang untuk melawan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia menentang Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun apa yang terdapat dalam buku-buku Ahlus Sunnah bahwasanya memberontak terhadap penguasa adalah memberontak dengan mengangkat pedang, maka maksudnya adalah pemberontakan yang terakhir dan yang terbesar. Hal ini sebagaimana sabda Nabi bahwasanya zina itu dengan mata, dengan telinga, dengan tangan, dengan kaki, akan tetapi zina yang paling besar adalah zina yang hakiki yaitu zina dengan kemaluan. Oleh karena itu Nabi berkata, “Kemaluan membenarkannya atau mendustakannya.” (Hadits tentang perzinaan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)

Syaikh Al Utsaimin juga berkata, “Dan kita mengetahui dengan penuh keyakinan bahwasanya merupakan konsekuensi dari kondisi yang biasa terjadi yaitu tidaklah mungkin terjadi pemberontakan dengan mengangkat pedang kecuali telah terjadi sebelumnya pemberontakan dengan lisan dan perkataan. Masyarakat tidak mungkin untuk mengangkat pedang-pedang mereka guna memerangi penguasa tanpa ada sesuatu yang mengobarkan mereka. Pasti ada sesuatu yang menprovokasi mereka, yaitu perkataan. Jika demikian maka memberontak kepada pemerintah dengan perkataan merupakan sikap memberontak yang hakiki sebagaimana hal ini ditunjukan oleh As Sunnah dan dibuktikan oleh fakta yang ada. Adapun sunnah maka kalian telah mengetahuinya. Adapun fakta yang terjadi, maka kita mengetahui dengan yakin bahwasanya pemberontakan dengan mengangkat senjata adalah cabang dari pemberontakan dengan lisan dan perkataan, karena masyarakat tidak akan memberontak kepada penguasa (hanya dengan sekedar mengambil pedang -pen), pasti ada pembukaan dan pengantar (terlebih dahulu seperti), mencela para penguasa, menutup-nutupi kebaikan mereka, kemudian akhirnya hati masyarakat terpenuhi dengan kemarahan dan kedengkian, dan kala itulah timbul bencana”. [Komentar Syaikh Utsaimin terhadap risalah As-Syaukani yang berjudul “Rof’ul Asaathiin fi hukmi al-Ittishool bis Salaathiin”. Kaset no 2 side A]

Adapun perbuatan, yaitu berupa pemberontakan dengan angkat senjata melawan penguasa yang sah, maka tidak diragukan lagi, itu sebagai bagian dari perilaku dan karakteristik sekte khawarij. Tidaklah mereka disebut dengan sekte khawarij, melainkan karena mereka senantiasa memberontak kepada setiap penguasa yang selain dari sektenya.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa provokasi massa dan menyebut-nyebut kekurangan atau kesalahan penguasa di hadapan khalayak, baik melalui mimbar, atau mass media atau lainnya sebagai perilaku sekte khawarij, dan juga pemberontakan terhadap penguasa adalah ucapan Usamah bin Zaid di atas:

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيْلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلاَنًا. عِنْدَ مُسْلِمٍ: عُثْمَانَ . فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَرَوْنَ أَنِّي لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ .عِنْدَ مُسْلِمٍ:فَيْمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ. دُوْنَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لاَ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

Abu Wa’il mengisahkan: “Dikatakan kepada Usaamah (bin Zaid bin Haritsah), “Kalau seandainya engkau mendatangi si fulan (pada riwayat Muslim, dijelaskan siapa si fulan, yaitu: Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu) lalu engkau menegurnya?” Usamah berkata, “Sesungguhnya kalian benar-benar beranggapan bahwasanya aku tidak menegurnya kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menegurnya secara diam-diam (pada riwayat Muslim: “antara aku dan dia (empat mata”) tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Usamah “tanpa aku membuka sebuah pintu” dengan berkata, أَيْ بَابُ الإِنْكَارِ عَلَى الْأَئِمَّةِ عَلاَنِيَةً خَشْيَةَ أَنْ تَفْتَرِقَ الْكَلِمَةُ “Yaitu pintu mengingkari para penguasa dengan cara terang-terangan (di hadapan khalayak), karena aku mengawatirkan persatuan kaum muslimin akan tercerai-berai.” (Fathul Bari 13/52)

Dan pemahaman ini juga diakui oleh orang yang pernah melakukan hal tersebut, yaitu Abdullah bin ‘Ukaim, beliau dahulu ikut andil dalam menyebut-nyebut kesalahan kholifah Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu. Renungkanlah pengakuan beliau berikut ini:

لاَ أُعِيْنُ عَلَى قَتْلِ خَلِيْفَةٍ بَعْدَ عُثْمَانَ أَبَدًا، فَقِيْلَ لَهُ أَعَنْتَ عَلَى دَمِهِ؟ قَالَ إِنِّي أَعُدُّ ذِكْرَ مَسَاوِئِهِ عَوْنًا عَلَى دَمِهِ

“Aku tidak akan pernah lagi selama-lamanya ikut membantu pembunuhan seorang khalifah (penguasa) setelah Utsman”. Maka dikatakan kepadanya, “Apakah engkau telah membantu pembunuhannya?” Abdullah bin ‘Ukaim berkata: “Aku menganggap penyebutan kejelekan-kejelekannya adalah wujud andil dalam membantu pembunuhannya.” [Ibnu Sa’ad (At-Thobaqoot Al-Kubro III/80) dan Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushonnaf VI/362 no 32043), Al-Bukhari (At-Taariikh Al-Kabiir I/31 pada biografi no 45 Muhammad bin Abi Ayyuub At-Tsaqofi. Sanad atsar ini adalah hasan. Semua perawinya tsiqoh kecuali Muhammad bin Abi Ayyuub Abu ‘Asim At Tsaqofi derajatnya adalah shoduuq (Taqribut Tahdziib biografi no 5753)]

Syaikh Sholeh Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah khuruj (memberontak) kepada penguasa hanyalah dengan mengangkat pedang saja, ataukah termasuk juga memberontak dapat berwujud dalam pencelaan terhadap pemerintah dan memprovokasi masa untuk menentang pemerintah dan berdemonstrasi menentang pemerintah?”

Beliau menjawab, “Kami telah menjelaskan hal ini kepada kalian, kami telah mengatakan bahwasanya memberontak kepada pemerintah bisa dengan mengangkat pedang dan membicarakan (kejelekan-kejelekan -pen) mereka di majelis-majelis dan di atas mimbar-mimbar. Perbuatan ini menyebabkan berkobarnya gejolak massa dan memprovokasi mereka untuk memberontak kepada pemerintah dan berkuranglah wibawa pemerintah di mata mereka. Maka perkataan adalah (termasuk) pemberontakan”. [Dinukil dari Al-Fataawa Asy-Syar’iyyah fil Qodhooyaa Al-‘Ashriyyah hal 107]

Syaikh Sholeh bin Ghonim As-Sadlan menjawab pertanyaan tentang pembatasan makna pemberontakan kepada pemerintah hanya pada pemberontakan fisik (jika melawan dengan senjata) dan provokasi dengan pidato-pidato bukanlah bentuk pemberontakan.

Beliau berkata, “Ini adalah pertanyaan yang bahaya. Sebagian saudara-saudara kita terkadang melakukan hal ini (pidato-pidato provokasi) dengan niat yang baik dengan berkeyakinan bahwa yang namanya pemberontakan hanyalah jika dengan mengangkat senjata. Padahal pada hakekatnya yang namanya pemberontakan tidak hanya terbatas pada kekuatan senjata saja atau hanya terbatas pada sikap terus melakukan cara-cara yang sudah dikenal saja. Bahkan pemberontakan (pembangkangan terhadap pemerintah) dengan perkataan lebih parah daripada pemberontakan dengan senjata, karena pemberontakan dengan senjata dan kekerasan tidak dikembangkan kecuali dengan perkataan.

Maka kami katakan kepada saudara-saudara kami yang telah terbawa oleh semangat –dan tetap berprasangka kebaikan dari mereka insya Allah- wajib bagi mereka untuk bertindak perlahan-lahan. Kami katakan kepada mereka, “Pelan-pelan!!”, sesungguhnya sikap kalian yang ekstrim dan sikap keras kalian akan menumbuhkan sesuatu di hati. Akan mendidik hati-hati yang jernih (lugu) yang tidak mengetahui kecuali hanya pembelaan. Sebagaimana akan membuka pintu-pintu bagi orang-orang yang memiliki kepentingan untuk bisa menyampaikan apa yang terpendam dalam hati-hati mereka –apakah benar ataupun batil-.

Dan tidak diragukan bahwasanya khuruj (pembangkangan) dengan menggunakan perkataan dan memanfaatkan pena-pena dengan metode apa saja, atau memanfaatkan kaset-kaset, atau ceramah-ceramah, atau seminar-seminar untuk memprovokasi masa dengan cara yang tidak syar’i, maka aku yakin bahwasanya ini merupakan pondasi pemberontakan dengan senjata. Aku peringatkan dengan keras bahaya hal ini, dan aku berkata kepada mereka, “Wajib atas kalian untuk mempertimbangkan kepada hasil (akibat yang akan terjadi), mempertimbangkan kepada orang-orang yang telah mendahului kalian dengan sikap seperti ini”. Hendaknya mereka melihat kepada fitnah-fitnah yang telah menimpa sebagian masyarakat Islam, apakah sebabnya?? Apakah langkah-langkah yang telah menghantarkan mereka sampai pada apa yang mereka rasakan??! Jika kita telah mengetahui hal ini maka kita akan paham bahwasanya membangkang dengan perkataan serta memanfaatkan sarana-saran informasi dan mas media untuk menjauhkan, provokasi, dan intimidasi akan menanamkan fitnah di hati”. [Sebagaimana di kitab “Murooja’aat fi fiqhil Waaqi’ As-Siyaasi wal Fikri” hal 88]

Khawarij Juga Memberontak dengan Kata-Kata

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa diantara sekte-sekte Khawarij ada yang bernama sekte Al-Qo’adiyah. Mereka adalah khawarij yang tidak ikut memberontak dan membangkang kepada pemerintah dengan mengangkat senjata atau dengan perlawanan dalam fisik. Akan tetapi mereka membangkang terhadap pemerintah dengan perkataan-perkataan mereka yang memprovokasi masa untuk memberontak kepada pemerintah. Oleh karenanya mereka dinamakan dengan Al-Qo’adiyah yang artinya adalah sekte Khawarij yang hanya duduk (memprovokasi) dan tidak ikut berperang mengangkat senjata melawan pemerintah.

Ibnu Hajar ketika mengomentari –biografi Imroon bin Hitthoon As-Saduusi (tokoh khawarij Al-Qo’adiyah)-, berkata “Ia adalah seorang penyair yang terkenal. Ia berkeyakinan dengan keyakinan orang-orang khawarij. Berkata Abul Abbas Al-Mubarrid, “Imron adalah tokoh pimpinan Al-Qo’adiyah dari sekte As-Shofariyah, beliau adalah tukang khutbah dan tukang sya’ir mereka”.

وَالْقَعَدِيَةُ قَوْمٌ مِنَ الْخَوَارِجِ كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ بِقَوْلِهِمْ وَلاَ يَرَوْنَ الْخُرُوْجَ بَلْ يُزَيِّنْنَهُ

“Dan Al-Qo’adiyah adalah sebuah kaum dari khawarij yang mereka berpendapat dengan pendapat khawarij dan mereka tidak berkeyakinan bolehnya memberontak akan tetapi mereka hanya memuji-muji pemberontakan.” [Hadyus Saari hal 432, & 459. Baca juga Al Farqu Bainal FIraq oleh Al baghdady 1/63, Al Milal wa An Nihal oleh As Syahrastany 1/117, Maqalaat Al Islamiyyin, oleh Al Asy’ary 1/169]

IJMA’ ULAMA’ TENTANG LARANGAN MEMBERONTAK

Bila kita menela’ah karya-karya ulama’ sejak zaman dahulu kala hingga zaman sekarang, niscaya kita akan dapatkan banyak dari mereka yang menegaskan tentang adanya ijma’ ini.

Imam Al-Bukhari berkata, “Aku bertemu lebih dari seribu orang dari kalangan ahli ilmu (dari) penduduk Hijaaz, Mekah, Madinah, Kuufah, Bashroh, Wasith, Baghdaad, Syaam, dan Mesir. Aku bertemu dengan mereka berulang-ulang kurun demi kurun kemudian kurun demi kurun. Aku bertemu dengan mereka dan mereka tersebar lebih dari empat puluh enam tahun. (Aku bertemu dengan) penduduk Syam, Mesir, dan Jazirah dua kali. (Dengan) penduduk Bashroh empat kali dalam beberapa tahun. (Dengan) penduduk Hijaaz selama enam tahun, dan aku tidak bisa menghitung berapa kali aku masuk ke Kuufah dan Baghdaad bersama para Ahli Hadits dari penduduk Khurosaan yang diantaranya adalah…” (Kemudian Imam Al-Bukhari menyebutkan sebagian nama-nama mereka. Lalu ia menyebutkan beberapa permasalahan aqidah diantaranya -pen)…”Dan kita tidak berusaha merebut kekuasaan dari para pemiliknya (penguasa)… dan tidak membolehkan untuk mengangkat pedang (mengangkat senjata) terhadap umat Muhammad. Dan Al-Fudhail berkata, “Kalau seandainya aku memiliki doa yang dikabulkan maka tidaklah akan aku peruntukkan kecuali untuk penguasa karena jika penguasa menjadi baik, maka akan aman dan tentramlah negeri dan penduduknya…” (Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’i dalam kitab beliau “Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah” 1/172-176 no 320)

Ibnu Abi Haatim Ar-Roozi mengatakan, “Aku bertanya kepada ayahku (Abu Haatim Ar-Roozi) dan Abu Zur’ah tentang pendapat Ahlus Sunnah seputar prinsip-prinsip agama dan tentang ajaran yang mereka dapati dari para ulama di seluruh negeri, dan tentang apa yang mereka yakini dari hal tersebut?” Maka mereka berdua menjawab: “Kami mendapati para ulama di seluruh kota (negeri), di Hijaaz, Irak, Syaam, dan Yaman, maka diantara pendapat mereka adalah…” (lalu mereka berdua menyebutkan banyak perkara diantaranya -pen)…” Dan kami tidak membolehkan pemberontakan kepada para penguasa, dan tidak juga berperang tatkala terjadi fitnah. Kami mendengar dan taat kepada orang yang telah Allah jadikan sebagai penguasa urusan kami, dan kami tidak mencabut tangan kami dari ketaatan kepadanya…” (diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’i dalam kitab beliau “Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah” 1/176-177)

Abul Hasan Al-Asy’ari –tatkala menyebutkan perkara-perkara yang merupakan ijma’ para as-Salaf as-Shaalih- berkata, “Ijma’ ke empat puluh delapan. Mereka (para salaf) berijma’ untuk senantiasa setia mendengar dan taat kepada para penguasa kaum muslimin, dan barang siapa yang berhasil menguasai pemerintahan kaum muslimin baik dengan cara yang diridhoi atau dengan cara kudeta dan akhirnya kekuasaan berada padanya –baik ia adalah orang baik maupun jahat- maka tidak boleh untuk memberontak dengan mengangkat senjata kepadanya baik ia berlaku jahat atau adil. Dan wajib untuk berperang bersama mereka (para penguasa) melawan musuh…” (Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr 296-297)

Imam Ibnu Batthol tatkala mengomentari hadits:

من فارق الجماعة شبراً فكأنما خلع ربقة الإسلام من عنقه

“Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal maka seakan-akan ia telah melepaskan tali (ikatan) Islam dari lehernya” (Riwayat At Tirmizy, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban)

Beliau berkata: “Pada hadits ini terdapat dalil bagi kewajiban untuk tidak memberontak kepada penguasa meskipun ia adalah penguasa yang lalim (dzolim). Para ahli fiqih telah ijma’ (berkonsensus) akan wajibnya taat kepada penguasa yang berhasil mencapai kekuasaan dengan cara kudeta (kepada penguasa sebelumnya -pen) dan wajibnya berjihad bersamanya, serta ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya, hal ini demi menjaga darah (nyawa masyarakat) dan menenangkan masyarakat umum. Dan dalil mereka adalah hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang mendukung hadits ini. Mereka tidak mengecualikan selain jika sang penguasa melakukan kekafiran yang sangat jelas (nyata) maka tidak boleh taat kepadanya. Bahkan wajib untuk berjihad melawannya bagi siapa yang mampu untuk melakukan hal itu sebagaimana pada hadits setelahnya (*)” (Perkataan beliau ini dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/7)

(*) Maksud Ibnu Batthool adalah hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit yang telah lalu penyebutannya. Hal ini menunjukan bahwa Ibnu Bathhool memahami bahwa yang dimaksud dengan “kekafiran yang nyata” dalam hadits Ubaadah adalah sebagaimana dzohirnya dan bukanlah maknanya kemaksiatan yang nyata sebagaimana pendapat Imam An-Nawawi.

Imam An-Nawawi berkata: “Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka (hukumnya) haram dengan dasar ijma’ (konsensus) kaum muslimin. meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan dzolim. Dan sangat banyak hadits-hadits yang semakna dengan apa yang aku sebutkan ini. Ahlus Sunnah telah ijma’ (berkonsensus) bahwasanya seorang penguasa tidaklah serta merta terlepas kekuasaannya hanya karena ia melakukan kefasikan.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/229)

Ibnul Qoyyim juga berkata, “Pasal tentang apa yang merupakan ijma’ (konsensus) umat dari perkara-perkara aqidah (as sunnah). Tentang perkara-perkara agama dari sunnah-sunnah yang telah disepakati oleh umat dan penyelisihan terhadap perkara-perkara ini adalah bid’ah dan dholalah (kesesatan)….” [Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 83]. Kemudian beliau menyebutkan perkara-perkara yang merupakan konsensus tersebut diantaranya… : “Setia mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin dan setiap orang yang menjadi penguasa urusan kaum muslimin baik dengan kekuasaan itu ia peroleh dengan keridoan ataupun dengan cara kudeta dan keras pijakannya baik dari pemimpin yang baik (sholeh) maupun fajir. Maka tidak boleh memberontak kepadanya baik dia (seorang penguasa yang) dzolim ataupun adil…” (Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 86)

Kemudian setelah menyebutkan perkara-perkara yang merupakan ijma’ umat tersebut maka beliau berkata, “Dan semua yang telah kami sebutkan maka merupakan ajaran Ahlus Sunnah, dan para imam ahli fikih dan hadits (juga) meyakini apa yang telah kami jelaskan (di atas).” (Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 87)

Hukum Pemberontakan Adalah Khilafiyah?

