ABU HASAN AL-’ASY’ARY, Biografi dan Aqidahnya


Pendahuluan

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dien yang haq agar mendhahirkannya diatas segala dien yang ada walaupun orang-orang musyrik membencinya.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam beserta keluarga dan para sahabatnya dan juga pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Sedemikian banyak kaum muslimin di penjuru dunia ini menisbatkan aqidah mereka kepada Abul Hasan Al-Asy’ary, akan tetapi mereka tidak mengetahui tentang beliau sama sekali, baik tentang pribadinya maupun tentang aqidah yang menjadi keyakinannya di akhir hidupnya yang dengan demikian beliau termasuk diantara para imam yang pantas diikuti.

Karenanya, saya ingin memberikan faedah kepada mereka tentang hakekat imam ini yang majhul dikalangan banyak orang yang menisbatkan dirinya kepadanya dan mengikuti akidahnya sesuai dengan apa yang kami dapatkan dari beberapa referensi yang mu’tabarah.
Dan sebelumnya kami ingin memberikan sepercik tentang biografi Al-Asy’ary kepada pembaca.

Biografi Abul Hasan Al-Asy’ary

Beliau adalah ‘Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ary, dilahirkan pada tahun 260 H sebagaimana yang dijelaskan oleh :
– Abul Qosim Ali bin Al-Hasan bin Hibatullah bin Asyakir Ad-Dimasyqy dalam kitabnya “Tabyin kadzibil muftary fiima nusiba ila Abil Hasan Al-Asy’ary”.
– Al-Khathiibul Baghdaady dalam kitabnya “Tarikh Baghdad”.
– Ibnu Khalikan dalam kitabnya “Tariikhul Islam”.
– Ibnu Katsir dalam kitabnya “Al-Bidayah wan Nihayah” dan Thabaqatusy-Syafi’iyyah”.
– At-Taaju As-Subky dalam kitabnya “Thabaqatusy-Syafi’iyyatil kubra”
– Ibnu Farhun Al-Maliki dalam kitabnya “Ad-Diibaajul madzhab fii a’yaani Ahli Madzhab”
– Murtadha Az-Zubaidy dalam kitab “Ithaafis-Saadah al-Muttaqin bisyarhi araa-a ‘ala ulumiddin”.
– Ibnul ‘Imaad Hambaly dalam “Syadzaratu dzahab fii a’yaani man dzahab”
– Dan lain-lain.

Imam ini telah masuk ke negeri Baghdad dan belajar al-hadits pada Al-Hafidz Zakariya bin Yahya As-saajy, salah seorang imam hadits dan fiqih, Abu Hanifah al-Jumahy, Sahal bin Muhammad bin Ya’qub Al-Muqry dan Abdur-Rahman bin Khalaf. Semua mereka itu adalah Basshriyun yang beliau telah meriwayatkan dari mereka banyak sekali dalam tafsirnya yang bernama “Al-Mukhtazin” dan mengambil ilmu kalam dari syekhnya yang sekaligus juga bapak tirinya sendiri yaitu Abu ‘Ali al-Juba’iy salah seorang pembesar mu’tazilah.

Ketika ia sudah besar, yang waktu itu banyak orang yang semakin dalam mencapai puncaknya dalam kemu’tazilahan, dia mengutarakan beberapa pertanyaan kepada gurunya, akan tetapi beliu tidak menemukan jawaban yang memuaskan bahkan bertambah bingung tentang itu.

Telah dihikayatkan bahwa beliau berkata : “pada beberapa malam keraguan didalam dadaku tentang aqidah yang selama ini saya yakini, maka berdirilah aku dan shalat dua raka’at dan meminta kepada Allah agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus sampai saya tertidur dan didalam tidur itu saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; maka saya mengadukan permasalahan saya itu kepadanya maka beliau bersabda : “ikutilah olehmu sunahku” kemudian terbangunlah aku. Dan aku telah memaparkan masalah kalam dengan apa-apa yang aku temukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah maka aku kukuhkan yang demikian itu dan aku lempar jauh apa yang selainnya”.

