WARISAN PARA NABI


Alloh Azza wa Jalla di telah memuji ilmu dan ahlinya, memberikan pahala dan ganjaran kepada orang yang berjalan di jalannya dan mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat. Di antara bentuk kemuliaan yang diberikan oleh Alloh Azza wa Jalla kepada para ulama adalah kesaksian-Nya bersama mereka atas persaksian yang sangat agung dan mulia, yaitu tentang tauhid-Nya. Juga menyetarakan kesaksian mereka dengan kesaksian-Nya dan kesaksian para malaikat.
Alloh Azza wa Jalla berfirman, “Allah mempersaksikan bahwasanya tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mempersaksikan yang demikian itu).” (Ali ‘Imran: 18)
Al-Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- berkata, “Di dalam ayat ini terdapat dalil tentang keutamaan ilmu, kemuliaan para ulama dan keutamaan mereka. Karena, kalau ada seseorangyang lebih utama daripada para ulama, niscaya Allah akan menyertakan mereka dengan nama-Nya dan nama para malaikat, sebagaimana Allah telah menyertakan para ulama” [Al-Jami’ li Ahkaam AI-Qur’an (4/41)]
Allah Jalla wa ‘Alaa juga telah mengangkat derajat kaum mukminin yang berilmu di atas derajat kaum mukminin yang bodoh (dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan). Allah berfirman:
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)
Tidak diragukan lagi bahwa itu merupakan keutamaan Allah, kebaikan, karunia dan pemberian-Nya. “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”(Al-Hadid:21)
Karena perbedaan kedudukan dan derajat tersebut, maka Alloh Azza wa Jalla meniadakan persamaan antara ahli ilmu dan orang awam. Dzat Yang Mulia lagi Maha Mengetahui berfirman:
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’.” (Az-Zumar: 9)
Tentang kedudukan yang mulia dan tempat yang tinggi bagi para imam petunjuk dan lentera kegelapan, Ibnu ‘Abbas -rodliallohu anhu- berkata, “Para ulama berada beberapa tingkatan di atas orang-orang yang beriman (sejumlah) 700 tingkat. Jarak antara dua tingkat tersebut sejauh perjalanan 500 tahun”
Alloh Azza wa Jalla juga mendahulukan ilmu sebelum amalan. Karena ilmu adalah dalil yang bisa menunjukkan kepada apa yang dimaksud. Allah berfirman:
” Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)
Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam -rodliallohu anhu- tentang tafsir firman Allah :
“Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.” (Al-An’am: 83)
Beliau berkata, “Yakni dengan ilmu; karena Allah tidak memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu” [ fath AI-Bari (1/141)]
Tentang hal tersebut Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam “Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan ‘.” (Thaahaa: 114)
Beliau juga bersabda menjelaskan kedudukan ulama:
“Para ulama adalah pewaris para Nabi.”
Suatu hal yang sudah diketahui bahwa tidak ada tingkatan di atas kenabian, dan tidak ada kemuliaan di atas para pewaris tingkatan tersebut.
Nabi menjelaskan keadaan penuntut ilmu dan keutamaan menuntut ilmu di atas amalan lainnya dari amalan-amalan ibadah yang sunnah. Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda kepada Abu Dzar -rodliallohu anhu- :
“Wahai Abu Dzar ! Sungguh jika kamu berangkat di waktu pagi, lalu belajar satu ayat dari kitab Allah, itu lebih baik bagimu daripada shalat seratus rakaat. Dan sungguh jika kamu berangkat di waktu pagi, lalu belajar satu bab dari ilmu, baik diamalkan atau tidak, itu lebih baik bagimu daripada shalat seribu rakaat.”[ HR. Ibnu Majah dengan isnad hasan sebagaimana dikatakan oleh Al-Mundziri.]
Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda pula:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu dengannya, maka Allah akan memudahkan dengannya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dia cari. Dan sesungguhnya seorang ‘alim, akan dimintakan ampunan untuknya okh siapa saja yang ada di langit dan bumi, sampaipun ikan yang ada di air. Dan keutamaan seorang ‘alim di atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan uang dinar maupun uang dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, berarti dia mengambil bagian yang sempurna.” [HR.Ahmad dan lbnu Hibban.]
Imam Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata, “Artinya, mereka mewarisi ilmu yang dibawa oleh para Nabi. Maka mereka menggantikan posisi para Nabi di tengah umat mereka, dengan berdakwah kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, melarang dari perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah dan membela agama Allah.”
Karena keagungan dan pentingnya urusan ilmu baik secara duniawi maupun ukhrawi bagi kehidupan individu dan masyarakat, maka Rasulullah menjelaskan keutamaan ilmu dan keagungan kedudukannya dengan sabda beliau:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, sampai semut di dalam lubangnya dan ikan paus di dalam lautan, mereka memberikan shalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” [HR. At-Tirmidzi.]
Rasul Sholallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan kepada kita bahwa seorang ‘alim yang menebarkan ilmunya dan mengajarkannya kepada manusia, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Ini adalah karunia yang agung dan keutamaan yang besar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda
“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”[ HR. Muslim.]
Adakah pemberian yang lebih besar dari ini? ! Dengannya mata menjadi sejuk, jiwa-jiwa pun akan selalu melihat kepadanya, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar dan ganjaran yang banyak.