Jika ada yang berkata: Bukankah pemberontakan adalah permasalahan khilafiyah, sehingga tidak boleh diingkari?! Maka jawabannya sebagai berikut:

Jawaban Pertama:

Allah Ta’ala telah berfirman

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisaa’: 59)

Oleh karenanya tatkala timbul perselisihan diantara kita kaum mukminin maka kita jadikan Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim diantara kita.

Maka marilah kita renungkan kembali hadits-hadits di atas, yang menjelaskan wajibnya bersabar atas kedzoliman-kedzoliman para penguasa selama mereka belum kafir. Bukankah hadits-hadits tersebut sangat gamblang dan jelas yang maknanya, sehingga tidak bisa ditarik ulur lagi???!!!

Adakah gambaran kezloliman yang lebih jelas dan kebengisan lebih kejam dari yang digambarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya berikut:

“Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada diantara mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati syaitan yang terdapat di jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah bersabda, “Engkau tetap setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah engkau untuk setia mendengar dan taat!” (Muslim)

Jawaban Kedua:

Memang benar telah timbul khilaf dalam permasalahan bolehnya memberontak terhadap penguasa yang dzolim akan tetapi setelah itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah berijma’ akan haramnya hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan sangat tegas menjelaskan bahwa para ulama’ telah berijma’ tentang hal ini setelah dahulunya pernah terjadi khilaf.

Berikut ini penjelasan Ibnu Taimiyyah dengan panjang lebar:

“Secara global Ahlus sunnah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan kemampuan mereka, sebagaimana firman Allah:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At Taghabun 16)

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah maka kerjakanlah semampu kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan mereka (Ahlus Sunnah) meyakini bahwa Allah Ta’ala mengutus Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa kebaikan bagi para hamba baik dalam kehidupan mereka di dunia ataupun di akhirat, dan beliau memerintahkan kebaikan dan melarang kerusakan. Jika ada suatu perbuatan yang padanya terdapat kebaikan dan kerusakan, maka mereka (Ahlus Sunnah) lebih mendahulukan yang lebih besar kadarnya. Jika kebaikannya lebih banyak daripada kerusakannya, maka mereka mendahulukan untuk mengerjakan perbuatan tersebut. Dan jika kerusakan (mafsadahnya) lebih besar daripada kebaikannya maka mereka mendahulukan untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Karena sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk mewujudkan segala kebaikan serta menyempurnakannya dan menghilangkan segala mafsadah serta menguranginya.

Sehingga jika seorang khalifah telah berkuasa, misalnya Yaziid (bin Mu’aawiyah), Abdul Malik (Bin Marwan), (Abu Ja’far) Al-Manshuur, dan yang lainnya, maka kalau tidak dikatakan bahwasanya wajib untuk menghalanginya dari tampuk kepemimpinan dan memeranginya hingga dikuasai oleh selain dia –sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang membolehkan angkat pedang (melawan penguasa -pen)-, maka ini adalah pemikiran (pendapat) yang rusak karena mafsadahnya lebih besar daripada kemaslahatannya. Dan hampir seluruh orang yang memberontak kepada seorang penguasa yang telah berkuasa melainkan perbuatannya tersebut akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada kebaikan yang berhasil ia peroleh. Sebagaimana orang-orang di kota Madinah yang memberontak kepada Yaziid, seperti Ibnul Asy’ats yang di Irak memberontak terhadap Abdul Malik, Ibnul Muhallab di Khurosaan yang memberontak terhadap putra (Abdul Malik), Abu Muslim –penggalang kekuatan dinasti ‘Abbasiyyah- di Khurosaan yang memberontak terhadap mereka (khilafah Umawiyyah), dan orang-orang yang memberontak terhadap Al-Manshuur di Madinah dan di Bashroh, serta yang semisal dengan mereka.

Hasil terakhir yang dapat diraih: mereka kalah perang atau mereka menang kemudian (tak berapa lama) lenyap kekuasaan mereka, maka tidak ada hasil (yang baik) bagi mereka. Abdullah bin Ali dan Abu Muslim mereka berdualah yang telah membunuh banyak orang namun keduanya (akhirnya) dibunuh oleh Abu Ja’far Al-Manshuur.

Adapun Ahlul Harroh, Ibnul Asy’ats, Ibnul Muhallab, dan yang lainnya maka mereka kalah dan teman-teman mereka pun juga kalah. Mereka tidak bisa menegakkan agama dan dunia mereka pun tidak tersisa. Padahal Allah Ta’ala tidaklah memerintah dengan suatu perintah yang tidak menghasilkan kemaslahatan baik kemaslahatan agama maupun dunia, meskipun pelaku pemberontakan tersebut termasuk wali-wali Allah yang bertakwa dan termasuk penduduk surga. Maka tidaklah mereka lebih baik dari Ali, Aisyah, Tolhah, Az-Zubair, dan yang lainnya, meskipun demikian Ahlus Sunnah tidak memuji peperangan yang telah mereka lakukan, padahal kedudukan mereka lebih mulia di sisi Allah dan niat mereka lebih baik daripada selain mereka.

Demikian juga Ahlul Harroh, diantara mereka banyak ahli ilmu dan ahlud diin (orang-orang yang bertakwa -pen), demikian juga teman-teman (pengikut) Ibnul Asy’ats diantara mereka banyak ulama’ dan ahli ibadah. Semoga Allah mengampuni mereka semua.

Sungguh telah dikatakan kepada Asy-Sya’bi tatkala fitnah Ibnul Asy’ats, “Dimanakah engkau wahai ‘Aamir (Asy-Sya’bi)? maka beliau berkata, “Sebagaimana perkataan seorang penyair

عَوَى الذِّئْبُ فَاسْتَأْنَسْتُ بِالذِّئْبِ إِذْ عَوَى وَصَوَّتَ إِنْسَانٌ فَكِدْتُ أَطِيْرُ

“Serigala menggonggong maka aku pun merasa senang dengan serigala tatkala ia menggonggong
Dan tatkala aku mendengar suara seseorang maka hampir-hampir saja aku terbang (karena kegirangan)” (*)

(*) Mungkin maksudnya ibarat seseorang yang berada di tengah padang pasir di dalam gelap gulita, dan dia merasa tidak ada orang yang bersamanya. Maka tatkala ia mendengar gonggongan serigala maka ia pun senang karena ada secercah harapan karena di sekitarnya ada kehidupan. Dan tatkala ada seorang manusia yang bersuara maka ia pun seakan-akan ingin terbang karena sangat gembiranya karena berarti ada orang lain yang bersama dia di padang pasir tersebut. Wallahu A’lam.

Kami ditimpa fitnah, sedangkan kami bukanlah orang-orang yang baik lagi bertakwa (sehingga ikut tenggelam bersama fitnah tersebut -pen) dan bukan pula orang-orang fajir yang kuat (yang membabi buta menuruti fitnah tersebut -pen). (**)

(**) Wallahu A’lam, Asy-Sya’bi ingin menjelaskan keadaan beliau tatkala fitnah yaitu ia ikut-ikutan, begitu ada orang-orang yang bergerak maka ia pun segera ikut bergerak bersama mereka dalam fitnah sebagaimana seseorang yang di tengah pada pasir tatkala mendengar suara orang lain.

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya Al-Hajjaj adalah wujud dari adzab Allah, maka janganlah kalian melawan adzab Allah dengan tangan-tangan kalian akan tetapi wajib bagi kalian untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri karena sesungguhnya Allah telah berfirman

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al Mukminun: 76)

Tholq bin Habiib berkata, “Lindungilah dirimu dari fitnah dengan ketakwaan”. Maka dikatakan kepadanya, “Simpulkanlah untuk kami apa itu ketakwaan?” Beliau berkata, “Yaitu engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan cahaya dari Allah dengan berharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan cahaya dari Allah karena takut akan adzab Allah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abid Dunya)

Dahulu pemuka/tokoh-tokoh kaum muslimin tatkala terjadi fitnah melarang pemberontakan kepada penguasa dan melarang dari peperangan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar, Sa’iid bin Al-Musayyib, Ali bin Al-Husain dan yang lainnya. Mereka melarang pemberontakan kepada Yaziid tatkala peristiwa Al-Harroh, Sebagaimana juga Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan selain mereka berdua melarang pemberontakan tatkala peristiwa fitnah Ibnul Asy’ats.

Oleh karena itu pendapat Ahlus Sunnah telah bulat/tetap untuk meninggalkan peperangan tatkala terjadi fitnah berdasarkan hadits-hadits yang shahih lagi tetap dari Nabi. Dan kemudian mereka menyebutkan hal ini dalam aqidah-aqidah mereka serta mereka memerintahkan untuk bersabar atas kezoliman para penguasa dan untuk meninggalkan sikap memerangi mereka meskipun banyak dari kalangan ulama’ dan ahli ibadah yang telah berperang disaat terjadi fitnah.

Dan hukum memerangi para bughoot (pemberontak), dan amar ma’ruf nahi mungkar serupa dengan hukum berperang tatkala terjadi fitnah, akan tetapi bukan di sini tempat penjelasannya secara panjang lebar.

Barangsiapa yang mengamati hadits-hadits shahih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembahasan ini dan sekalian juga mengambil pelajaran sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berilmu, niscaya dia akan mengetahui bahwasanya apa (perintah) yang datang dalam hadits-hadits Nabi merupakan perkara yang terbaik.

Oleh karena itu tatkala Al-Husain ingin keluar bergabung dengan penduduk Irak tatkala mereka (penduduk Irak) mengirim banyak surat kepada beliau, maka para ulama’ dan ahli ibadah seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyaam mengisyaratkan kepada Al-Husain agar tidak berangkat (mengurungkan keberangkatannya -pen) dan mereka berpraduga kuat bahwasanya ia akan terbunuh. Sampai-sampai sebagian mereka berkata (kepada Al-Husain),

أَسْتَوْدِعُكَ اللهَ مِنْ قَتِيْلٍ

“Aku titipkan engkau kepada Allah, wahai orang yang terbunuh”, dan yang lainnya juga berkata:

لَوْلاَ الشَّفَاعَةُ لأَمْسَكْتُكَ ومنعتك من الخروج

“Seandainya kalau bukan karena (aku beriman akan adanya) As Syafa’at, niscaya aku akan memegangmu dan menahanmu agar tidak berangkat.”

Mereka semua melakukan hal ini dengan tujuan menasehati beliau dan mengupayakan kemaslahatannya dan juga kemaslahatan umat islam secara umum. Allah dan Rasul-Nya hanyalah memerintahkan dengan kemaslahatan dan tidak memerintahkan dengan kemafsadahan (kerusakan), akan tetapi pendapat seseorang terkadang benar dan terkadang keliru.

Kemudian terbukti bahwa urusannya seperti yang dikatakan oleh mereka (yaitu akhirnya Al-Husain terbunuh -pen), dan tidak ada kemaslahatan yang diperoleh dari pemberontakan Al Husain, baik maslahat agama maupun dunia. Bahkan orang-orang yang dzolim lagi melampaui batas tersebut berhasil mengalahkan cucu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhirnya mereka pun membunuhnya dalam keadaan terdzolimi dan mati syahid. Dan akibat pemberontakan Al-Husain dan terbunuhnya dia timbullah kerusakan yang tidak akan terjadi bila seandainya ia tetap berdiam diri di negerinya.

Cita-cita yang hendak beliau capai dari pemberontakan yaitu untuk mewujudkan kebaikan dan menumpas keburukan akhirnya sama sekali tidak tercapai. Bahkan akibat pemberontakan dan terbunuhnya beliau, keburukan semakin bertambah dan sebaliknya kebaikan semakin berkurang. Dan tragedi ini menjadi penyebab timbulkan petaka yang amat besar. Peristiwa terbunuhnya Al-Husain menimbulkan fitnah sebagaimana terbunuhnya Utsmaan menjadi penyebab timbulnya fitnah.

Ini semua menjelaskan bahwa syari’at yang diperintahkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar atas kedzoliman para penguasa dan meninggalkan sikap memerangi dan memberontak kepada mereka adalah perkara yang terbaik bagi para hamba dalam kehidupan mereka (di dunia) dan di akhirat. dan barangsiapa yang menyelisihi hal ini baik secara sengaja atau tidak sengaja maka perbuatannya tersebut tidak akan mendatangkan kebaikan, bahkan mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memuji Al-Hasan (cucu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam) dengan sabdanya:

إنَّ ابني هذا سيد وسيصلح الله به بين فئتين عظيمتين من المسلمين

“Sesungguhnya cucuku ini adalah pemimpin dan dengan perantaranya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin.” (Bukhari)

Dan Nabi tidak memuji seorang pun dengan keikutsertaannya dalam peperangan di saat terjadi fitnah atau pemberontakan terhadap para penguasa atau perlawanan terhadap penguasa atau pemisahan diri dari jama’ah (kesatuan kaum muslimin… (Minhajussunnah 4/527-530)

Al-Qoodhi (‘Iyaadh) berkata: “Dan dikatakan bahwasanya khilaf ini terjadi pada zaman dahulu, kemudian terjadi ijma’ (konsensus) untuk melarang pemberontakan kepada mereka (para penguasa yang dzolim).” (Al Mihaj Syarah Shohih Muslim 12/229)

Ibnu Hajar berkata –pada biografi Al-Hasan bin Shoolih bin Sholeh bin Hay- tatkala menjelaskan makna perkataan para ulama yang menyatakan bahwa Al-Hasan bin Shoolih memandang (bolehnya mengangkat pedang), “…Dan perkataan mereka (para ulama tentang Al-Hasan bin Shoolih) bahwasanya كَانَ يَرَى السَّيْفَ (dia memandang bolehnya mengangkat pedang) yaitu dia memandang (bolehnya) memberontak dengan (mengangkat) pedang kepada para penguasa yang jahat. Dan pendapat ini dahulu merupakan madzhab sebagian ulama’ salaf akan tetapi (setelah itu) telah menjadi ketatapan mereka untuk meninggalkan hal itu, karena meraka memandang bahwa hal itu telah mengantarkan kepada perkara yang lebih buruk daripada hal itu. Dan pada tragedi Al-Harrah dan tragedi Ibnul Asy’ats serta peristiwa-peristiwa yang lainnya terdapat pelajaran bagi orang yang merenunginya.” (Tahzibut Tahzib 2/250)

Bahkan keyakinan seperti ini (membolehkan pemberontakan kepada pemerintah yang jahat merupakan suatu celaan dan sebab untuk mencela seorang perawi hadits. Oleh karena itu banyak dari ulama’ ahli hadits yang tidak menerima riwayat Al Hasan bin Sholeh bin Hay ini dikarenakan keyakinannya ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar pada biografi Al-Hasan bin Shoolin. [Tahdziib at-Tahdziib 2/248, biografi no 516]

KAPAN PEMBERONTAKAN DIBOLEHKAN?

Pertanyaan ini jauh-jauh hari telah dijawab oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai sabdanya, diantaranya sebagaimana yang dituturkan oleh sahabat Ubadah bin Shamit rodiallahu ‘anhu berikut ini:

دَعَانَا النَّبِيُّ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ: فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْ كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ متفق عليه.

“Nabi menyeru kami lalu kami pun membai’at beliau. Dan beliau bersabda tentang hal-hal yang dipersyaratkan atas kami, yaitu beliau membai’at kami untuk setia taat dan mendengar baik pada saat kami dalam keadaan semangat atau dalam keadaan malas, baik dalam keadaan kesusahan atau pun lapang, dalam keadaan hak-hak kami tidak dipenuhi, serta agar kami tidak berusaha merebut kekuasaan dari pemiliknya kecuali jika kalian telah melihat kekufuran yang nyata (jelas) yang kalian memiliki dalil dari Allah akan kekufuran tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah mengomentari sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam “kecuali jika kalian telah melihat kekufuran yang nyata (jelas) yang kalian memiliki dalil dari Allah akan kekufuran tersebut”: Yaitu janganlah kita berusaha untuk menggalang kekuatan untuk memberontak kepada mereka, dan kita merebut sebagian kekuasaan mereka, karena kekuasaan adalah milik mereka maka jangalah kita mengusiknya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kecuali jika kalian telah melihat kekufuran yang nyata (jelas) yang kalian memiliki dalil dari Allah akan kekufuran tersebut” maka dalam kondisi seperti ini kita boleh untuk memberontak kepadanya.