Telah berkata Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit yang lebih dikenal Al-Khatibul baghdady (wafat tahun 463) : “Abul Hasan Al-Asy’ary adalah seorang mutakallimin yang mempunyai kitab-kitab dan mempunyai tulisan untuk membantah para pengingkar adanya Allah, dari kalangan Mu’tazilah, Ar-Rofidhah, Al-Jahmiyyah, Al-Khawarij dan seluruh golongan ahli Bid’ah”. Sampai pada perkataannya: “Dan adalah Mu’tazilah itu telah mengangkat kepala-kepala mereka sehingga sehingg Allah memunculkan A-Asy’ary yang kemudian dia telah menaklukannya di atas terompah”.
Telah berkata Ibnu Farhun dalam “Ad-Diibaaj” : “Abu Muhammad bin Abi Zaid Al-Qairawaany dan yang lainnya dari kalangan para imam kaum muslimin”.
Dan berkata Ibnu Imaad Hambaly : “Dan diantara upaya Abul Hasan A-Asy’ary dalam mempercerah citra Ahlus-Sunnah dan mencoreng Syiah, penganut Mu’tazilah dan Jahmiyyah sehingga dengannya al-Haq menjadi semarak, dan mu’min dari ahli ilmu menjadi tokoh dalam perdebatannya dengan gurunya Al-Juba’I yang mengakibatkan setiap ahlul bid’ah yang membangkang patah dibuatnya”. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Khalikan: “Bertanya Abul Hasan Al-Asy’ary kepada gurunya Abu Ali Al-Juba’I tentang tiga orang bersaudara yang salah seorang dari mereka adalah mu’min, shaleh yang ahli taqwa dan yang kedua kafir, fasik dan malang, sedang yang ketiga adalah masih kecil, yang semua mereka itu mati, maka bagaimana keadaan mereka ?”. Maka A-Juba’I menjawab : “Adapun yang mu’min maka dia itu pada derajat yang tinggi, adapun si kafir maka dia adalah di dalam dasar neraka, sedang si kecil maka dia termasuk orang yang selamat.” Maka Al_asyary bertanya lagi : “Jika si kecil menginginkan untuk naik derajat saudaranya yang mu’min mungkinkah hal itu dibolehkan baginya ?” Al-Juba’I menjawab : Tidak, sebab akan dikatakan kepadanya : Saudaramu itu dapat mencapai derajat yang demikian itu karena ketaatannya yang banyak, sedangkan kamu tidak memiliki hal itu”. Lalu Al-Asy’ary bertanya lagi: “apabila dia mengatakan: Kekurangannya itu bukanlah dari sisiku, kalaulah seandainya engkau panjangkan umurku niscaya aku akan mampu untuk berbuat ketaatan yang banyak”. Jawab Al-Juba’I : “Allah swt. Akan berkata : Aku tahu apabila kamu berumur panjang kamu akan berbuat ma’siyat yang mengakibatkan adzab yang pedih untukmu, maka untuk kemaslahatanmu Aku atur sedemikian rupa”. Bertanya lagi Al-Asy’ary : “Kalaulah si saudara yang paling besar itu mengatakan wahai penguasa alam semesta sebagaimana engkau telah mengetahui keadaannya engkaupun mengetahui keadaanku, maka mengapa engkau perhatikan dia sedang aku tidak diperhatikan?” Maka tercenganglah Al-Juba’i.

Dan telah berkata Ibnul ‘Imaad : “Di dalam perbedaan ini terhadap dalil bahwa Allah mengkhususkan pada yang dikehendaki dengan rahmat-Nya dan yang lain dengan adzab-Nya”. Tajuddin As_Subky di dalam kitabnya “Ath-thabaqatusy-Syafi’iyyatil kubra” mengatakan : “Abul Hasan Al-Asy’ary adalah pembesar Ahlussunnah setelah imam Ahmad bin Hambal dan diantara aqidah beliau dan imam Ahmad sama tidak diragukan lagi, bahkan Al-Asy’ary berkali-kali di dalam tulisannya telah menerangkan bahwa aqidahku adalah aqidah imam Ahmad bin Hambal. Inilah ungkapan beliau di banyak tempat.