Sufyan bin ‘Uyainah -rahimahullah- berkata, “Tahukah Anda sekalian, apa perumpamaan ilmu itu? Seperti negeri kafir dan negeri Islam. Jika orang-orang Islam meninggalkan jihad dan datang orang-orang kafir, maka mereka akan menghabisi Islam. Dan jika manusia meninggalkan ilmu, manusia akan menjadi orang-orang yang bodoh. ”
Langkah-langkah yang ditempuh oleh seorang penuntut ilmu dalam rangka mendapatkan ilmu, memiliki pahala yang besar. Rasulullah telah bersabda:
“Tidak ada seorang pun yang keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu, kecuali malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuknya karena ridha dengan apa yang dia kerjakan hingga pulang.” [HR.Ahmad dan Ibnu Majah.]
Al-Imam Al-Khaththabi berkata, “Makna bahwa para malaikat meletakkan sayapnya adalah salah satu dari tiga sisi; Pertama: bahwa malaikat membentangkan sayap-sayapnya; Kedua: bahwa itu adalah bentuk kiasan dari tawadhu’ para malaikat karena menghormati pencari ilmu; Ketiga: bahwa yang dimaksud adalah tidak terbang, namun turun ke majelis-majelis ilmu untuk mendengarkan ilmu.” [ lihat : ma’alim As Sunan]
Setiap kedudukan dari semua sisi di atas mengandung unsur kemuliaan dan kehormatan yang menjadikan jiwa cenderung dan rindu kepadanya. Cukuplah sabda Nabi berikut menyebabkan seseorang cinta terhadap ilmu dan mencarinya:
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menjadikan dia paham terhadap agama.” [ HR Al Bukhari]
Al-Imam Al-Ajurri berkata, “Ketika Alloh Azza wa Jalla menghendaki kebaikan kepada mereka, maka Allah menjadikan mereka paham terhadap agama, mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Mereka pun menjadi lentera dan mercusuar bagi para hamba.” [ lihat : akhlaq Al Ulama’ hal 94 ]
Rasulullah bersabda tentang keutamaan seorang ‘alim atas seorang ahli ibadah,
“Keutamaan seorang ‘alim di atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku di atas orang yang paling rendah dari para shahabatku.” [ HR Tirmidzi]
Maka lihatlah bagaimana Rasulullah menjadikan ilmu sama dengan derajat kenabian dan bagaimana beliau menganggap rendah tingkatan amalan yang kosong dari ilmu, meskipun seorang ahli ibadah tidak kosong dari ilmu tentang ibadah yang biasa dia lakukan. Sebab kalau tanpa ilmu, tidaklah dinamakan ibadah.
Islam adalah agama yang menolak kebodohan, menganjurkan untuk mencari ilmu dan memberikan ganjaran dan pahala atasnya. Di dalam hadits dari Anas -rodliallohu anhu-
“Mencari ilmu adalah fardhu.” [ HR Ibnu majah].
Al-Imam Ahmad berkata, ” (Setiap orang) wajib untuk menuntut ilmu yang menjadikan agama tegak dengannya.” Ditanyakan kepada beliau, “Seperti apa halnya?” Beliau menjawab, “Yang dia tidak boleh bodoh tentang shalat, puasa dan lainnya.”
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab berkata, “Ketahuilah bahwa mencari ilmu adalah wajib. Dan ilmu adalah obat bagi hati-hati yang sakit. Dan perkara yang paling penting bagi seorang hamba adalah mengenal agamanya, yang jika dia mengenal dan beramal dengannya merupakan sebab untuk masuk ke dalam surga. Namun jika dia bodoh tentangnya serta menyia-nyiakannya merupakan sebab untuk masuk ke dalam neraka. Semoga Allah melindungi kita dari neraka.” [ lihat: Hasyiyah Tsalatsati Al-Ushul karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Qasim (hal. 10).]
Cukuplah hal ini sebagai pendorong untuk menuntut ilmu, karena dia merupakan jalan menuju surga dan menghantarkan kepada pintu-pintunya.
Rasulullah juga telah berdoa bagi orang yang menuntut ilmu dengan an-nadhrah (yaitu cerah dan bersinarnya wajah). Dari Zaid bin Tsabit -rodliallohu anhu- , bahwa Rasulullah bersabda:
“Semoga Allah memberikan wajah yang cerah kepada seseorang yang mendengarkan hadits dari kami, lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain. Barangkali orang yang membawa ilmu menyampaikan kepada orang yang lebih fakih daripadanya, dan terkadang orang yang membawa ilmu bukan orang yang fakih.’ [HR.At-Tirmidzi].
Di atas jalan rabbani inilah, umat baik lelaki maupun perempuan berjalan di dalam kafilah ilmu, menganjurkan untuk mencarinya dan mengetahui tentang nilainya. Inilah Mu’adz bin Jabal -rodliallohu anhu- menganjurkan untuk mencari ilmu, menjelaskan tentang keutamaannya dan keutamaan ahlinya dengan mengatakan, “Pelajarilah ilmu oleh kalian. Karena mempelajarinya karena Allah adalah bentuk rasa takut, mencarinya adalah ibadah, mempelajarinya dengan bersama-sama adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkan kepada orang lain adalah shadaqah, dan memberikan kepada ahlinya adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Dia adalah teman di kala sendiri dan shahabat ketika tidak ada kawan.” [Jami’ Bayan Al-‘llmi wa Fadhlihi (1/54).]

This entry was posted in ILMU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s