Akan tetapi cermatilah persyaratannya:

“Kalian melihat…“, yaitu kalian melihat secara langsung, bukan hanya sekedar kalian mendengar (kekufuran tersebut). Karena terkadang kita mendengar tentang keburukan-keburukan pemerintah namun tatkala kita teliti dengan seksama, ternyata tidak benar. Oleh karenanya kita harus melihat kekufuran tersebut secara langsung, sama saja apakah kita melihat dengan mata kepala sendiri atau dengan ilmu (yang pasti). Yang jelas kita mengetahui (dengan pasti -pen).
“Kekufuran…“, bukan kefasikan. Dengan demikian bila kita melihat mereka melakukan kefasikan yang terbesar, maka tidak boleh bagi kita untuk memberontak kepada mereka, pemberontakan hanya dilakukan bila kita telah melihat kekafiran.
“Yang nyata/jelas“, yaitu perbuatan kekufuran yang jelas dan tidak ada takwilan atau penafsiran lain selainnya. Kalau ternyata kekafiran tersebut masih dapat ditakwilkan/ditafsiri lain meskipun menurut kita hal itu merupakan kekafiran akan tetapi mereka (pemerintah) tidak memandangnya sebagai kekafiran –sama saja apakah mereka tidak memandangnya sebagai kekafiran karena ijtihad mereka sendiri, atau karena mereka mengikuti ijtihad orang lain yang tidak memandang hal itu sebagai kekafiran-, maka sama sekali tidak boleh bagi kita untuk memberontak. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Barang siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk maka ia telah kafir”. Padahal Al-Makmun (khalifah di zaman Imam Ahamad -pen) mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan ia menyeru manusia untuk mengikutinya serta memenjarakan orang-orang yang tidak mengikuti pendapatnya ini, walau demikian, Imam Ahmad tetap menyebut Al-Makmun dengan sebutan “Amiirul Mukminin (pemimpin kaum mukiminin)”. Karena Imam Ahmad memandang bahwa kekafiran karena perkataan “Al-Qur’an adalah mahluk” bukanlah kekafiran yang jelas (nyata)…
“Kalian memiliki dalil dari Allah akan kekufuran tersebut“, yaitu dalil yang pasti bahwasanya hal itu merupakan kekafiran, bukan hanya sekedar kita berpendapat bahwa hal itu adalah kekafiran, tidak juga hanya sekedar dalil (yang kita pegang) masih muhtamil (tidak tegas) apakah hal itu kekafiran atau bukan. Akan tetapi kita harus tahu bahwa dalil tersebut harus jelas dan nyata bahwa hal itu adalah kekafiran.
Amatilah keempat syarat ini, jika keempat syarat ini telah terpenuhi dengan sempurna, maka kala itu kita memberontak karena sang penguasa tidak memiliki udzur lagi. Walau demikian, pemberontakan ini masih harus memenuhi persyaratan lain, apakah itu?

Kita harus memiliki kemampuan, dan syarat ini sangatlah urgen. Yaitu janganlah sampai kita memberontak lantas kita menggunakan pisau dan ketapel sementara sang penguasa memiliki tank, bom dan yang semisalnya. Kalau seandainya kita (nekad) melakukannya maka kita adalah orang-orang tolol. Kita memberontak kepadanya setelah kita mampu untuk melakukannya. Adapun kita memberontak padahal kita tidak mampu, maka hal ini: (pertama) adalah haram untuk kita lakukan; karena tindakan ini hanya mencelakakan diri kita dan juga mencelakakan orang lain. Dan (kedua) hal ini akhirnya hanyalah mengantarkan kita kepada sikap: yang penting kekuasaan berpindah tangan dari orang pertama (ke orang lain). Padahal setiap penguasa –sebagaimana yang kalian ketahui- memiliki kekuatan, dia selalu menginginkan agar dialah yang menang. Maka jika ia melihat ada pemberontakan, ia akan semakin sombong dan terus tidak berubah bahkan akan semakin parah, sehingga pemberontakan hanya menjatuhkan agama semakin jauh. Maka tidak boleh bagi kita untuk memberontak kecuali jika kita memiliki kemampuan dan kekuatan untuk meneggantikan penguasa tersebut. Jika tidak mampu, maka kita tidak boleh melakukannya.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui letak kesalahan orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ini. Kita melihat kenyataan yang ada sekarang, apakah mereka yang memberontak atas nama Islam kepada negaranya, memiliki kekuatan yang dapat mengimbangi kekuatan negara tersebut? Apakah mereka memiliki pasukan yang mumpuni?

Kemudian bila kita memberontak, –padahal kita tidak memiliki kekuatan, atau mungkin kita memilikinya- apakah hasilnya? Hasilnya adalah kebalikan (dari yang diharapkan), hasil yang sangat jelek…

Dan permasalahan ini sangatlah urgen. Hendaknya seseorang mengambil pelajaran dari kenyataan masa lalu yang telah terjadi dan kenyataan yang ada pada zaman sekarang yang terjadi di sekitarnya.

Hendaknya dia mengambil pelajaran… dan contoh-contoh pemberontakan yang mungkin saat ini sedang terbetik di hati-hati kalian meskipun aku tidak menyebutkannya pada kalian, akan tetapi jelas.” (Syarah Shahih Al-Bukhari, Syarh Kitaabil fitan wal Ahkaam, kaset 1 side A)

Syaikh Muhammad Al-Amiin Asy-Syinqiithi berkata: “Dan pendapat yang paling tepat (dalam permasalahan ini) yang tidak diragukan lagi adalah tidak boleh memberontak melawan sang penguasa untuk melengserkannya kecuali jika ia melakukan kekafiran yang nyata (jelas) yang ada dalil dari Allah akan kekafiran ini…” [Adhwaaul Bayaan I/29]

Kemudan beliau menyebutkan dalil-dalil yang banyak yang menunjukan akan hal ini, lalu beliau berkata, “Dan hadits-hadits tentang hal ini banyak. Dalil-dalil ini menunjukan akan dilarangnya memberontak melawan penguasa meskipun ia telah melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Kecuali jika ia telah melakukan kekafiran yang jelas yang telah ada dalil syar’i dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah bahwasanya perbuatannya tersebut merupakan kekafiran yang jelas yaitu nampak dan tidak ada kesamaran (keraguan) bahwasanya hal itu merupakan kekafiran.

Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Waatsiq telah menyeru kepada bid’ah Al-Qur’an adalah mahluk. Mereka menghukum para ulama’ yang tidak mau menerima seruan mereka, yaitu dengan membunuh para ulama tersebut, memukul mereka, memenjarakan mereka, dan berbagai bentuk siksaan yang lain. Dan tidak seorang pun yang menyatakan wajibnya memberontak terhadap mereka dengan sebab perilakunya ini. Hal ini terus berjalan hingga belasan tahun hingga tampuk kepemimpinan dipegang oleh Al-Mutawkkil maka beliau pun menghapuskan penyiksaan-penyiksaan dan memerintahkan untuk menampakkan sunnah-sunnah Nabi (diantaranya: keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan mahluk).” [Adhwaaul Bayaan I/29-30]

Praktek Ulama Salaf

Berikut sebagian contoh nyata dari kehidupan ulama’ salaf dalam menerapkan ketaatan kepada penguasa yang lalim:

Imam Ahmad rahimahullah disiksa dan dipenjara oleh penguasa di zamannya karena beliau tidak mau mengucapkan kalimat kekafiran (yaitu Al-Qur’an adalah mahluk). Meskipun demikian beliau mengharamkan khuruj (pemberontakan) kepada penguasa yang telah menyiksa beliau tersebut.

Abul Haarits berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang perkara yang terjadi di Baghdad. Dimana sebagian kaum telah bertekad untuk keluar (memberontak). Maka aku berkata, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), apakah pendapatmu tentang memberontak bersama kaum tersebut?” Maka beliau mengingkari perbuatan mereka dan berkata, “Subhaanallah, darah… darah…, aku tidak berpendapat demikian, dan aku tidak memerintahkan untuk melakukan hal ini. Bersabar dengan apa yang menimpa kita lebih baik dari pada fitnah yang menimbulkan tertumpahnya darah, terampasnya harta-benda, dan dilanggarnya perkara-perkara yang haram. Tidakkah engkau tahu (akibat) apa yang menimpa manusia (dahulu yaitu tatkala hari-hari terjadinya fitnah)?”. Aku berkata, “Bukankah orang-orang sekarang berada di dalam fitnah wahai Abu Abdillah(*)?” Imam Ahmad berkata, “Meskipun mereka berada di fitnah, sesungguhnya ini hanyalah fitnah yang khusus, adapun jika telah terangkat pedang maka fitnahnya akan menjadi umum (menimpa semua orang -pen) dan terputusnya jalan-jalan. Kesabaran di atas hal ini (dipaksa oleh Al-Makmun untuk mengatakan Al-Qur’an adalah mahluk -pen) dan selamatnya agamamu lebih baik bagimu.”

(*) Sebagian orang yang dipenjara oleh Al-Makmun karena tidak mau mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk.

Abul Harits berkata, “Aku melihat Imam Ahmad mengingkari pemberontakan kepada para penguasa dan ia berkata, “Darah…darah…, aku tidak berpendapat (bolehnya memberontak) dan aku tidak memerintahkannya.” [As-Sunnah lil Khollaal I/132-133 no 89]

Hanbal berkata, “Tatkala masa pemerintahan Al-Waatsiq berkumpullah para ahli fiqih Baghdad menemui Abu Abdillah (Imam Ahmad). Mereka yaitu Abu Bakr bin ‘Ubaid, Ibrahim bin ‘Ali Al-Mathbakhi, dan Fadhl bin ‘Aashim. Mereka datang menemui Imam Ahmad, maka aku pun memintakan izin untuk mereka kepada Imam Ahmad. Mereka berkata, “Wahai Abu Abdillah, perkara ini telah parah dan tersebar –maksud mereka adalah sikap Al-Waatsiq yang memaksakan aqidah bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan sikap-sikapnya yang lain-. Maka Imam Ahmad berkata kepada mereka, “Apakah yang kalian kehendaki?” Mereka berkata, “Kami bermusyawarah denganmu bahwasanya kami tidak ridho dengan pemerintahannya dan tidak juga dengan kekuasaannya”. Maka Imam Ahmad berdialog dengan mereka beberapa saat dan berkata, “Wajib bagi kalian untuk mengingkari dengan hati-hati kalian dan janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan dan janganlah kalian memecah persatuan kaum muslimin dan janganlah kalian menumpahkan darah-darah kalian.” [As-Sunnah lil Khollaal I/132-133 no 90]

Yang lebih mengherankan lagi Imam Ahmad tidak hanya melarang untuk memberontak kepada penguasa, bahkan beliau juga mendorong untuk memerangi orang-orang yang memberontak terhadap penguasa, padahal penguasa telah memenjarakan dan menyiksa beliau.

Al-Khollaal telah meriwayatkan atsar-atsar tentang hal ini dari Imam Ahmad dengan sanad-sanad yang saling menguatkan diantaranya adalah riwayat Husain As-Shoo’igh: “Tatkala terjadi peristiwa Baabik, Imam Ahmad menganjurkan masyarakat agar melawannya. Beliau menulis sebuah surat yang beliau titipkan padaku untuk Abil Waliid dan ke Al-Bashroh. Beliau menganjurkan mereka agar melawan Baabik”. [As-Sunnah lil Khollaal I/148 no 117]

Yang lebih mengherankan si Baabik Al-Khurromi ini telah memberontak kepada Al-Ma’muun dan Al-Mu’tashim yang kedua khalifah inilah yang telah memenjarakan Imam Ahmad dan menyiksanya. Akan tetapi siksaan mereka berdua terhadap Imam Ahmad tidaklah mencegah Imam Ahmad untuk tetap menyampaikan kebenaran.

Berkata Abu Bakr bin Hammaad, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad), Seseorang yang hendak berperang (melawan orang-orang kafir -pen) –dan tatkala itu terjadi fitnah Khurromiyyah (yaitu pengikut Baabik Al-Khurromi -pen)-, maka manakah yang lebih engkau sukai dari kedua sisi ini (memerangi orang-orang kafir ataukah memerangi para pengikut Baabik Al-Khurromi -pen)??” Imam Ahmad berkata, “Dimanakah tempat tinggal orang ini (yang mau berperang -pen)?” Aku (Abu Bakr bin Hammaad) berkata, “Di kota ini”. Maka Imam Ahmad pun mengisyaratkan ke arah Khurromiyah”. (Yaitu beliau mengisyaratkan untuk memerangi pasukan Khurromiyah para pengikut Baabik Al-Khurromi -pen). [As-Sunnah lil Khollaal I/150 no 120 dengan sanad yang shahih]

Maka benarlah perkataan Syaikh Al-‘Utsaimin, “Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk maka ia telah kafir”. Dan Al-Makmun (penguasa di zaman Imam Ahamad -pen) mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan ia menyeru manusia untuk mengikutinya serta memenjarakan orang-orang yang tidak mengikuti pendapatnya ini, meskipun demikian Imam Ahmad tetap memanggil Al-Makmun dengan sebutan “Amiirul Mukminin (pemimpin kaum mukiminin)”. Karena Imam Ahmad memandang bahwa perkataan “Al-Qur’an adalah mahluk” bukanlah kekafiran yang jelas (nyata)…” [Syarah Shahih Al-Bukhari, Syarh Kitaabil fitan wal Ahkaam, kaset no 1 side A]

Peringatan

Tidaklah diragukan bahwasanya perkataan Al-Qur’an adalah mahluk merupakan kekafiran. Akan tetapi tidak serta merta setiap orang yang mengucapkan atau berkeyakinan dengan kekafiran ini langsung menjadi kafir.

Ahlus Sunnah membedakan antara takfir mutlak dari takfir mu’ayyan(*), sehingga tidak setiap pelaku kekufuran telah kafir & keluar dari agama Islam. Begitu juga Ahlus Sunnah membedakan antara tafsiq mutlak dari tafsik mu’ayyan, sehingga tidak setiap yang berbuat kefasikan ia telah fasik. Sebagaimana mereka juga membedakan antara tabdi’ mutlak dari tabdi’ mu’ayyan, sehingga tidak setiap yang berbuat bid’ah ia telah menjadi mubtadi’.

(*) Takfir Mutlak artinya menyatakan bahwa barang siapa berbuat demikian maka kafir, tanpa memaksudkan pelaku tertentu, sehingga klaim yang terkandung pada ucapan semacam ini lebih ditujukan kepada perbuatannya dibanding pelakunya.
Takfir Mu’ayyan artinya: menyatakan bahwa si fulan, dengan menyebutkan nama orang tertentu telah kafir, sehingga perkataan semacam ini tertuju langsung kepada pelaku perbuatan kekufuran.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan hal ini dengan berkata:

والتَّحقيق في هذا، أن القول قد يكون كفرا، كمقالات الجهمية الذين قالوا: إن الله لا يتكلم ولا يرى في الآخرة، ولكن قد يخفى على بعض الناس أنه كفر، فيطلق القول بتكفير القائل، كما قال السلف: من قال: القرآن مخلوق، فهو كافر، ومن قال: إن الله لا يرى في الآخرة فهر كافر، ولا يكفر الشخص المعين حتى تقوم عليه الحجة

“Dan yang tepat /benar dalam masalah ini, bahwa kadang kala perkataan tersebut adalah kekufuran, sebagaimana halnya dengan perkataan orang-orang jahmiyyah, yang mengatakan: Sesungguhnya Allah tidak berbicara, dan tidak bisa dilihat kelak di akhirat, akan tetapi kadangkala hal itu tidak diketahui oleh sebagian orang, sehingga diithlakkan ucapan pengkafiran kepada orang yang mengucapkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama salaf: Barang siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, maka ia kafir, dan barang siapa yang mengatakan bahwa Allah tidak dapat dilihat di akhirat, maka ia kafir, dan tidaklah dikafirkan orang tertentu, sampai tegak atasnya Al hujjah.” (Majmu’ fatawa 7/619)

Sebagai contoh nyata dari penjelasan Ibnu Taimiyyah di atas, silahkan simak perdebatan antara Imam Ahmad dengan Ibnu Abi Du’ad guru Kholifah Makmun dalam aqidah Jahmiyah-nya:

Ibnu Abi Du’ad berkata: “Wahai syeikh, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?”, maka Imam Ahmad berkata: “Engkau tidak adil, biarkan aku yang bertanya”, maka Ibnu Abi Du’ad berkata: “Silahkan bertanya”, maka Imam Ahmad berkata: “Apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Al-Qur’an adalah mahluk”. Maka Imam Ahmad berkata: “Apakah hal ini telah diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar Utsman, Ali, dan khulafa’ Ar Rasyidun, ataukah sesuatu yang belum pernah mereka ketahui?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka ketahui”. Maka Imam Ahmad berkata: “Subhanallah, sesuatu yang belum pernah diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak diketahui oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan juga Khulafa’ Ar Rasyidun, akan tetapi (malah) engkau ketahui?” Maka Ibnu Abi Du’ad merasa malu, dan kemudian berkata: “Kalau demikian maafkan aku, dan kita mulai pertanyaannya dari awal”. Maka Imam Ahmad menjawab: “Baiklah, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Al-Qur’an adalah mahluk”. Maka Imam Ahmad berkata: “Apakah hal ini telah diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan khulafa’ Ar Rasyidun, ataukah sesuatu yang belum pernah mereka ketahui?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Ini adalah sesuatu yang sudah mereka ketahui, akan tetapi mereka tidak pernah menyeru manusia kepadanya”. Maka Imam Ahmad menjawab: “Kenapa engkau tidak diam, sebagaimana mereka diam?” (Lihat Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnul jauzi 432)

Walaupun Ibnu Abi Du’ad telah terpatahkan seluruh dalilnya, dan hal ini dilakukan di hadapan Al Makmun, akan tetapi Imam Ahmad bin Hambal belum memvonis mereka sebagai orang-orang murtad atau kafir.

Bahkan perdebatan semacam ini telah berkali-kali terjadi di hadapan Al Makmun dan setiap kali perdebatan, para penyeru ideologi Jahmiyah ini senantiasa terkalahkan, akan tetapi walau demikian, tidak seorang pun dari ulama’ kala itu yang memvonis kafir kepada Al Makmun.