Dan tentang keutamaan dan karakteristik Abul Hasan Al-Asy’ary lebih banyak dari apa yang mungkin kita rinci dalam tulisan singkat seperti ini dan bagi siapa yang menerangkan tentang tulisan beliau setelah beliau taubat dari pemikiran Mu’tazilah akan melihat bahwa Allah telah memuliakannya dengan taufiq-Nya dan meluruskannya dalam rangka menolong yang haq dan membela jalan-Nya.

Maka para pengikutmadzhab-madzhab itu telah berselisih paham. Seorang pengikut madzhab Imam Malik menyatakan dia Malikiy, seorang pengikut madzhab Syafi’I mengatakan dia Syafi’iy, begitupun pengikut imam Hanafy.

Telah berkata Ibnu ‘Asakir : saya telah bertemu dengan seorang syekh yang faqih, yang menyebutkan pada saya dari syekhnya bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary adalah pengikut madzhab malikiy. Maka setiap orang yang mengaku bermadzhab Ahlussunnah dan mendalami prinsip-prinsip dien dari madzhab-madzhab lainnya kepada Al-Asy’ary, dikarenakan banyaknya tulisan beliau dan banyaknya orang-orang yang membaca tulisan-tulisan itu. Berkata Ibnul Furak : “Abul Hasan itu meninggal pada tahun 224 H.”

Dan setelah kita sebutkan dari biografi imam ini, berikut akan kita sebutkan keautentikan kembalinya Abul Hasan Al-Asy’ary dari pemikiran mu’tazilah dan juga pengukuhan nisbat kitab “Al-Ibanah” padanya, yang kami ambil dari referensi-referensi yang autentik.

KEMBALINYA ABUL HASAN AL-ASY’ARY DARI AQIDAH MU’TAZILAH KEPADA AQIDAH SALAFIYYAH

Telah berkata Al-Hafizh Abul Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibatullah bin ‘Asaakir ad-Dimasyqy (wafat tahun 571 H) di dalam kitabnya “At-Tabyiin” : telah berkata Abu Bakar Isma’il bin Muhammad bin Ishaq Al-Azdy Al-Qairawany yang dikenal dengan nama Ibnu ‘Azrah, bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary itu dulunya adalah penganut mu’tazilah selama 40 tahun sehingga beliau menjadi seorang imam diantara mereka, kemudian beliau lenyap dari dari pandangan manusia selama 15 hari, setelah itu beliau keluar menuju masjid jami’ di Bashrah, kemudian setelah shalat Jum’at naiklah beliau ke atas mimbar dan berkata : “….. wahai manusia, sesungguhnya aku telah menghilang selama ini karena aku telah mempertimbangkan sesuatu, sehingga terkumpullah padaku beberapa dalil sedangkan aku belum menemukan mana yang haq dan mana yang bathil, maka aku berdo’a kepada Allah agar mengkaruniakan petunjuk-Nya kepadaku dan akhirnya dikabulkanlah permohonanku melalui apa-apa yang tertulis pada bukuku ini dan aku menyatakan melucuti diriku dari apa yang selama ini aku yakini, sebagaimana aku melucuti bajuku ini ….”, kemudian iapun melucuti baju yang dipakainya kemudian dilemparkannya dan dia memperlihatkan kitab-kitabnya kepada khalayak manusia, yang diantara kitabnya adalah “Al-Luma” dan lain-lain dari tulisannya yang sebagian akan disebutkan berikut ini, insyaa Allah.