Sebagai contoh lain:

عن عبد الله بن أوفى قال: لما قدم معاذ من الشام سجد للنبي صلى الله عليه و سلم فقال: ما هذا يا معاذ ؟ قال: أتيت الشام فوافيتهم يسجدون لأساقفتهم وبطارقتهم، فوددت في نفسي أن نفعل ذلك بك، فقال: رسول الله صلى الله عليه و سلم : فلا تفعلوا، فإني لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لغير الله، لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها

“Dari Abdullah bin Aufa, ia menuturkan: Tatkala Mu’adz tiba dari Syam, tiba-tiba ia bersujud kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya: Apakah ini wahai Mu’adz? Beliau menjawab: Aku pergi ke daerah Syam, dan aku dapatkan penduduknya bersujud kepada para pendeta dan ahli ibadah dari mereka, maka aku pun merencanakan dalam hatiku: untuk melakukan hal itu bersamamu, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian lakukan hal itu, karena seandainya aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, niscaya akan aku perintahkan kaum wanita untuk bersujud kepada suaminya.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albany)

Contoh lain:

قال أبو ذر رضي الله عنه كان بيني وبين رجل كلام، وكانت أمه أعجمية، فنلت منها، فذكرني إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال: لي أساببت فلانا؟ قلت: نعم. قال: أفنلت من أمه؟ قلت: نعم. قال: إنك امرؤ فيك جاهلية قلت: على حين ساعتي هذه من كبر السن؟ قال: نعم

“Sahabat Abu Dzar rodiallahu ‘anhu mengisahkan: “Pada suatu saat terjadi percekcokan antara aku dan seseorang , dan ibu orang itu adalah wanita non arab (seorang budak), kemudian aku mencela ibunya tersebut. Dan orang tersebut melaporkan aku kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda kepadaku: Apakah engkau telah bercaki-maki dengan fulan?Aku pun menjawab: Ya. Beliau bertanya lagi: Apakah engkau mencela ibunya? Aku pun menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau adalah orang yang padamu terdapat perangai jahiliyyah” Aku bertanya: Apakah hal itu terjadi setelah aku cukup umur seperti ini? Beliau menjawab: Ya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Adakah dari pembaca yang meragukan bahwa perbuatan berbangga-bangga dan saling mencela dengan keturunan adalah perbuatan orang-orang jahiliyyah? Akan tetapi mengapa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung memvonis sahabat Abu Dzar dengan (جاهلي) orang jahiliyah? Akan tetapi beliau menyatakan bahwa beliau: “adalah orang yang padamu terdapat perangai jahiliyyah“.

Contoh lain:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا أؤتمن خان وإذا حدث كذب وإذا عاهد غدر وإذا خاصم فجر

“Dari Abdillah bin ‘Amr rodiallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: empat hal, barang siapa yang keempat hal itu terdapat padanya, maka ia adalah orang munafik tulen, dan barang siapa padanya terdapat salah satu perangai darinya, maka padanya terdapat salah satu perangi kemunafikan hingga ia meninggalkannya: Bila ia diberi amanah, ia berkhianat, bila ia berbica ia berdusta, bila ia berjanji ia ingkar, dan bila ia beradu argumen ia berlaku keji.” (Riwayat Bukhari)

Cermatilah hadits ini dengan seksama, niscaya –dengan izin Allah- anda akan selamat dari kebingungan dan kesalahan orang-orang khawarij dan pengikutnya.

VONIS TAKFIR MUTLAK DAN TAKFIR MU’AYYAN

Berdasarkan hadits-hadits di atas dan lainnya, ahlis sunnah membedakan antara dua metode vonis/hukum/keputusan:

Vonis secara mutlak, yaitu dengan mengatakan bahwa barang siapa berbuat demikian maka ia adalah orang munafik, atau khawarij, atau kafir, atau mubtadi’ atau fasik dst. Untuk memvonis dengan cara ini tidak disyaratkan berbagai persyaratan, selain pembuktian secara ilmiyyah bahwa perbuatan tersebut adalah benar-benar kekufuran, atau kefasikan, atau bid’ah dst.

Vonis terhadap orang tertentu (mu’ayyan), yaitu dengan mengatakan: si fulan dengan menyebutkan namanya telah kafir atau fasik atau mubtadi’ dst.

Untuk dapat memvonis dengan cara ini, diperlukan berbagai persyaratan yang rumit dan tidak mudah, sehingga tidaklah dapat melakukannya selain para ulama’ yang telah mendalam dan mapan keilmuannya.

Diantara persyaratannya sebagai berikut:
Tegaknya hujjah atas pelaku perbuatan tersebut.
Dihilangkannya syubhat darinya.
Tidak adanya paksaan atas orang tersebut untuk melakukan perbuatan tersebut.
Orang tersebut telah baligh dan berakal sehat.
Dan dihilangkannya segala hal yang menjadi penghalang jatuhnya vonis kafir atau fasik atau mubtadi.

Pada poin kelima, diantara penghalang tersebut: karena terlalu girang terlalu sedih atau marah sehingga ia tidak menyadari apa yang ia lakukan,

Sebagai contoh nyata akan hal ini adalah kisah yang disebutkan dalam hadits berikut:

لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه، من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه، فأيس منها فأتى شجرة فاضطجع في ظلها قد أيس من راحلته فبينا هو كذلك، إذا هو بها قائمة عنده فأخذ بخطامها ثم قال: -من شدة الفرح- اللهم أنت عبدي وأنا ربك، أخطأ من شدة الفرح

“Sungguh Allah itu lebih gembira dengan taubat seorang hamba-Nya dibanding salah seorang dari kalian yang sedang berada di tengah-tengah padang pasir, kemudian tunggangannya kabur, padahal di atas tunggangannya terdapat makanan dan minumannya (bekalnya), kemudian orang tersebut telah putus asa untuk mendapatkannya kembali, kemudian ia mendatangi sebuah pohon dalam keadaan telah putus harapannya dari tunggangannya tersebut, dan ketika ia sedang demikian itu, tiba-tiba tunggangannya berada di sisinya, maka sepontan ia langsung memegang tali kekangnya, kemudian ia berkata karena tertalu girang: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu, ia salah ucap karena terlalu girang.” (Muslim)

Orang ini nyata-nyata telah melakukan perbuatan kafir, yaitu mengatakan bahwa Allah adalah hambanya dan dia adalah tuhan Allah, akan tetapi orang ini tidak divonis kafir, karena ia melakukan hal ini tidak dengan sengaja, akan tetapi salah ucap, ia ingin berkata: Ya Allah Engkau adalah Tuhan-ku dan aku adalah hamba-Mu, karena terlalu girang hingga ia salah fatal dalam berucap.

Oleh karenanya kita dapati para salaf mengkafirkan firqoh-firqoh secara mutlak seperti firqoh Jahmiyah dan Rofidhoh, akan tetapi mereka tidak serta merta mengkafirkan setiap anggota firqoh tersebut, kecuali hanya beberapa orang dari mereka seperti Ja’d bin Dirham, Hallaaj, Hafs Al-Fard –yang pengkafirannya masih diperselisihkan- [Lihat Majmuu’ Al-Fataawaa XXIII/349]

Demikian juga kita dapatkan para ulama’ menyatakan bahwa perbuatan ini adalah perilaku khawarij tulen, atau jahmiyah, atau mu’tazilah dst.

Oleh karena itu Imam Ahmad tidak mengkafirkan para khalifah (Al-Makmun, Al-Mu’tasihm, dan Al-Waatsiq) yang telah beraqidah bahwasanya Al-Qur’an adalah mahluk serta telah menyiksa beliau dan juga para ulama yang lain semasa beliau karena para khalifah tersebut masih terbelenggu oleh syubhat atau takwil.

Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya orang yang menyeru kepada perkataan (Al-Qur’an mahluk -pen) lebih parah dibandingkan dengan orang yang (hanya sekedar) berpendapat demikian. Dan orang yang menghukumi orang yang menyelisihinya lebih parah lagi dibandingkan orang yang hanya sekedar menyeru kepada pendapatnya. Dan yang mengkafirkan orang yang menyelisihinya lebih parah lagi dari yang (hanya sekedar) menghukumi (orang yang menyelisihinya yang tidak mengatakan Al-Qur’an mahluk-pen). Meskipun demikian mereka yang merupakan para penguasa berpendapat dengan perkataan Jahmiyah bahwasanya Al-Qur’an adalah mahluk dan bahwasanya Allah tidak dapat dilihat di akhirat serta yang lainnya, mereka menyeru rakyat untuk berpendapat demikian. Mereka menguji rakyat dan menghukum mereka jika mereka tidak setuju dengannya.

Mereka mengkafirkan orang yang tidak memenuhi (seruan mereka/mengkafirkan orang yang tidak mengatakan Al-Qur’an mahluk -pen). Sampai-sampai jika mereka menangkap seseorang tawanan, maka tidak akan mereka lepaskan hingga ia mengakui pendapat Jahmiyah bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan yang lainnya.

Mereka tidak akan mengangkat seorang pejabat, serta tidak akan memberi pembagian dari baitul mal kecuali kepada orang yang berpendapat demikian.

Meskipun demikian Imam Ahmad –rahimahullah- tetap mendoakan kerahmatan bagi mereka dan memohon ampun bagi mereka, karena beliau beranggapan bahwa mereka belum sampai pada tingkatan mendustakan Rasulullah dan menentang syari’at yang beliau emban. Akan tetapi mereka bertakwil dan mereka keliru, serta mereka hanya sekedar taqlid/ikut-ikutan dengan orang lain yang mengajarkan hal itu (aqidah Jahmiyah) kepada mereka”. [Majmuu’ al-Fataawaa XXIII/348-349]

Ibnu Taimiyyah berkata, “Padahal Imam Ahmad tidaklah mengkafirkan setiap orang Jahmiyah, tidak juga mengkafirkan setiap orang yang beliau vonis sebagai anggota sekte Jahmiyah, tidak juga setiap orang yang setuju dengan sebagian bid’ah-bid’ah Jahmiyah.

Bahkan beliau tetap menjalankan sholat di belakang orang-orang Jahmiyah yang menyeru kepada perkataan mereka dan menguji masyarakat dan menghukum orang yang tidak setuju dengan mereka dengan hukuman yang berat, akan tetapi Imam Ahmad dan yang lainnya belum mengkafirkan mereka. Bahkan Imam Ahmad meyakini bahwa mereka masih sebagai orang-orang yang beriman dan beliau tetap meyakini kepemimpinan mereka. Beliau mendoakan kebaikan bagi mereka, dan memandang (bolehnya) bermakmum di belakang mereka ketika sholat, berhaji dan berperang bersama mereka. Beliau melarang pemberontakan terhadap mereka sebagaimana inilah pandangan orang-orang yang semisal beliau (para imam salaf yang lain). Beliau mengingkari bid’ah yang mereka munculkan yaitu perkataan batil yang merupakan kekafiran yang besar meskipun para pelakunya tidak menyadari bahwa perbuatannya itu (perkataan Al-Qur’an mahluk) merupakan kekafiran.

Beliau mengingkari hal ini dan bersungguh-sungguh dalam membantah mereka semampu beliau. Dengan demikian beliau telah menyatukan antara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu dengan menampakkan sunnah dan agama serta mengingkari bid’ah Jahmiyah Mulhidin dengan sikap memperhatikan hak-hak orang-orang beriman dari kalangan para penguasa dan ummat meskipun mereka adalah orang-orang jahil, para mubtadi’, dzolim dan fasik”. [Majmuu’ al-Fataawaa VII/507-508]

Berikut sederetan ulama’ Ahli Sunnah yang menyatakan hal serupa:

Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, beliau menjawab: “Orang itu adalah zindiq(*), maka bunuhlah dia”. [Dinukil dari Siyar A’alam An Nubala’ 8/99]

(*) Orang zindiq ialah orang yang menampakkan keislaman, akan tetapi ia meyakini berbagai akidah kekufuran.

Imam As Syafi’i ketika mendengar Hafes Al Fared berkata: “Al-Qur’an adalah mahluk” beliau langsung berkata kepadanya: “Engkau telah kufur kepada Allah”. [Dinukil Dari Siyar A’alam An Nubala’ 10/30, & Mujmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 23/349]

Abu Baker bin ‘Ayyasy berkata: “Barang siapa yang beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, maka menurut kami, dia itu adalah kafir dan zindiq.”

Abu Nu’aim berkata: Aku pernah berjumpa dengan delapan ratus tujuh puluh sekian orang syeikh, diantaranya Al A’amasy dan orang yang setelahnya. Dan aku tidaklah menjumpai orang yang berkeyakinan dengan ucapan ini yaitu “Al-Qur’an adalah Mahluk” atau berbicara dengannya, melainkan ia dituduh sebagai orang zindiq“.

Kemudian Imam Hibatullah Al lalaka’i menyebutkan lebih dari seratus nama ulama’ dan kemudian beliau berkata: “Mereka semua berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, maka barang siapa yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, maka ia telah kafir”. [Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 2/277 dst]

Al Imam Abul Hasan Al ‘Asy’ari berkata: “Dan saya berpendapat: sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan mahluk, dan barang siapa yang mengatakan “Al-Qur’an adalah mahluk” maka ia adalah orang kafir”. [Al Ibanah oleh Abul Hasan Al ‘Asy’ary 20 & Tabyiin Kazibul Muftary oleh Ibnu ‘Asakir 159]. Dan masih banyak lagi deretan ulama’ yang menyatakan dengan tegas bahwa perkataan “Al-Qur’an adalah mahluk” sebagai kekufuran.

SYUBHAT-SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Syubhat Pertama : Berdalih dengan penjelasan Imam Nawawi, Sebagian orang berkata: “Boleh bagi kita untuk memberontak kepada penguasa yang dzolim meskipun penguasa tersebut belum kafir. Adapun hadits Ubaadah bin As-Shoomit “Kecuali engkau melihat kekafiran yang nyata…” maka maksud dari kekafiran pada hadits ini adalah kemaksiatan yang nyata sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi.

Imam An-Nawawi berkata, “Yang dimaksud dengan kekafiran dalam hadits ini (hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit-pen) adalah الْمَعَاصِي kemaksiatan-kemaksiatan… dan makna hadits ini adalah janganlah kalian menyelisihi para penguasa tentang kekuasaan mereka dan janganlah kalian protes terhadap mereka kecuali jika kalian melihat dari mereka kemungkaran yang jelas yang kalian ketahui dari kaidah-kaidah Islam…” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/299]

Imam An-Nawawi berpendapat demikian karena ada riwayat-riwayat yang lain dari hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit ini dengan lafal “kemaksiatan kepada Allah yang nyata”.

Jawaban:

Perkataan Imam An-Nawawi di sini tidak tepat, karena alasan-alasan berikut ini:

1. Telah jelas dalam riwayat-riwayat yang lain yang lebih shahih dengan lafal “kekafiran yang nyata”.

Hal ini sebagaimana hadits-hadits yang lain,

قَالُوْا أَفَلاَ نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ لاَ مَا صَلَّوْا

Para sahabat bertanya, “Apakah kita tidak memerangi mereka saja?”, Rasulullah berkata, “Tidak selama mereka masih mendirikan sholat.” (HR Muslim 3/1480 no 1854)

Teks hadits ini tidak selaras dengan pemahaman Imam An Nawawi, sebab meninggalkan sholat adalah kekafiran yang nyata menurut sebagian ulama’.

2. Telah lalu penyebutan hadits-hadits yang menjelaskan kewajiban bersabar terhadap pemerintah yang dzolim, dan hadits-hadits semakna dengan hal ini sangatlah banyak sekali dan tentunya hadits-hadits ini bertentangan dengan penjelasan Imam An-Nawawi.

3. Riwayat-riwayat hadits ‘Ubbadah bin As-Shoomit yang datang dengan lafal “kemaksiatan yang jelas” adalah berkaitan dengan perihal mentaatinya (tidak berkaitan dengan sikap memberontak kepadanya), maka seseorang tidak boleh menta’ati penguasa jika dia memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan yang jelas, adapun masalah pemberontakan, hanya boleh jika sang penguasa tampak melakukan kekafiran yang nyata).

Berikut ini riwayat-riwayat Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tersebut:

مَا لَمْ يَأْمُرُوْكَ بِإِثْمٍ بَوَاحًا

“Selama ia tidak memerintahmu (untuk melakukan) suatu dosa yang jelas.” (HR Ahmad V/321 no 22789)

Riwayat kedua:

إِلاَّ أَنْ يَأْمُرَكَ بِإِثْمٍ بَوَاحًا عِنْدَكَ تَأْوِيْلُهُ مِنَ الْكِتَابِ

“Kecuali jika dia memerintahmu (untuk melakukan) suatu dosa yang jelas yang engkau memiliki ta’wilnya dari Al-Kitab.”

Kemudian sang perawi hadits ini yaitu Jufair atau Khufair bertanya kepada ‘Ubaadah bin As-Shoomit:

فَإِنْ أَنَا أَطَعْتُهُ؟

“Kalau aku tetap juga taat kepadanya?”

Ubaadah menjawab:

يُؤْخَذُ بِقَوَائِمِكَ فَتُلْقَى فِي النَّارِ وَلْيَجِئْ هُوَ فَلْيُنْقِذْكَ

“Kaki dan tanganmu akan dipegang kemudian engkau dilempar ke neraka maka hendaknya ia (sang penguasa) datang untuk menolongmu!” (HR At-Thobrooni dalam Musnad Asy-Syamiyiin I/141 no 225)

Pertanyaan sang perawi ini dan juga jawaban sahabat Ubaadah rodiallahu ‘anhu menunjukan bahwa mereka memahami bahwa pengecualian: “Kecuali jika dia memerintahmu (untuk melakukan) suatu dosa yang jelas” kaitannya dengan hal larangan untuk taat terhadap pemerintah bila ia memerintahkan perbuatan maksiat, bukan dengan larangan untuk memberontak.

Dan penafsiran ini didukung oleh riwayat lain yang sangat jelas & tidak ada keraguan sama sekali akan maknanya. Dari ‘Ubaadah bin As-Shoomit dia berkata,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم :يَا عُبَادَةُ قُلْتُ لَبَّيْكَ. قَالَ: اِسْمَعْ وَأَطِعْ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ وَإِنْ أَكَلُوْا مَالَكَ وَضَرَبُوْا ظَهْرَكَ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ مَعْصِيَةَ للهِ بَوَاحًا

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai ‘Ubaadah!” Aku berkata, “Aku memenuhi panggilanmu”. Nabi berkata, “Dengar dan ta’atlah baik dalam keadaan ekonomi sulit ataupun ekonomi baik, baik dalam kondisimu malas serta pada saat hak-hakmu tidak dipenuhi. Meskipun mereka (penguasa) memakan hartamu dan memukul punggungmu. Kecuali jika (engkau diperintah dengan) kemaksiatan kepada Allah yang jelas (nyata).” (HR Ibnu Hibbaan 10/428 no 4566)

Riwayat ini jelas menyebutkan agar seorang muslim tetap taat kepada penguasa jika diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang bukan maksiat meskipun sang penguasa adalah pengusa yang dzolim. Yaitu –sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut- meskipun sang penguasa melakukan atsaroh (tidak menunaikan hak-haknya), dan memakan hartanya, serta memukul punggungnya. Dan pengecualian pada hadits ini amat jelas maknanya, yaitu bila seseorang diperintahkan untuk berbuat kemaksiatan, maka ia tidak boleh untuk melakukannya.