Setelah para ahli hadits dan fiqih dari kalangan ahlussunnah membaca kitab-kitab itu, akhirnya mereka sepakat mengambilnya dan menjadikan ajarannya itu suatu aqidah, bahkan mereka menganggapnya sebagai imam sehingga mereka menisbatkan madzhab mereka kepadanya. Sehingga jadilah beliau manusia yang paling besar permusuhannya terhadap ahli dzimmah.

Begitu pula Abul Hasan Al-Asy’ary adalah manusia paling besar permusuhannya terhadap mu’tazilah sehingga mereka mencela dan menisbatkan kebathilan terhadapnya, akan tetapi ketegasan sikap Abul Hasan terhadap madzhab mu’tazilah tersebut menjadikan hinanya kedudukan mereka dan sebaliknya dengan pengetahuannya tentang prinsip-prinsip tersebut menjadikan tingginya martabat dikalangan para ahli ilmu, karena barang siapa yang keluar dari suatu madzhab maka dia akan lebih tahu tentang kekurangan-kekurangannya dan akan lebih mampu menjatuhkan syubhat-syubhat para pengikutnya dan mampu menjelaskan tentang apa-apa yang mereka tertipu dengannya kepada jalan petunjuk yang benar. Maka dengan demikian ketentraman yang dialami oleh orang yang membuka tabir itu seperti istirahatnya orang yang berdebat dengan Harun bin Musa Al-A’war.

Yang kisahnya bahwa Harun tersebut dulunya yahudi dan kemudian masuk Islam dengan sebaik-baiknya, hafizh Al-Qur’an dan nahwu. Pada suatu hari didebat oleh seseorang tentang suatu masalah yang akhirnya orang itu dikalahkan oleh Harun sampai dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat, dan ipun berkata : bukankah engkau dahulu beragama yahudi kemudian masuk Islam ? maka berkatalah Harun kepadanya : betapa jeleknya perbuatanmu itu, maka dengan demikian Harun mampu menjelaskannya.
Dan ahli hadits bersepakat bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary adalah diantara imam ahli hadits dan madzhabnya adalah madzhab ahli hadits. Beliau telah berbicara tentang prinsip-prinsip dien sesuai dengan metode ahlus-sunnah dan membantah orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah dan beliau adalah pedang terhunus bagi mu’tazilah, rafidhah, ahlul bid’ah dari kalangan muslimin dan orang-orang yang murtad. Maka barangsiapa yang telah mencela beliau berarti telah mencela ahlus-sunah, maka beliau telah menceritakan kejelekan terhadap seluruh ahlus-sunnah. Bukanlah Abul Hasan Al-Asy’ary itu adalah pembicara pertama atas nama ahlus-sunnah, akan tetapi beliau menjalankan sunnah-sunnah yang lainnya dan menolong madzhab yang benar hingga bertambah baginya hujjah yang kuat, bukanlah karena beliau membuat makalah atau madzhab baru, bahkan yang paling banyak menguraikan dan menjelaskan madzhab ini seperti imam-imam yang lainnya.
Telah berkata Abu Bakar bin Furak : “Abul Hasan Al-Asy’ary itu telah kembali dari mu’tazilah ke madzhab ahlus-sunnah pada tahun300 H”.

Diantara para ulama yang mengatakan kembalinya Abul Hasan Al-Asy’ary dari mu’tazilah adalah Abul Abbas Syamsuddin Ahmad bin Muhammad bi Abu Bakar bin Khalkan Asy-syafi’iy (wafat tahun 681 H) berkata : “adalah Abul Hasan Al-Asy’ary itu mu’tazilah, akan tetapi kemudian beliau bertaubat”. Dan Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqy Asy-syafi’iy (wafat tahun 774), beliau berkata : “sesungguhnya Al-Asy’ary itu mu’tazily, kemudian bertaubat daripadanya di atas mimbar di Bashrah, kemudian beliau telanjangi kekejian dan kekotoran mu’tazilah”.
Juga Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dimasyqy Asy-Syafi’iy yang terkenal dengan nama Adz-Dzahaby (wafat tahun 748 H), telah berkata dalam kitabnya “Al-”Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffar” : Abul Hasan itu semula mu’tazily yang diambil dari Abu Ali Al-Juba’I, akan tetapi dia mencampakannya dan mengkonternya sehingga beliau menjadi juru bicara ahlus-sunnah dan sesuai dengan para imam ahlul hadits.
Kalaulah saudara-saudara kita dari mutakallimin mempelajari dan merekatkan diri dengan makalah Abul Hasan Al-Asy’ary, maka mereka akan menjadi baik. Akan tetapi mereka menggeluti sebagaimana para pendahulu dikalangan ulama dalam sesuatu dan mereka berjalan di belakang mantiq, maka tidak akan ada kekuatan kecuali kekuatan Allah.