Hadits ini semakna dengan sabada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam lainnya:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Setia mendengar dan taat adalah wajib atas setiap orang muslim pada perkara-perkara yang ia suka dan ia benci selama ia tidak diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan. Jika ia diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan maka tidak ada kesetiaan untuk mendengar dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berkata Ibnu Malik, “Kecuali jika ia memerintahkan engkau untuk melakukan dosa maka janganlah engkau taat kepadanya, namun janganlah engkau memeranginya akan tetapi hendaknya engkau lari darinya”. (Mirqootul Mafaatiih 10/11)

4. Dari ucapan Imam An-Nawawi di atas tidak dapat dipahami bahwa beliau membolehkan pemberontakan kepada penguasa yang dzolim. Oleh karena itu setelah menyampaikan pendapat beliau ini, beliau langsung melarang pemberontakan, sebagaimana pada ucapannya berikut ini:

“Yang dimaksud dengan kekafiran dalam hadits ini (hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit-pen) adalah الْمَعَاصِي kemaksiatan-kemaksiatan… dan makna hadits ini adalah janganlah kalian berusaha menentang para penguasa pada kekuasaan mereka dan janganlah kalian protes terhadap mereka kecuali jika kalian melihat dari mereka kemungkaran yang jelas yang kalian ketahui dari kaidah-kaidah Islam. Adapun memberontak dan memerangi mereka maka (hukumnya) haram dengan ijma’ (konsensus) kaum muslimin meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan dzolim dan sangat banyak hadits-hadits (yang menunjukan) makna yang aku sebutkan ini dan Ahlus Sunnah telah ijmak (berkonsensus) bahwasanya tidaklah seorang penguasa dilengserkan karena kefasikan (yang dilakukannya).” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/229]

5. Hal ini pula yang dipahami oleh Ibnu Hajar Al Asqalany. Beliau berkata, “Yang lebih nampak (kebenarannya) yaitu membawakan riwayat “الْكُفْرُ” (kekafiran yang jelas) kepada jika الْمُنَازَعَةُ (penyelisihan/pertentangan) berkaitan dengan wilayah (kekuasaan) maka tidaklah boleh ia menentang penguasa dengan perkara-perkara yang menimbulkan cacat terhadap wilayah (kekuasaannya) kecuali jika ia telah melakukan kekafiran. Dan menafsirkan riwayat “الْمَعْصِيَةُ” (kemaksiatan yang jelas) pada jika penyelisihan (penentangan) pada perkara-perkara di bawah wilayah (kekuasaan), yaitu dengan cara mengingkarainya dengan lemah-lembut, dan berupaya menegakkan kebenaran di hadapannya tanpa menggunakan kekerasan. Dan ini semua berlaku bila ia mampu melakukannya”. [Fathul Baari 13/441]

Syubhat Kedua: Memberontak Untuk Nahi Mungkar Bisa Ditolerir

Berdalil dengan hadits :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia rubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka dengan hatinya. Dan ini adalah selemah-lemahnya keimanan.” (HR Muslim I/69 no 49)

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang dzolim.” (Riwayat Ahmad, An Nasai dll)

Jawaban:

Dalil-dalil tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk membolehkan perlawanan dengan angkat senjata. Telah dijelaskan di atas bahwa ingkarul mungkar dengan tangan hanyalah boleh dilakukan oleh orang yang berkompeten untuk melakukannya, dan dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Dan bila pengingkaran tersebut dilakukan kepada penguasa, maka harus memperhatikan ketentuan lain, yaitu: hendaknya tidak dilakukan di hadapan khalayak ramai, akan tetapi disampaikan secara langsung.

Sehingga bila ingkarul mungkar terhadap penguasa dengan menggunakan tangan, dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuatan atau akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka tidak dibenarkan dan haram hukumnya.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memiliki kekuatan dan pasukan dan bahkan telah berhasil menundukkan penduduk Mekkah, mengurungkan niatnya untuk mengingkari kemungkaran yang ada di Ka’bah, yaitu kemungkaran berupa: Ka’bah tidak dibangun semua, dan ada sebagian dari bagian Ka’bah yang berada di luar bangunan. Pengurungan ini didasari rasa khawatir akan timbulnya kerusakan atau mafsadah yang besar, yaitu timbulnya kesalah pahaman pada orang-orang yang baru masuk Islam.

Begitu juga, beliau yang telah memiliki kekuasan dan pasukan, tidak mengizinkan sahabat Umar bin Al Khatthab untuk membunuh gembong orang-orang Munafik, dikarenakan kekhawatiran timbulnya kerusakan yang besar, yaitu persepsi masyarakat: bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam tega membunuh sahabat sendiri.

Inilah pertimbangan utama yang harus dilakukan oleh setiap orang yang hendak menjalankan amar ma’ruf & nahi mungkar, yaitu mempertimbangkan kadar kemaslahatan dan kemafsadatan dari perilakunya.

Dahulu Imam Sufyan At Tsauri berkata:
“Tidaklah ada orang layak untuk memerintahkan seorang penguasa dengan suatu hal yang ma’ruf selain orang yang berilmu dengan apa yang hendak ia perintahkan, dan berilmu dengan apa yang hendak ia larang, lembut dalam perintah dan larangannya, adil dalam perintah dan larangannya.” Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’ 6/379.

Dan diriwayatkan juga dari sahabat Anas bin Malik rodiallahu ‘anhu ucapan yang semakna dengan ucapan Sufyan di atas:

لا ينبغي للرجل أن يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر حتى يكون فيه خصال ثلاث : رفيق بما يأمر رفيق بما ينهى عالم بما ينهى عدل فيها ينهى

“Tidaklah pantas bagi seseorang untuk memerintahkan dengan suatu hal yang ma’ruf hingga terpenuhi pada dirinya tiga perangai: kelembutan dalam perintah dan larangannya, ilmu tentang perihal yang hendak ia larang dan sikap adil dalam larangannya.” [Kanzul ‘Umal 3/154]

Tindakan dan ucapan kita yang tidak selaras dengan syari’at dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at amar ma’ruf maka tindakan kita tidak dapat disebut sebagai amar ma’ruf & nahi mungkar. Bahkan tindakan kita lebih tepat untuk disebut dengan kemungkaran. Oleh karena itu, dahulu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari sikap sebagian sahabat yang mengingkari kemungkaran dengan cara-cara yang tidak bijak:

أنس بن مالك رضي الله عنه قال: (بينما نحن في المسجد مع رسول الله صلى الله عليه و سلم إذ جاء أعرابي فقام يبول في المسجد، فقال أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم : مه مه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا تزرموه، دعوه فتركوه حتى بال. ثم إن رسول الله صلى الله عليه و سلم دعاه فقال له : (إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول ولا القذر، إنما هي لذكر الله عز وجل والصلاة وقراءة القرآن) فأمر رجلا من القوم فجاء بدلو من ماء فشنه عليه

Dari sahabat Anas bin Malik rodiallahu ‘anhu, ia menuturkan: Tatkala kami sedang berada di masjid bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang baduwi, lalu ia kencing di salah satu sudut masjid, maka sepontan sahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Mah, mah (heh, heh), Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memutus/mengganggu kencingnya, biarkanlah dia” maka merekapun membiarkannya, hingga ia selesai dari kencingnya. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda kepadanya: “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidaklah pantas sebagai tempat kencing dan kotoran, sesungguhnya masjid itu hanyalah sebagai tempat berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, sholat dan membaca Al Qur’an” Kemudian nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang lelaki untuk mengambil seember air lalu disiramkan kekencingnya tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada riwayat lainnya disebutkan:

فثار إليه الناس ليقعوا به، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه و سلم : دعوه وأهريقوا على بوله ذنوبا من ماء، فإنما بعثتم ميسرين ولم تبعثوا معسرين

“Maka para sahabat segera bangkit menuju kepadanya hendak menghalang-halanginya, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka: Biarkanlah dia, dan siramkanlah di atas kencingnya seember air, karena sesungguhnya kalian itu ditugaskan guna memudahkan dan tidaklah kalian ditugaskan guna menyusahkan.” (Bukhori)

Para ulama’ ahli hadits menjelaskan bahwa alasan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Biarkanlah dia” ada dua:

Pertama:
Karena seandainya para sahabat mencoba untuk menghentikan kencingnya, niscaya orang tersebut akan menderita/kesakitan, padahal masjid sudah terlanjur terkena najis, sehingga lebih diutamakan untuk membiarkannya menyelesaikan kencingnya daripada menyakitinya.

Kedua:
Bagian masjid yang ternajisi hanya sebagian saja, dan seandainya mereka berusaha menghentikan kencingnya, niscaya pakaian, badan orang itu akan terkena kencing, belum lagi dimungkinkan orang itu akan berdiri dan melarikan diri sambil kencinng sehingga bagian masjid yang terkena kencingnya akan semakin banyak. (Syarah Muslim oleh An Nawawi 3/190, Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 1/325 )

Tidak diragukan bahwa sikap para sahabat di atas adalah dalam rangka ingkarul mungkar, bukan karena riya’ atau cari jabatan atau popularitas atau lainnya, karenakan ingkarul mungkar yang mereka lakukan mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang lebih besar dari pada kemaslahatannya, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang ingkarul mungkar mereka.

Dari kisah ini kita dapat menyimpulkan bahwa tidaklah setiap upaya untuk ingkarul mungkar dapat dibenarkan sebagai ingkarul mungkar yang syar’i, bahkan sebagian upaya ingkarul mungkar malah menjadi suatu kemungkaran yang harus diingkari.

Ingkarul mungkar yang sejati dan syar’i ialah yang berfungsi sebagai ingkarul mungkar, sehingga kemungkaran dapat dihilangkan atau dikurangi dan diperkecil. Ingkarul mungkar yang seperti ini hanyalah ingkarul mungkar yang sejalan dan mengindahkan berbagai dalil, kaedah, ketentuan dan pertimbangan yang telah dijelaskan dalam syari’at. Adapun bila ingkarul mungkar malah menambah besar kemungkaran dan menambah banyak pengorbanan, maka itu adalah kemungkaran yang harus diingkari dan bukan ingkarul mungkar yang syari’i.

Demikian juga halnya dengan amalan lainnya, biala suatu amalan yang dianggap baik oleh umat manusia sebagai amal ketaatan, akan tetapi tidak sesuai dengan dalil, ketentuan dan kaedah yang telah ditetapkan dalam syari’at, maka amalan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai amal sholeh, akan tetapi lebih tepat dikatakan sebagai kemaksiatan. Renungkanlah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, niscaya akan jelas apa yang kami jabarkan ini:

إن الرجل ليعمل عمل أهل الجنة فيما يبدو للناس وهو من أهل النار، وإن الرجل ليعمل عمل أهل النار فيما يبدو للناس وهو من أهل الجنة

“Sesungguhnya seseorang sungguh-sunguh beramal dengan amalan ahli surga menurut anggapan masyarakat, padahal ia termasuk penghuni neraka, dan seseorang sungguh-sungguh beramal dengan amalan ahli neraka menurut anggapan masyarakat, padahal ia termasuk penghuni surga.” (Muttafaqun ‘alaih)

Oleh karena itu, walaupun ada yg menamakan bahwa sikap menentang pemerintah yang sah melalui podium, mass media, demo dll sebagai upaya ingkarul mungkar, maka ketahuilah bahwa penamaan ini tidaklah ada gunanya, selama kita semua sudah mengetahui bahwa syari’at islam telah melarang kita untuk hal tersebut.

Terlebih-lebih kita semua telah mengetahui bahwa setiap pemberontakan terhadap penguasa yang sah senantiasa menamakan tindakan mereka dengan nama-nama yang menggiurkan dan menipu orang-orang lugu, misalnya: gerakan kemerdekaan, atau gerakan keadilan, menumpas korupsi, melawan kelaliman. dan yang serupa.

Bukankah Mu’tazilah -dalam aqidah mereka yang ma’ruf (Al-Ushul Al-Khomsah/Pokok-pokok yang lima)- juga menamakan sikap memberontak terhadap pemerintah yang dzolim dengan nama amar ma’ruf dan nahi mungkar??? [Lihat Syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah I/334 dan Majmuu’ Fataawaa 28/128-129]

Syubhat semacam ini, bukanlah hal yang baru, akan tetapi merupakan syubhat yang usang dan telah dibantah sejak dahulu oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berikut ini bantahan Abu Hanifah dalam risalah beliau “Al-Fiqh Al-Akbar”.

Berkata Abu Muthii’ Al-Hakam bin ‘Abdillah, “Aku berkata (kepada Imam Abu Hanifah), “Apa pendapatmu tentang orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar lalu ia diikuti oleh orang-orang kemudian ia keluar dari jama’ah. Apakah engkau memandang (bolehnya) hal ini?” Abu Hanifah berkata, “Tidak” Aku (Abu Muthii’) berkata, “Kenapa (tidak boleh)?, padahal Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk beramar ma’ruf dan nahi mungkar, dan hal ini merupakan suatu kewajiban?” Abu Hanifah berkata, “Memang demikian (bahwasanya amar ma’ruf nahi mungkar hukumnya wajib-pen) akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan mereka berupa tertumpahnya darah, penghalalan perkara-perkara yang haram, dan perampasan harta, lebih banyak dari apa yang mereka perbaiki.”

Allah telah berfirman,

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah.” (QS. Al Hujurat: 9)

Aku (Abu Muthii’) berkata, “Apakah kita memerangi kelompok yang berbuat aniaya dengan pedang?” Abu Hanifah berkata, “Iya, engkau ber’amar ma’ruf dan nahi mungkar (yaitu menasehati mereka -pen) jika diterima (maka itulah yang diharapkan -pen) dan jika tidak maka engkau perangi mereka dan jadilah engkau bersama kelompok yang adil meskipun sang imam (penguasa) dzolim…” (*) Kemudian Abu Muthii’ bertanya kepada Imam Abu Hanifah tentang khawarij. [Al-Fiqh Al-Akbar hal 110-114]

(*) Al-Fiqh Al-Akbar hal 108 bab فِي الْبَغْيِ وَالْخُرُوْجِ عَلَى الإِمَامِ (tentang pembangkangan dan pemberontakan terhadap penguasa), sebagaimana juga dinukil oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ Al-Fatawaa 5/47

Dikatakan kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa’iid, telah keluar seorang khawarij di Al-Khoribah –sebuah tempat di Bashroh-“. Maka Al-Hasan berkata, “Si Miskin (orang yang perlu dikasihani) telah melihat kemungkaran lalu ia mengingkarinya dan iapun terjerumus kepada kemungkaran yang lebih parah dari itu”. [Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Aajurri dalam Asy-Syari’ah I/345]

Ibnu Taimiyyah berkata, “Oleh karena itu tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan sesuatu yang lebih besar kemungkarannya. Oleh karena itu diharamkan memberontak kepada para penguasa dengan mengangkat pedang dengan alasan beramar ma’ruf nahi mungkar. Karena akibat yang timbul berupa perbuatan hal-hal yang haram dan meninggalkan kewajiban lebih besar (keburukannya) dari akibat yang timbul dari perbuatan kemungkaran dan dosa-dosa yang dilakukan oleh para penguasa tersebut”. [Majmuu’ Al-Fataawaa 14/472]

Rambu-Rambu Amar ma’ruf Nahi Mungkar

Renungkanlah penjelasan indah dari Ibnul Qoyyim berikut ini.

Ibnul Qoyyim berkata, “Mengingkari kemungkaran ada syarat-syaratnya:

Contoh pertama:

Nabi mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar dengan pengingkaran tersebut timmbul kebaikan-kebaikan yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Jika pengingkaran kemungkaran tersebut mengakibatkan timbulnya perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya maka tidak boleh diingkari meskipun Allah membenci kemungkaran tersebut dan murka kepada pelakunya.

وَهَذَا كَالإِنْكَارِ عَلَى الْمُلُوْكِ وَالْوُلاَةِ بِالْخُرُوْجِ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ أَسَاسُ كُلِّ شَرّ وَفِتْنَةٍ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ

Hal ini sebagaimana pengingkaran yang dilakukan terhadap para raja dan para penguasa dengan melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal ini adalah landasan (asal) seluruh keburukan dan fitnah hingga akhir zaman.

Para sahabat telah meminta izin kepada Rasulullah untuk memerangi para penguasa yang mengakhirkan sholat (hingga) keluar dari waktunya. Mereka berkata, “Kenapa kita tidak memerangi mereka?” Rasulullah berkata, “Tidak, selama mereka masih sholat”. Beliau juga bersabda, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, dan janganlah ia mencabut tangannya dari ketaatan kepada pemimpinnya”.

وَمَنْ تَأَمَّلَ مَا جَرَى عَلَى الإِسْلاَمِ فِي الْفِتَنِ الْكِبَارِ وَالصِّغَارِ رَآهَا مِنْ إِضَاعَةِ هَذَا الأَصْلِ وَعَدَمِ الصَّبْرِ عَلَى مُنْكَرٍ فَطَلَبَ إِزَالَتَهُ فَتَوَلَّدَ مِنْهُ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ

“Barangsiapa yang mengamati dan merenungkan apa yang telah menimpa Islam tatkala timbul fitnah-fitnah yang besar maupun yang kecil maka ia akan melihat bahwa hal ini disebabkan tidak diperhatikannya pokok ini (yaitu tidak mengingkari kemungkaran dengan kemungkaran yang lebih parah -pen) dan tidak adanya kesabaran atas kemungkaran (yang terjadi). Lalu menuntut untuk dihilangkannya kemungkaran tersebut maka akhirnya mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran sebelumnya.”

Ketika di Mekah Nabi melihat kemungkaran yang terbesar dan beliau tidak mampu untuk merubahnya. Bahkan tatkala Allah memenangkan kaum muslimin untuk menguasai Mekah dan jadilah Mekah menjadi negeri Islam beliau bertekad untuk merubah ka’bah dan mengembalikan ka’bah ke atas pondasi Ibrahim. Akan tetapi beliau tercegah dari melakukan hal ini –pahadal beliau mampu untuk melakukannya- karena beliau takut timbulnya perkara yang lebih parah yaitu ketidaksiapan Quraisy untuk menerima hal itu karena mereka baru saja masuk Islam dan kondisi mereka yang baru saja meninggalkan kekafiran. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan untuk mengingkari para penguasa dengan tangan karena sikap ini hanya akan mengakibatkan perkara yang lebih parah”. [I’laamul Muwaqqi’iin ¾]

Berkata Syaikh Al-Mufassir Muhammad Al-Amiin Asy-Syinqithi: “Ketahuilah bahwasanya termasuk jenis-jenis amar ma’ruf nahi mungkar yang termulia adalah (mengucapkan) kalimat kebenaran di sisi penguasa yang dzolim. Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Sebaik-baik jihad adalah (mengucapkan) kalimat kebenaran di sisi penguasa yang dzolim” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Thirmidzi dan berkata “Hadits Hasan”)

Dan dari Thooriq bin Syihaab bahwasanya ada seorang pria bertanya kepada Nabi –dan dia telah meletakkan kakinya di peperangan- “Jihad apakah yang paling afdhol?”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perkataan yang benar di sisi penguasa yang lalim”. Diriwayatkan oleh An-Nasaai dengan sanad yang shahih –sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi-. Ketahuilah bahwasanya hadits yang shahih telah menjelaskan bahwa kondisi rakyat terhadap sikap penguasa yang melakukan perbuatan yang tidak semestinya ada tiga:

Yang pertama, mampu untuk menasehatinya dan menyuruhnya untuk melakukan perbuatan ma’ruf dan melarangnya dari kemungkaran tanpa mengakibatkan kerugian yang lebih besar dari sebelumnya. Maka orang yang beramar ma’ruf terhadap penguasa dalam kondisi seperti ini adalah mujahid yang terselamatkan dari dosa meskipun nasehatnya tidak bermanfa’at. Dan nasehatnya terhadap sang penguasa wajib dilakukan dengan mau’izhoh yang baik dengan kelembutan karena hal ini biasanya mendatangkan faedah.

Yang kedua, tidak mampu untuk menasehatinya karena kerasnya sang penguasa terhadap orang yang menasehatinya sehingga menyampaikan nasehat kepadanya akan mengakibatkan kemungkaran yang lebih parah. Dalam kondisi seperti ini pengingkaran dilakukan dengan hati dan membenci serta marah terhadap kemungkaran tersebut. Kondisi inilah yang dinyatakan sebagai selemah-lemahnya iman.

Yang ketiga, ridho dengan kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, serta mengikuti sang penguasa melakukan kemungkaran tersebut. Maka orang yang demikian sama saja berserikat dengan sang penguasa dalam perbuatan dosa.” [Adhwaaul Bayaan I/466-467 tafsir surat Al-Maidah ayat 78]

Syubhat Ketiga: Berdalih dengan Atsar dari Ali bin Abi Tholib

Ibnu Hajar juga menukil atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) dengan sanadnya yang shahih dari Ali bin Abi Thalib tentang khawarij. Ali berkata, “Apabila mereka memberontak terhadap imam yang adil, maka perangilah mereka. Tetapi, jika mereka memberontak terhadap imam yang lalim, maka janganlah kalian memerangi mereka karena mereka mempunyai alasan.

Jawaban:

1. Atsar ini selain diriwayatkan oleh Ibnu Jarir juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah [Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 7/559 no 37916]. Dan sanad atsar ini bermuara pada jalur berikut,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي نَضَر ابْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ عَلِيٍّ

Dari Abdullah bin Al-Haarits, dari seorang pria dari bani Nadher bin Muawiyah dari Ali (bin Abi Tholib). [Silahkan merujuk tentang penjelasan madaar sanad atsar ini pada kitab Kanzul ‘Ummaal 11/143 no 31620 dan no 31621]

Jika kita perhatikan sanad di atas maka kita dapati pada sanad atsar ini terdapat seorang perawi yang mubham/yang tidak diketahui namanya apalagi tentang keadaan kredibilitasnya. Oleh karena itu sanad atsar ini lemah dikarenakan perawi yang mubham ini, sebagaimana hal ini sudah ma’ruf di kalangan orang yang mengenal ilmu hadits.

Adapun perkataan Ibnu Hajar, “Dan Ath-Thobari telah mengeluarkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Al-Haarits dari seorang pria dari bani Nadhr dari Ali…” [Fathul Baari 12/301], maka perkataan Ibnu Hajar ini tidaklah menunjukan bahwa beliau menshahihkan atsar ini, akan tetapi maksud beliau menshahihkan sanad hingga Abdullah bin Al-Haarits, kemudian ‘illah (sebab lemahnya) hadits ini masih tetap ada yaitu mubham-nya seorang perawi yang ia berada di atas Abdullah bin Al-Haarits. Oleh karena itu atsar ini lemah. Pemahaman ini amatlah jelas bila kita mencermati perkataan Ibnu Hajar berikut:

وقد أخرج الطبري بسند صحيح عن عبد الله بن الحارث عن رجل من بني نضر عن علي وذكر الخوارج فقال إن خالفوا إماما عدلا فقاتلوهم وإن خالفوا إماما جائرا فلا تقاتلوهم فإن لهم مقالا.

“Dan sungguh Imam At Thobary juga telah mengeluarkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Al Harits dari seorang pria dari bani Nadhr bin Muawiyah dari Ali (bin Abi Tholib). (Fathul Bary 12/301)

2. Anggaplah bahwa atsar ini shahih, maka atsar ini bertentangan dengan dalil-dalil yang banyak yang menunjukan diperanginya Khawarij tanpa perincian seperti ini. Dan dalil-dalil tersebut shahih dan jelas, diantaranya:

من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد يريد أن يشق عصاكم أو يفرق جماعتكم فاقتلوه

“Barang siapa yang datang kepada kalian, padahal urusan (kepemimpinan) kalian telah bulat di bawah kepemimpinan seseorang, dan ia hendak memecah belah persatuan kalian dan mencerai beraikan jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.” (Riwayat Muslim)

3. Kemudian bagaimana bisa para khawarij memiliki alasan-alasan padahal telah jelas hadits-hadits yang begitu banyak yang memerintahkan untuk bersabar atas kedzoliman penguasa?? Maka atsar ini jika ditinjau dari matannya dapat dihukumi sebagai atsar yang mungkar, karena menyelisihi makna hadits-hadits yang shahih.

4. Apakah maksud sahabat Ali rodiallahu ‘anhu dengan perincian seperti ini?? Bukankah khawarij yang sedang dibicarakan oleh Ali adalah Khawarij yang keluar memberontak kepadanya? Maka seakan-akan Ali berkata, “Lihatlah aku, jika aku adalah penguasa yang dzolim maka jangan taati aku untuk memerangi mereka, biarkanlah mereka memerangiku. Dan jika aku adalah penguasa yang adil maka taatlah kepadaku untuk memerangi mereka!!”???

5. Kemudian coba kembali perhatikan atsar tersebut, bukankah sahabat Ali rodiallahu ‘anhu meskipun memerinci tentang sikap memerangi Khawarij akan tetapi mereka semua tetap dinamakan Khawarij??, baik yang memberontak terhadap penguasa yang adil maupun penguasa yang dzolim?? Perincian Ali hanya berkaitan dengan perincian dalam sikap memerangi mereka.

Bagaimanapun juga telah jelas di awal pembahasan bahwasanya merupakan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah adalah tidak memberontak kepada penguasa yang dzolim. Dan telah penulis sebutkan hadits-hadits serta perkataan para ulama salaf tentang hal ini. Lantas apakah kita mau membongkar prinsip dasar ini yang dibangun di atas hadits-hadits yang shahih hanya dengan menggunakan atsar yang lemah…???

Ibnul Qoyyim berkata: “Renungkanlah bagaimana hikmah Allah dengan menjadikan raja-raja rakyat, para pemerintah, dan para penguasa mereka sebagaimana jenis amalan rakyat itu sendiri. Bahkan seakan-akan amalan-amalan mereka (rakyat) terbiaskan pada model-model pemerintah dan raja-raja mereka. Jika rakyat istiqomah (lurus) maka demikian pula raja-raja mereka. Jika mereka bertindak adil maka para penguasa mereka juga akan bertindak adil. Jika rakyat berbuat dzolim maka para raja dan para penguasa mereka pun akan bertindak lalim. Jika terlihat sikap-sikap penipuan dan kecurangan pada mereka (rakyat) maka demikian pula akan nampak pada pemerintah mereka. Jika mereka tidak menunaikan hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan (seperti zakat -pen) serta pelit untuk mengeluarkannya maka demikianlah juga raja-raja dan pemerintah mereka akan tidak menyalurkan hak-hak mereka serta pelit untuk mengeluarkan hak-hak mereka (rakyat). Jika rakyat mengambil apa yang bukan hak mereka dari orang-orang yang lemah (diantara mereka) dalam mu’amalah mereka maka para penguasa juga akan mengambil dari mereka apa-apa yang sebenarnya bukanlah hak para penguasa. Pemerintah akan mewajibkan mereka untuk membayar pajak. Semakin rakyat mengambil (tanpa hak) dari orang-orang yang lemah (diantara mereka) maka pemerintah pun akan semakin banyak mengambil dari mereka dengan paksa apa yang bukan hak pemerintah. Maka perilaku rakyat akan terbias pada perilaku pemerintah. Dan bukanlah merupakah hikmah ilahi untuk menjadikan yang menguasai rakyat yang buruk dan suka berbuat kefajiran para penguasa yang sejenis dengan mereka?

Dan tatkala generasi awal merupakan generasi terbaik dan paling sholeh maka para penguasa mereka juga demikian. Dan tatkala mereka/rakyat berkhianat (berbuat kecurangan) maka pemerintah pun akan berbuat khianat terhadap mereka. Hikmah Allah enggan untuk menjadikan orang yang menguasai (memerintah) kita –seperti di zaman sekarang ini- seperti model Mu’awiyah dan Umar bin Abdil Aziz apalagi seperti model Abu Bakr dan Umar bin Al-Khotthoob. Akan tetapi pemerintah kita sesuai dengan kondisi kita dan pemerintah orang-orang sebelum kita sebagaimana mereka.” [Miftaah Daaris Sa’aadah I/253-254]

Syubhat Keempat: Orang Yang Memberontak kepada Pemerintah yang Dzolim Bukanlah Khawarij

Kalau kita mengatakan bahwa memberontak terhadap pemerintah yang dzolim merupakan tindakan khawarij maka secara otomatis kita mengatakan bahwa Aisyah adalah termasuk khawarij dan demikian pula para sahabat yang lain dan sebagian tabi’in –wa na‘udzubillah!-

Anggapan bahwa Aisyah telah memberontak/menentang Ali sama persis dengan perkataan orang-orang Rofidhoh (Syi’ah). [Sebagaimana perkataan orang rofidhoh ini dinukil oleh Ibnu Taimiyyah dalam Minhaajus Sunnah 4/308]

Adapun yang kedua (bahwasanya Aisyah dan para sahabat yang bersamanya telah menentang Ali) maka hal ini perlu ditinjau kembali dari sisi sejarah bagaimanakah kejadian yang terjadi sebenarnya. Agar kita mengetahui dengan benar kejadian yang sebenarnya, maka simaklah kisah percakapan antara sahabat ‘Aisyah, Tholhah, Az Zubair dengan utusan Khalifah Ali bin Abi Tholib yaitu sahabat Al Qa’qa’ bin ‘Amr rodiallahu ‘anhu berikut ini:

“Ali bin Abi Tholib rodiallahu ‘anhu tatkala mengetahui bahwa sahabat ‘Aisyah, Tholhah dan Az Zubair rodiallahu ‘anhum telah berangkat menuju ke kota Basrah, beliau rodiallahu ‘anhu mengutus sahabat Al Qa’qa’ bin ‘Amer rodiallahu ‘anhu untuk menyeru mereka agar bergabung dengan Khalifah Ali rodiallahu ‘anhu dan memperingatkan mereka dari dosa perpecahan dan perselisihan.

Maka Al Qa’qa’ bin ‘Amer rodiallahu ‘anhu pertama kali menemui sahabat ‘Aisyah radiallahu ‘anha dan bertanya kepadanya: “Wahai ibuku, apa yang menyebabkan anda datang ke negeri ini?” Beliau menjawab: “Wahai nak, aku datang guna mendamaikan masyarakat”. Maka Al Qa’qa’ bin ‘Amer rodiallahu ‘anhu meminta dari beliau agar beliau memanggil sahabat Tholhah dan Az Zubair rodiallahu ‘anhuma agar mereka berdua datang ke tempat beliau. Maka keduanya segera datang memenuhi panggilan sahabat ‘Aisyah.

Setelah mereka berdua datang, Al Qa’qa’ bin ‘Amer rodiallahu ‘anhu berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku telah bertanya kepada Ummul Mukminin (’Aisyah) tentang alasan ia datang, kemudian beliau menjawab: “Sesungguhnya kami datang guna mendamaikan masyarakat.” Maka keduanya langsung berkata: “Kami juga demikian…dst” [Silahkan baca Tarikh At Thobary 3/29, Al Kamil oleh Ibnul Atsir 3/122-123 & Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu katsir 7/248 dst]

Inilah sebenarnya yang terjadi, dan inilah alasan mengapa sahabat ‘Aisyah, Tholhah dan Zubair rodiallahu ‘anha telah berangkat menuju ke kota Basrah, sebagaimana dituturkan oleh para ahli tarikh ahlis sunnah, bukan seperti bualan orang yang kurang membaca sejarah Islam.

Adapun bila ada yang bertanya, “Bila demikian alasan mereka datang membawa pasukan ke Basrah, mengapa kok sampai terjadi peperangan antara mereka melawan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib?”

Maka jawabannya ada pada karya-karya ulama’ ahli tarikh, sebagaimana berikut ini: “Tatkala telah tercapai kesepakatan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan ketiga sahabat di atas, dan mereka bermalam dalam keadaan tentram dan bertekad untuk bersatu, tiba-tiba pada waktu pagi hari, para pembunuh Khalifah Utsman beserta para pembela mereka yang kira-kira berjumlah dua ribu orang, menyerang kedua pasukan (pasukan Ali dan pasukan ketiga sahabat tersebut) sehingga pasukan Khalifah beranggapan bahwa mereka telah dikhianati oleh pasukan ketiga sahabat tersebut dan begitu juga sebaliknya, hingga akhirnya terjadilah peperangan sengit antara mereka.” [Untuk lebih terperincinya silahkan baca Tarikh At Thobary 3/31, Al Kamil oleh Ibnul Atsir 3/123 dst & Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu katsir 7/251 dst]

Ibnu Hazm bekata: “Adapun Ummul Mukminin, Az-Zubair, dan Tholhah shollallahu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang yang bersama dengan mereka, maka mereka sama sekali tidaklah membatalkan keimaman (kekhalifahan) Ali rodiallahu ‘anhu, mereka juga tidak mencela kepemimpinan Ali, tidak menyebutkan kejelekan Ali rodiallahu ‘anhu yang menyebabkan beliau jatuh dari tampuk kekhalifahan, dan mereka juga tidak membuat kekhalifahan lain, tidak memperbaharui bai’at mereka kepada selain Ali. Tidak seorang pun yang mampu untuk menuduh mereka melakukan hal-hal tersebut dengan dalih apapun.

Bahkan setiap orang yang memiliki ilmu yakin bahwa semua perkara-perkara tersebut tidak pernah ada (tidak pernah mereka lakukan -pen). Jika hal ini tidak diragukan lagi maka telah terbukti dengan nyata dan tidak diragukan lagi bahwasanya mereka (Aisyah, Az-Zubair, dan Tholhah shollallahu ‘alaihi wa sallam) tidaklah mereka pergi ke Bashroh untuk memerangi Ali rodiallahu ‘anhu, tidak juga untuk menyelisihi Ali rodiallahu ‘anhu, apalagi untuk membatalkan bai’at terhadap Ali rodiallahu ‘anhu. Kalau mereka menghendaki hal itu tentu mereka akan mengadakan bai’at yang baru kepada selain Ali. Hal ini tidaklah ada seorang pun yang meragukan (kebenarannya) dan tidak seorang pun yang mengingkarinya.

Jika demikian (perkaranya) maka telah nyata bahwasanya mereka berangkat ke Bashroh hanyalah untuk menutup lobang yang terjadi di Islam karena terbunuhnya Amirul Mukminin Utsman rodiallahu ‘anhu secara dzolim. Dalil akan hal ini bahwasanya mereka (Ali dan Aisyah dan yang bersama keduanya) berkumpul dan tidak saling berbunuh-bunuhan dan tidak saling berperang. Dan tatkala tiba malam hari maka para pembunuh Utsman mengetahui bahwasanya mereka sedang dicari dan hendak diperangi, maka mereka pun menyerang pasukan Tholhah dan Az-Zubair lalu mereka menghunuskan pedang terhadap pasukan tersebut. Maka pasukan tersebut membela diri mereka dengan persangka mereka hingga mereka pun sampai (menyerang) pasukan Ali. Maka pasukan Ali pun juga membela diri mereka. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya masing-masing pasukan menyangka bahwasanya pasukan yang lainlah yang telah memulai peperangan. Akhirnya perkaranya menjadi tidak karuan sehingga tidak seorang pun yang mampu untuk bertindak melainkan untuk membela diri sendiri. Dan orang-orang fasiq para pembunuh Utsman terus mengobarkan api peperangan. Masing-masing kelompok (kelompok Ali atau kelompok Aisyah -pen) benar dalam tujuannya dan masing-masing membela diri.” [Al-Fishol fil milal 4/123]

Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya Aisyah tidaklah berperang, dan tidak pula keluar untuk berperang. Akan tetapi ia keluar dengan tujuan untuk mendamaikan diantara kaum muslimin. Ia menyangka bahwa dengan keluarnya dia akan mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Kemudian setelah jelas bagi beliau bahwasanya tidak keluarnya beliau adalah lebih baik. Jika beliau mengingat akan keluarnya beliau maka beliau pun menangis hingga membasahi kerudungnya. Dan demikian pula para as-saabiquun (al-awwaluun), seluruhnya menyesal terhadap peperangan yang telah mereka masuki. Tholhah, Az-Zubair, dan Ali semuanya menyesal. Tatkala peristiwa perang Jamal mereka sama sekali tidak berniat untuk berperang akan tetapi terjadilah peperangan diluar kehendak mereka…

Dan Aisyah…tidaklah berperang dan tidak juga memerintahkan untuk berperang. Demikianlah yang disebutkan oleh para pakar sejarah”. [Minhaajus Sunnah An-Nabawiyah 4/316-317]

Berkata Ibnu Hajar: “Dan udzur bagi Aisyah dalam hal ini adalah dia ada takwil, Aisyah, Tholhah, dan Az-Zubair. Maksud mereka adalah untuk melakukan ishlah diantara manusia dan melakukan qishosh terhadap para pembunuh Utsman. Dan pendapat Ali adalah bersatu (terlebih dahulu -pen) di atas ketaatan dan (kemudian) para wali dari yang terbunuh menuntut qishosh dari orang-orang yang telah jelas melakukan pembunuhan dengan persayaratannya”. [Fathul Baari 7/108]

Ibnu Hajar juga berkata: “Dan menunjukan akan hal ini yaitu tidak seorang pun yang menukil bahwasanya Aisyah dan orang-orang yang bersamanya menentang kepemimpinan Ali atau menyeru salah seorang dari mereka untuk mereka jadikan sebagai khalifah”. [Fathul Baari 13/56]

Demikianlah kronologi kejadian yang sebenarnya, dan bila kita memahami hal ini, niscaya ia tidak akan pernah mengatakan bahwa ketiga sahabat di atas mengadakan perlawanan kepada khalifah Ali bin Abi Tholib rodiallahu ‘anhu.