Dan diantara orang yang mengatakan kembalinya beliau adalah Taajuddin Abu Nashr Abdul Wahad bin Taqiuddin As-Subky As-Syafi’iy (wafat 771 H), beliau mengatakan di dalam kitabnya “Ath-Thabaqaatusy-Syafi’iyyatil Kubra” : “Abul Hasan Al-Asy’ary telah memeluk madzhab mu’tazilah selama 40 tahun sehingga beliau menjadi imam bagi mereka, akan tetapi ketika Allah menghendaki pertolongan untuk dien-Nya, Allah membukakan dadanya untuk mengikuti al-haq setelah lenyap dari pandangan manusia di rumahnya, kemudian beliau sebut pembicaraan Ibnu Asaakir yang telah lalu, diantara mereka adalah Burhanuddin bin Ali Muhammad bin Farhun Al-Ya’mury Al-Madany Al-Maliky (wafat tahun 799 H), beliau mengatakan dalam kitabnya “Ad-Dibaazul Madzhab fi Ma’rifat A’yani Ulama Al-Mazdhaby” : “Abul Hasan Al-Asy’ary pada mulanya mu’tazily kemudian dia kembali ke madzhab yang benar yaitu madzhab ahlus-sunnah, banyaklah hal-hal yang mengagumkan daripadanya dan dia telah ditanya tentang itu maka dia memberi tahu bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan ramadhan dan memerintahkannya agar kembali dan menolong al-haq, dan alhamdu lillah demikian yang terjadi.
Juga As-Sayyid Muhammad bin Muhammad Al-Husany Az-Zubaidy yang dikenal dengan nama Murtadha Al-Hanafi (wafat tahun 1145), beliau mengatakan di dalam kitabnya “Ithaafus Sa’aadah Al-Muttaqiin bi syarhil Israari Ihya Ulumuddin”. “Abul Hasan Al-Asy’ary telah mengambil ilmu kalam dari gurunya Abu Ali Al-Jubba’I syekhnya kaum mu’tazilah, kemudian meninggalkannya karena mimpi yang ia lihat dan ia kembali dari madzhab mu’tazilah dan mengumumkan hal itu dengan naiknya ia ke atas mimbar di Bashrah pada hari jum’at dan berteriak setinggi suaranya : … Barang siapa yang mengenal aku maka dia telah mengenal siapa aku dan barang siapa yang belum mengenal aku maka aku adalah fulan bin fulan yang aku dulu pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk dan Allah tidak bisa dilihat oleh mata pada hari akhirat dan bahwasanya manusia itulah yang menciptakan pekerjaannya. Dan inilah, kini aku bertaubat dari madzhab mu’tazilah dan ber’azam untuk membantahnya. Kemudian dimulai dengan bantahan mereka dan menulis, menentang mereka”.
Kemudian berkata : telah berkata Ibnu Katsir, mereka telah menyebutkan : bagi syekh Abul Hasan Al-Asy’ary itu dibagi tiga keadaan, yakni :
(1). Keadaan mu’tazilah yang dia telah kembali dari padanya, yang tidak diragukan lagi.
(2). Pengukuhan sifat-sifat aqliyah yang tujuh, yaitu :
a. Al-Hayah (hidup)
b. Al-Ilmu (mengetahui)
c. Al-Qudrah (berkuasa)
d. Al-Iradah (berkehendak)
e. As-Sam’u (mendengar)
f. Al-Bashar (melihat)
g. Al-Kalam (berfirman), dan mena’wil sifat-sifat khabariyah, seperti al-wajhu (wajah), al-yadaini (dua tangan), al-qadam (kaki), as-saq (betis) dan lain-lain .
(3). Mengukuhkan sifat itu semuanya tanpa takyiif (membagaimanakan), tasybiih (menyerupakan), sesuai dengan manhaj as-salafush-shalih,yang cara ini ditetapkan dalam kitabnya yang beliau tulis (Al-Ibanah) dengan kutipan-kutipan dari mereka para ulama ini. Tegaslah ketidakraguan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary pada akhirnya tetap pada aqidah ahlus-sunnah wal jama’ah sesuai dengan aqidah as-salafush-shalih yang Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan sampai akhir hayatnya, setelah dulunya beliau seorang penganut paham mu’tazilah.