Dan perlu pembaca ketahui semua, bahwa sahabat Az Zubair rodiallahu ‘anhu sebenarnya menyesali kepergiannya ini, oleh karena itu beliau rodiallahu ‘anhu sempat menunggangi tunggangannya hendak pulang dan meninggalkan pasukan bersama Tholhah dan ‘Aisyah rodiallahu ‘anha.

عن أبي حرب بن أبي الأسود الديلي قال : شهدت عليا والزبير حين تواقفا فقال له علي : يا زبير، أنشدك الله أسمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: إنك تقاتلني وأنت ظالم،؟ قال: نعم، لم أذكره إلا في موقفي هذا، ثم انصرف.
وفي رواية قال الزبير لابنه : ذكر لي علي حديثا سمعته من رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: لتقاتلنه وأنت ظالم له، فلا أقاتله. رواه الحاكم وابن أبي شيبة وعبد الرزاق والبيهقي وصححه الألباني.

“Dari Abu Harb bin Abul Aswad Ad Dily, ia menuturkan: Aku menyaksikan di saat Ali dan Az Zubair keduanya saling berhadapan, kemudian Ali berkata kepadanya: Wahai Zubair, aku ingatkan engkau akan Allah, bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadamu: Sesungguhnya engkau akan memeranginya, sedangkan engkau dalam keadaan dzolim? Az Zubair menjawab: Ya, dan aku tidaklah mengingatnya kecuali sekarang ini, kemudian beliau berpaling pergi.”

Dan pada riwayat lain: Az Zubair berkata kepada Anaknya: Ali mengingatkan aku suatu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sungguh engkau akan memeranginya (Ali), sedangkan engkau dalam keadaan berbuat dzolim” dan aku tidak akan memeranginya. (Riwayat Al Hakim, Ibnu Abi Syaibah, Abdurrazzaq, dan Al Baihaqi serta dishahihkan oleh Al Albany)

Akan tetapi karena dihalang-halangi oleh anaknya yang bernama Abdullah maka beliau mengurungkan kepulangannya ini.

Begitu juga halnya dengan ‘Aisyah, setiap kali beliau mengingat apa yang beliau lakukan pada perang Jamal, beliau senantiasa menangis hingga air matanya membasahi jilbabnya.

Imam Adz Dzahabi menyebutkan pada biografi beliau:

كانت تحدث نفسها أن تدفن في بيتها- فقالت إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم حدثا ادفنوني مع أزواجه فدفنت بالبقيع.
قالت عائشة: إذا مر ابن عمر فأرونيه، فلما مر بها، قيل لها: هذا ابن عمر. فقالت: يا أبا عبد الرحمن ما منعك أن تنهاني عن مسيري؟ قال: رأيت رجلا قد غلب عليك يعني ابن الزبير

“Dahulu ‘Aisyah berkeinginan untuk dikuburkan di dalam rumahnya, kemudian beliau berkata: Sesungguhnya aku telah berbuat kesalahan sepeninggal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka kuburkanlah aku bersama istri-istri beliau lainnya di kuburan Baqi’.”

Imam Adz Dzahabi berkata: “Yang beliau maksud dengan kesalahan ialah kepergiannya pada tragedi perang Jamal, karena sesungguhnya beliau amat menyesali kepergiannya itu, dan beliau bertaubat darinya. Padahal beliau melakukannya atas dasar ijtihad dan bertujuan baik, sebagaimana Tholhah dan Az Zubair bersama beberapa pembesar sahabat juga telah berijtihad, semoga Allah senantiasa meridhoi mereka semua.”

Kemudian Imam Adz Dzahabi menukilkan dari sebuah kisah, yaitu pada suatu saat ‘Aisyah berpesan: bila Ibnu Umar lewat, hendaknya kalian tunjukkanlah dia kepada aku, dan ketika Ibnu Umar telah melintas, maka dikatakan kepada beliau: Inilah Ibnu Umar, maka ‘Aisyah berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdirrahman, apa yang menghalangimu untuk mencegahku dari kepergianku (pada tragedi perang Jamal -pen)?” Beliau menjawab: “Aku melihat bersamamu seorang lelaki yang telah mempengaruhimu, yaitu Ibnu Zubair.” [Siyar A’alam An Nubala’ 2/135]

Adapun sahabat Mu’awiyah rodiallahu ‘anhu, maka perbuatannya tidaklah dapat dijadikan hujjah untuk mengatakan bahwa pemberontakan itu dibolehkan. Sahabat Mu’awiyah rodiallahu ‘anhu tidaklah dinyatakan memberontak, sebab dia bersama seluruh penduduk daerah Syam beranggapan bahwa mereka belum terikat bai’at dengan sahabat ‘Ali rodiallahu ‘anhu, sehingga mereka beranggapan bahwa mereka tidak berkewajiban untuk ta’at kepadanya. Dan sahabat Mu’awiyyah beserta seluruh penduduk Syam mensyaratkan kepada sahabat Ali, mereka akan membai’at sahabat Ali rodiallahu ‘anhu bila beliau telah membunuh seluruh pembunuh sahabat Utsman bin ‘Affan rodiallahu ‘anhu, atau beliau mengizinkan kepada sahabat Mu’awiyah untuk menangkap seluruh pembunuhnya dan kemudian membunuh mereka. [Sebagaimana dijabarkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa An Nihayah 7/265]

Kemudian perlu diketahui, bahwa sahabat Mu’awiyah rodiallahu ‘anhu dalam sikapnya ini berdasarkan ijtihadnya, dan beliau dengan dasar ini kesalahannya diampuni Allah, bahkan mendapatkan satu pahala, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

“Bila seorang hakim (mujtahid) memutuskan (suatu perkara) kemudian ia berijtihad, dan ternyata ia benar, maka ia mendapat dua pahala, dan bila ia memutuskan (suatu perkara) kemudian ia berijtihad, dan ternyata ia salah, maka ia mendapat satu pahala.” (Muslim)

Walau demikian, dari berbagai dalil yang ada dapat diketahui bahwa ijtihad sahabat Ali rodiallahu ‘anhu dalam kejadian ini lebih mendekati kepada kebenaran. Hal ini dapat kita ketahui dari berbagai dalil yang ada, diantaranya berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم ذكر قوما يكونون في أمته يخرجون في فرقة من الناس سيماهم التحالق، قال: هم شر الخلق أو من أشر الخلق، يقتلهم أدنى الطائفتين إلى الحق

“Dari Abu Sa’id Al Khudri rodiallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan suatu kaum yang ada pada umatnya dan yang akan keluar di saat terjadi perpecahan antara manusia, ciri mereka adalah berkepala gundul. Beliau bersabda: Mereka adalah mahluk paling buruk, atau diantara mahluk paling buruk, mereka akan diperangi/dibunuh oleh kelompok umat Islam yang paling dekat kepada kebenaran.” (Muslim)

Dan diantara indikasi yang menguatkan bahwa ijtihad sahabat Ali rodiallahu ‘anhu lebih mendekati kebenaran adalah sikap sahabat Mu’awiyyah rodiallahu ‘anhu setelah menjadi khalifah. Beliau tidak meneruskan tekadnya menangkap dan menghukumi seluruh orang yang ikut andil dalam pembunuhan sahabat Utsman. Hal ini karena beliau akhirnya menyadari bahwa untuk melakukan hal itu diperlukan pertumbahan darah yang besar, sebab para pembunuh Utsman berada di kabilah-kabilah besar dan kuat, sehingga untuk dapat membunuh mereka harus terlebih dahulu mengalahkan kabilahnya yang sudah barang tentu akan melindungi mereka.

Dan yang paling penting di sini sahabat Mu’awiyah tidaklah memberontak kepada Ali akan tetapi beliau beranggapan bahwa ia dan pengikutnya sedang membela diri dari serangan sahabat Ali rodiallahu ‘anhu yang hendak memaksanya untuk ikut membaiat beliau sebagai khalifah.

Adapun Al Husain bin Ali bin Abi Tholib dan Abdullah bin Az Zubair rodiallahu ‘anha maka perilaku mereka berdua tidaklah disetujui oleh sahabat-sahabat yang lainnya, sebagaimana tergambar dalam penuturan Imam Al Waqidy berikut ini: “Tatkala Ibnu Zubair dan Al Husain diseru untuk membai’at Yazid bin Mu’awiyyah, mereka berdua enggan memenuhi seruan itu, dan segera mereka berdua melarikan diri ke kota Makkah. Dan di tengah perjalanan, keduanya berjumpa dengan Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas rodiallahu ‘anha yang datang dari Makkah menuju Madinah. Maka Ibnu Umar bertanya kepada mereka berdua: Apa yang terjadi sepeninggalmu? Mereka berdua menjawab: Kematian Mu’awiyyah, dan pembaiatan Yazid bin Mu’awiyah. Mendengar demikian, serta merta Abdullah bin Umar berkata kepada mereka berdua: “Bertaqwalah engkau berdua kepada Allah, dan janganlah kalian pecah belah persatuan umat Islam.” [Baca Tarikh Ath Thobari 3/278 & Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu katsir 8/150]

Bahkan saudara seayahnya, yaitu Muhammad Al Hanafiyah enggan untuk ikut bersamanya.

Dan tatkala Al Husain rodiallahu ‘anhu tetap juga memenuhi penggilan para pendusta penduduk Irak sekte Syi’ah, Abdullah bin Abbas berkata kepadanya: “Sungguh demi Allah seandainya bukan karena aku malu dan khawatir engkau ditertawakan oleh masyarakat, niscaya aku akan pegang erat-erat kepalamu dan tidak akan aku biarkan engkau pergi.” [Baca Al Amaly oleh Al Muhamily 226& dan juga Al Bidayah wa AN Nihayah 8/161]

Adapun Ibnu ‘Umar rodiallahu ‘anhu ketika sampai kepadanya berita keberangkatan Al Husain menuju Irak, maka segera ia menyusulnya dan kemudian setelah perjalanan tiga hari-tiga malam, beliau berhasil menyusulnya, dan beliau langsung bertanya kepada Al Husain: Kemanakah engkau akan pergi? Al Husain menjawab: Ke Irak, dan ternyata beliau telah membawa segepok lembaran dan surat, lalu ia menambahkan: ini surat mereka dan pernyataan bai’at mereka kepadaku. Maka Ibnu Umar berkata kepadanya: Janganlah engkau datang ke mereka, akan tetapi Al Husain enggan menuruti nasehatnya. Melihat yang demikian Ibnu ‘Umar berkata kepadanya: Aku akan menyampaikan kepadamu suatu hadits: “Sesungguhnya Malaikat Jibril pernah mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia memberi pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau lebih memilih akhirat, dan beliau tidak menginginkan dunia.” Dan engkau adalah keturunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh demi Allah tidak akan ada dari kalian yang akan menjadi penguasa (khalifah) untuk selama-lamanya. Tidaklah Allah memalingkan khilafah dari kalian melainkan demi kebaikan kalian. Akan tetapi Al Husain tetap enggan untuk kembali. Maka Ibnu Umar segera memeluk Al Husain sambil menangis, dan berkata kepadanya: Aku titipkan engkau kepada Allah, wahai orang yang akan terbunuh.” [Riwayat At Thobrany, Al Baihaqy, Al Bazzar dan para perawinya dinyatakan oleh Al Haitsamy “Tsiqaat”]

Dan Abu Sa’id Al Khudri rodiallahu ‘anhu berkata kepadanya: “Bertaqwalah engkau kepada Allah pada dirimu sendiri, dan tetaplah berada di rumahmu, dan janganlah engkau menentang imammu (pemimpinmu).”

Sahabat Jabir bin Adillah rodiallahu ‘anhu juga berkata kepadanya: “Bertaqwalah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau adu masyarakat sebagian mereka dengan sebagian lainnya, sungguh demi Allah engkau tidaklah terpuji dengan perbuatanmu ini, akan tetapi ia tidak menuruti nasehatku.” [Al Bidayah wa An Nihayah 8/165]

Bahkan Al Husain rodiallahu ‘anhu sendiri pada akhirnya menyesali sikapnya dan meminta kepada gubernur Yazid di Kufah dan bashrah yaitu Abdullah bin Ziyad untuk memberikannya satu dari beberapa alternatif berikut:

1. Membiarkannya pulang ke Makkah.
2. Membiarkannya menemui Yazid.
3. Membiarkannya pergi ke perbatasan negeri Islam untuk berjihad melawan orang-orang kafir. [Tarikh Thobari 3/298, Siyar A’alam An Nuba’ 3/311, & Al Bidayah wa An Nihayah 8/171]

Adapun Ibnu Zubair rodiallahu ‘anhu, maka simaklah sikap Abdullah bin Umar rodiallahu ‘anhu kepada panglima Abdullah bin Zubair di madinah yang bernama Abdullah bin Muthi’:

عن نافع قال: جاء عبد الله بن عمر إلى عبد الله بن مطيع حين كان من أمر الحرة ما كان زمن يزيد بن معاوية، فقال: اطرحوا لأبي عبد الرحمن وسادة، فقال: إني لم آتك لأجلس، أتيتك لأحدثك حديثا سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقوله، سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له، ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية

“Dari Nafi’, ia menuturkan: Abdullah bin Umar datang kepada Abdullah bin Muthi’ ketika terjadi tragedi Al Harrah pada zaman Yazid bin Mu’awiyyah, maka Ibnu Muthi’ pun berkata: Siapkan untuk Abu Abdirrahman sebuah bantal. Maka beliau berkata: Sesungguhnya aku tidaklah datang untuk duduk, aku datang kepadamu untuk menyampaikan kepadamu suatu hadits yang pernah aku dengar disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan (kepada penguasa -pen) maka ia akan berjumpa dengan Allah pada hari qiyamat sedangkan ia tidak memiliki alasan (hujjah). Dan barang siapa yang mati sedangkan di tengkuknya tidak terikat janji setia (bai’at kepada seorang penguasa -pen) maka ia kematiannya bagaikan kematian jahiliyah.” (Muslim)

Ibnu Umar rodiallahu ‘anhu bukan hanya menyampaikan nasehat kepada para pengikut Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Muthi’ semata bahkan, beliau mengumpulkan seluruh keluarga, kerabat dan budak-budaknya, kemudian ia berkata: “Sesungguhnya kita telah membai’at orang ini (yaitu Yazid -pen) dengan bai’at yang Allah Ta’ala dan rasul-Nya perintahkan, dan sungguh aku telah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berkhianat akan dipancangkan baginya bendera di hari qiyamat, dan dikatakan; inilah pengkhianatan fulan” dan aku tidak mengetahui pengkhianatan yang lebih besar dari pengkhianatan seseorang yang telah membai’at orang ini dengan bai’at yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan, kemudian ia mengobarkan peperangan kepadanya. Dan sungguh aku tidaklah mengetahui seseorang dari kalian yang mencabut bai’at dari Yazid atau membai’at (orang lain -pen) dalam hal ini, melainkan sikapnya itu menjadi pemisah antara aku dan dia.” (Bukhari)

Dan cermatilah sikap Muhammad bin Ali Bin Abi Tholib rodiallahu ‘anhu (yang dikenal dengan Muhammad Al Hanafiyah) berikut ini: “Sepulang utusan penduduk Madinah dari Istana Yazid, Abdullah bin Muthi’ dan kawan-kawannya mendatangi Muhammad bin Al Hanafiyah, dan mereka membujuknya agar ikut serta mencopot kekhilafahan Yazid, akan tetapi ia enggan memenuhi seruan mereka. Maka Ibnu Muthi’ berkata kepadanya: Sesungguhnya Yazid minum Khamer, meninggalkan sholat, dan melampaui hukum-hukum Al-Qur’an. Maka Muhammad bin Al Hanafiyah berkata kepada mereka: Aku tidak pernah melihat apa yang kalian sebut-sebut itu, padahal aku pernah tinggal di istananya, aku melihatnya rajin sholat, berusaha mewujudkan kebaikan, bertanya tentang ilmu fiqih, komitmen dengan As Sunnah. Mereka berkata: Ia hanya berpura-pura di hadapanmu. Maka Muhammad bin Al Hanafiyah berkata kepada mereka: Apa yang ia khawatirkan dariku sehingga ia melakukannya padaku? Apakah ia minum khamer di hadapan kalian? Bila ia melakukannya di hadapan kalian, berarti kalian ikut berdosa (karena tidak mengingkarinya -pen). Dan bila kalian tidak pernah menyaksikannya maka tidak boleh bagi kalian untuk bersaksi dengan sesuatu yang tidak kalian ketahui. Mereka menjawab: Berita ini benar-benar otentik, walaupun tidak kami saksikan langsung. Maka Muhammad bin Al Hanafiyah berkata kepada mereka: Allah tidaklah menerima sikap seperti ini dari para saksi:

إلا من وشهد بالحق وهم يعلمون

“Kecuali orang-orang yang bersaksi dengan benar sedangkan mereka benar-benar mengetahui.” (QS. Ad Dukhon: 86). Dan aku tidaklah sudi ikut-ikutan dengan urusan kalian ini. Mereka menjawab: Mungkin engkau tidak suka bila yang akan menjadi penguasa selain engkau, maka kami akan jadikan kamu sebagai pemimpin kami. Muhammad bin Al Hanafiyah berkata: Aku tidak ingin berperang demi tujuan yang kalian sebut, baik aku sebagai pemimpin atau sebagai pengikut. Mereka berkata: Dahulu engkau telah ikut berperang bersama ayahmu. Muhammad bin Al Hanafiyah berkata: Datangkanlah kepadaku orang yang seperti ayahku, niscaya aku akan berperang demi memperjuangkan apa yang ia perjuangkan. Mereka berkata: Kalau demikian perintahkanlah kedua anakmu Abul Qasim dan Al Qasim untuk ikut berperang bersama kami. Muhammad bin Al Hanafiyah berkata: Seandainya aku memerintahkan mereka berdua, niscaya aku akan ikut berperang. Mereka berkata: Kalau begitu dukunglah kami dengan cara mengobarkan semangat masyarakat untuk berperang. Muhammad bin Al Hanafiyah berkata: Subhanallah, aku menyuruh orang lain dengan sesuatu yang tidak aku lakukan dan tidak aku sukai?! Bila demikian berarti aku tidak memberikan nasehat karena Allah kepada hamba-hamba-Nya. Mereka berkata: Kami akan membencimu. Muhammad bin Al Hanafiyah berkata: Bila demikian aku akan tetap memerintahkan masyarakat dengan ketakwaan, dan agar tidak berusaha mencari kerelaan orang lain dengan mengorbankan keridhoan Allah, dan kemudian beliau pergi ke Mekkah.” [Al Bidayah wa An Nihayah 8/236]

Ditambah lagi ketika Yazid bin Mu’awiyyah meninggal dunia, pasukan yang telah dikirim oleh Yazid untuk mengepung kota Makkah dan menundukkan Abdullah bin Zubair, pulang ke Syam. Dan saat itulah Abdullah bin Az Zubair semakin kuat pasukannya dan dibai’at oleh penduduk Makkah dan Madinah dan beberapa wilayah lainnya menjadi kholifah, oleh karena itu menurut Ibnu hazem dan sebagian ulama’ lainnya dialah yang menjadi Kholifah sepeninggal Yazid bin Mu’awiyah.

Akan tetapi Marwan bin Al Hakam yang semula berencana ikut serta membai’at Abdullah bin Az Zubair karena desakan dari beberapa pemuka Bani Umayyah dan panglima-panglima pasukan Yazid menobatkan dirinya sebagai Kholifah pengganti Mu’awiyyah bin Yazid. Sehingga kala itu terdapat dua orang kholifah yang sama-sama telah dibai’at oleh penduduk beberapa wilayah.

Dan terjadilah perang saudara antara mereka, dan yang berakhir dengan kemenangan Abdul Malik bin Marwan pengganti ayahnya sepeninggalnya. [Perincian kisah ini dengan lengkap dapat dibaca di Tarikh At Thobari 3/366 dst, & Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir 8/240 dst]

Inilah sikap para ulama’ dan para pemuka masyarakat kala itu terhadap sikap orang-orang yang memberontak kepada penguasa yang sah. Dan inilah kejadian sebenarnya yang terjadi pada pertempuran antara Abdullah bin Az Zubair dengan Marwan bil Al Hakam dan kemudian dengan anaknya Abdul Malik.

Dengan demikian pemberontakan mereka tidaklah dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengadakan atau membenarkan pemberontakan atau perlawanan kepada pemerintahan umat Islam yang ada pada zaman ini, walaupun mereka berlaku tidak adil, kecuali bila ketentuan yang telah kami jabarkan di atas terpenuhi sepenuhnya.

Dan sekedar untuk mengingatkan para pembaca tentang keutamaan Mu’awiyah dan anaknya Yazid, simaklah hadits berikut:

عن أم حرام رضي الله عنها أنها سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول: أول جيش من أمتي يغزون البحر قد أوجبوا. قالت: أم حرام: قلت: يا رسول الله، أنا فيهم؟ قال : (أنت فيهم) ثم قال النبي صلى الله عليه و سلم أول جيش من أمتي يغزون مدينة قيصر مغفور لهم) فقلت: أنا فيهم يا رسول الله؟ قال: لا
قال الحافظ ابن حجر : وقوله (قد أوجبوا) أي فعلوا فعلا وجبت لهم به الجنة

“Dari Ummu Haram radhiallahu ‘anha, bahwasannya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Orang-orang pertama dari umatku yang berperang di laut telah mendapatkan (surga -pen)’ Ummu Haram berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah aku ada bersama mereka? Beliau menjawab: ‘Engkau ada bersama mereka’ kemudian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Orang-orang pertama dari umatku yang memerangi kota Kaisar telah diampuni dosanya.’ Maka aku bertanya: Apakah aku ada bersama mereka, wahai Rasulullah? beliau menjawab: Tidak”. (Riwayat Al Bukhori)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dan sabda beliau “telah mendapatkan” maksudnya mereka telah melakukan perbuatan yang dengannya mereka mendapatkan surga.” (Fathul Bari 6/103).

Al Muhallab berkata: “Pada Hadits ini terdapat keutamaan bagi Mu’awiyah, karena dialah pemimpin pasukan pertama yang berperang di lautan, dan juga terdapat keutamaan bagi anaknya Yazid, karena dialah pemimpin pasukan pertama yang menyerang kota Kaisar.” (Fathul bari 6/103)

Bila ada yang bertanya: Bila demikian halnya, apakah Al Husain, Abdullah bin Az Zubair, Abdullah bin Muthi’ dapat dinyatakan sebagai orang-orang khawarij, karena telah memberontak?

Jawaban: Disinilah terletak perbedaan antara metode ahlis sunnah dari metode kaum khawarij yunior (khawarij kelas teri), Ahlus sunnah tidaklah secara spontan mengklaim seseorang dengan suatu hukum atau keputusan, kecuali melalui beberapa tahapan yang telah dijabarkan di atas. Sedangkan kaum khawarij kelas teri, mereka senantiasa memvonis setiap pelaku suatu perbuatan dengan hukum perbuatan tersebut, sehingga mereka dengan darah dingin dan perasaan tak bersalah akan dengan mudah mengklaim: fulan khawarij karena telah melakukan perbuatan atau ucapan kaum khawarij, atau mubtadi’ karena telah melakukan bid’ah tanpa memperdulikan tahapan-tahapan yang telah dijabarkan di atas, yaitu berupa penegakan hujjah, menghilangkan syubhat, dan meniadakan segala penghalang dari dijatuhkannya suatu vonis kepada orang tertentu.

Al Husain, Abdullah bin Az Zubair dan beberapa tokoh yang ikut bersama mereka melawan Yazid, Marwan bin Al Hakam dan Abdul Malik bin Marwan, melakukan hal tersebut karena takwil yang mereka miliki, mereka adalah ahlul ijtihad, dan mereka semenjak awal enggan untuk membai’at Yazid, sehingga mereka beranggapan tidak berkewajiban untuk menta’atinya. Dan ternyata pada akhirnya Al Husain menyesali perbuatannya, sedangkan Abdullah bin Az Zubair telah dibai’at oleh penduduk beberapa wilayah kala itu sehingga yang terjadi antara dia dan Marwan serta anaknya Abdul Malik adalah fitnah dan perang saudara, bukan pemberontakan.

Walau demikian banyak ulama’ kala itu yang menegur sikap mereka dan tidak menyetujui mereka, diantaranya Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdillah, Muhammad bin Al Hanafiyah rodiallahu ‘anha dll.

Adapun pemberontakan Sa’id bin Jubair, maka itu adalah kesalahan beliau yang semoga Allah Ta’ala mengampuni dosanya, akan tetapi perbuatannya tersebut tidaklah disepakati oleh ulama’ lainnya, oleh karena itu kejadian ini tidaklah dapat menjadi dalil untuk membolehkan pemberontakan. Terlebih-lebih sikap beliau ini bertentangan dengan berbagai dalil yang telah dijabarkan di atas yang dengan tegas melarang kita untuk memberontak penguasa walaupun ia lalim diktator dan kejam, kecuali dengan ketentuan yang telah dijabarkan pula. Bagi yang ingin mengetahui kejadian Sa’id bin Jubair dengan terperinci silahkan baca Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir 9/37-103.

Abu Dzar rodiallahu ‘anhu tidaklah melawan sahabat Mu’awiyah dan khalifah Utsman shollallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terjadi perbedaan pendapat antara Mu’awiyyah dan Abu Dzar rodiallahu ‘anha tentang hukum menyimpan harta selebih yang dipersiapkan untuk makan dan minum. Abu Dzar Al Ghifari berpendapat bahwa setiap orang yang memiliki harta simpanan atau lebih dari ia butuhkan untuk nafkah keluarganya harus ia shodaqohkan, bila tidak maka ia terancam akan di azab yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

والذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله فبشرهم بعذاب أليم

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak sedangkan mereka tidak menginfaqkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka azab yang pedih.” (QS. At Taubah: 34)

Beliau menyebar-nyebarkan fatwanya ini sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat Syam kala itu. Ketika melihat hal ini, Mu’awiyyah sebagai gubernur Syam mencegah Abu Dzar dari menyebarkan fatwanya ini, karena menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi beliau tidak menuruti perintah Mu’awiyah ini. Maka Mu’awiyah mengadukan perilaku Abu Dzar ini kepada Khalifah Utsman bin Affan rodiallahu ‘anhu. Mendengar laporan ini Utsman bin Affan langsung memanggil Abu Dzar untuk datang ke madinah. Maka beliau pun memenuhi panggilan ini. Setibanya di Madinah, Utsman menegur beliau akan perilaku dan fatwanya tersebut, serta memintanya untuk merujuk kembali fatwa tersebut, akan tetapi beliau enggan untuk melakukannya. Melihat yang demikian Utsman bin Affan memerintahkannya untuk tinggal di daerah Rabazah, dan di sebagian riwayat Abu Dzar lah yang meminta izin dari Utsman untuk tinggal di sana karena beliau pernah diberi pesan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bila bangunan penduduk Madinah telah mencapai gunung Sile’ agar meninggalkan kota Madinah. [Diriwayatkan oleh Al Khallal dalam kitab Sunnah-nya dengan sanad hingga Ibnu Sirin 1/107, Al Hakim, Al Baihaqi sebagaijmana disebutkan dalam Kanzul ‘Ummal]

عن عبد الله بن الصامت يقول: قدم أبو ذر على عثمان من الشام فقال: يا أمير المؤمنين افتح الباب، حتى يدخل الناس، أتحسبني من قوم يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، ثم لا يعودون فيه حتى يعود السهم على فوقه، هم شر الخلق والخليقة، والذي نفسي بيده لو أمرتني أن أقعد لما قمت، ولو أمرتني أن أكون قائما لقمت ما أمكنتني رجلاي، ولو ربطتني على بعير لم أطلق نفسي حتى تكون أنت تطلقني، ثم استأذنه أن يأتي الربذة، فأذن له. رواه ابن حبان مطولا وابن ماجة باختصار وصححه الألباني

“Dari Abdullah bin As Shomit, ia menuturkan: Tatkala Abu Dzar tiba dari Syam dan datang ke rumah Utsman, ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, bukakanlah pintu, agar aku dapat masuk. Apakah engkau mengira aku ini termasuk dari golongan orang-orang yang membaca Al-Qur’an akan tetapi bacaannya tidaklah dapat melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama bagaikan keluarnya anak panah dari tubuh binatang buruan, dan mereka tidak akan kembali kepadanya (agama) hingga anak panah tersebut kembali ke tali busurnya. Mereka adalah mahluk paling buruk. Dan sungguh demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya engkau memerintahkan aku untuk duduk niscaya aku tidak akan berdiri, dan bila engkau memerintahkan aku untuk berdiri niscaya aku akan berdiri sekuat kedua kakiku. Dan seandainya engkau mengikatku di atas punggung onta, niscaya aku tidak akan melepaskan diriku sampai engkau sendiri yang melepaskannya. Kemudia beliau meminta izin untuk tinggal di Ar Rabadzah, maka Utsman-pun mengizinkannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan panjang lebar, dan oleh Ibnu Majah dengan diringkas, dan dishahihkan oleh Al Albany)

Jadi tidak benar bila Abu Dzar rodiallahu ‘anhu melawan Utsman dan Mu’awiyyah, dan yang terjadi sebenarnya adalah perbedaan pendapat dalam masalah hukum menyimpan harta yang lebih. Dan ini adalah masalah yang wajar terjadi dan tidak dikatakan sebagai perlawanan.

Sebagian ulama [Diantaranya Imam Az dzahaby dalamkitab As Siyar 2/75] menyatakan bahwa sikap dan pendapat Abu Dzar rodiallahu ‘anhu yang seperti inilah, yaitu beliau teramat zuhud terhadap harta merupakan hikmah dan alasan mengapa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya tatkala ia meminta agar dijadikan sebagai pegawainya:

يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها رواه مسلم

“Wahai Abu Dzar sesungguhnya engkau itu lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu pada hari qiyamat adalah kehinaan dan penyesalan belaka, kecuali bagi orang yang menjabatnya dengan benar dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya pada jabatan tersebut.” (Muslim)

Ulama’ lainnya dari kalangan sahabat rodiallahu ‘anha menyelisihi pendapat Abu Dzar ini, sampai-sampai Ibnu Umar rodiallahu ‘anhu berkata:

كل مال تؤدي زكاته فليس بكنز وإن كان مدفونا وكل مال لا تؤدى زكاته فهو كنز وإن لم يكن مدفونا

“Setiap harta yang telah ditunaikan zakatnya, maka bukanlah harta timbunan, walaupun harta tersebut ditumbun di bumi, dan setiap harta yang tidak ditunaikan zakatnya, maka itu adalah harta timbunan, walaupun tidak ditimbun.” (Riwayat Malik, As Syafi’i, Ad Daraquthny dll)

Atsar Ibnu Umar rodiallahu ‘anhu ini juga diriwayatkan secara marfu’ hingga ke Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, dari sahabat Umu Salamah radhiallahu ‘anha dan sanadnya dihasankan oleh Al Albany.

Bahkan Abu Dzar pernah berkata kepada orang-orang yang mengajaknya untuk memberontak kepada Utsman:

لا تذلوا السلطان فإنه من أذل السلطان فلا توبة له والله لو أن عثمان صلبني على أطول خشبة لسمعت وصبرت ورأيت أن ذلك خير لي

“Janganlah kalian menghinakan penguasa, karena barang siapa yang menghinakan penguasa maka tidaklah ada taubat baginya, sungguh demi Allah seandainya Utsman menyalibku di batang kayu terpanjang, niscaya akau akan tetap setia mendengar dan bersabar, dan aku rasa itu baik bagiku.” [Ibnu Abi Syaibah 7/524, Tarikh Islam oleh Az Dzahaby 1/437]

Dengan demikian telah jelaslah sikap ahlussunnah wal jama’ah dalam mensikapi penguasa muslim dan tidak terdapat ikhtilaf dalam hal ini.

Diedit oleh M. Arif Hakim
dari tulisan Ustadz Arifin Badri, Lc. MA. dan Ustadz Firanda Andirja, Lc.

2 comments on “IJMA’ AHLUSSUNNAH DALAM MENSIKAPI PENGUASA

  1. ferry mengatakan:

    Assalammualaikum,
    Menarik sekali artikelnya, sampai gerakan manhaj salaf sampai ditempat saya. Sebelumnya jangan dianggap pendapat saya sebagai sanggahan terhadap hadist diatas, sebab hal ini yang terjadi dilingkungan saya. Terdapat kelemahan menurut pendapat saya, karena kebanyakan ulama salaf hanya memakai dalil ahlul sunnah dan tidak melihat pandangan dari teori barat demokrasi seperti berkembang saat ini. Sehingga terjadi kesalahan yang merugikan umat islam sendiri. Kalaulah di zaman Rasullulah gerakan demontrasi perkataan berupa pencelaan bertujuan menjatuhkan pemerintah, seperti kebiasaan Bangsa Arab pedang lebih mudah berbicara dari mulut tentulah dalil diatas dapat dipakai. Tapi saat ini sistem yang dipakai adalah demokrasi. Jika pemerintah saat ini walaupun pemimpinnya beragama islam tapi melakukan kebijakan mengguntungkan non muslim, misalnya penjualan aset negara, pemengutan pajak berlebihan, pengurangan subsidi dan memakai sistem ekonomi kapitalis. Sesuai dalil diatas cara penyampaian empat mata atau surat atau yang lain selain demontrasi tak akan efektif lalu kita tetap taat artinya patuh. Jika informasi kerugian masyarakat akibat kezaliman penguasa tidak disebarkan, masyarakat kita tidak akan tau, juga tidak mengerti, karena dunia ini pengetahuan berkembang cepat. Dalam jangka waktu panjang, semua rakyat akan terlelap dengan hiburan seperti saat ini dan terbangun jika negri ini tidak milik kita lagi. Akibatnya kita tidak bebas ibadah apalagi mesjid tidak boleh azan keras dan seterusnya. Umat islam akan rugi besar sebab non muslim bebas demontrasi dan didengar pemerintah. Demontrasi di indonesia tak berujung para pemberontakan berdarah kecuali militer, sebab sudah ada mekanismenya, semoga gerakan kembali keislam tidak menjadikan kita umat islam semakin terpuruk seperti di negeri ini walaupun mayoritas ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s