KITAB AL-IBANAH

Telah kita selesaikan pembicaraan tentang kembalinya Abul Hasan Al-Asy’ary dari faham mu’tazilah, sekarang kita masuk pada pembahasan yang kedua tentang benarnya nisbat “Al-Ibanah fi Ushuluddin” kepadanya, yang sekaligus bantahan terhadap sebagian orang yang mengklaim bahwa kitab itu adalah yang dipalsukan terhadapnya. Dan berikut ini adalah jawaban terhadap pertanyaan tersebut :
Telah berkata al-hafizh Ibnu Asaakir dalam kitabnya “Tabyiinul Kadimil Mustari”, bahwa Ibnu Hazm Ad-Dhahiry telah menyebutkan bahwa Abbul Hasan Al-Asy’ary mempunyai 55 tulisan (kitab) kemudian berkata : Ibnu Hazm meninggalkan lebih dari setengah tulisan-tulisan itu, setelah itu ia uraikan dan berkata, diantaranya adalah kitab “Al-Huma” yang di dalamnya beliau memperlihatkan aib-aib dari mu’tazilah yang kemudian beliau sebut dengan nama “Kasful Asraari wal haqiil Asraari”.

Juga tafsir “Al-Muhtadin” sebanya 500 jilid . Tidaklah ia meninggalkan satu ayatpun didalamnya yang seorang ahlul bid’ah berpegang dengannya kecuali beliau jatuhkan pegangan itu, dan beliau jadikan hal itu sebagai hujjah bagi ahlul haq dan beliau jelaskan globalnya dan kesulitannya yang dalam waktu yang sama beliau bantah apa-apa yang ditulis (diselewengkan) oleh Al-Jubba’I dan Al-Balkhiy di dalam tafsir mereka berdua.

Dan diantara juga pasal-pasal di dalam membantah orang-orang yang membangkang dan keluar dari Islam, seperti para ahli filsafat dan at-tabi’iyyin, adh-dhahiriyyin dan ahlul tasybih.
Juga Maqaalatul Islamiyyin , yang di dalamnya mencakup seluruh perbedaan-perbedaan dan maqalah-maqalah mereka, yang al-hafidz Ibnu Asaakir di dalam kitabnya “At-Tabyiin”, telah menyebutkan nama-nama dan bahasa-bahasanya dan saya telah menelaah seluruh risalah ini terhadap tiga kitab di atas, yang semuanya adalah sudah tercetak “Al-Luma’, Al-Ibanah, Al-Maqaalatul Islamiyyah”. Telah berkata Ibnu Asaakir pada hal 128 dari “At-Tabyiin” : “Dan tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary itu dikalangan ahli ilmu itu adalah terkenal”. Dan menurut para muhaqqiq (peneliti) buku-buku itu sangat baik dan barang siapa yang mendapatkan kitabnya yang berjudul Al-Ibanah akan diketahui kedudukan ilmu dan diennya. Kemudian pada hal. 152 dia berkata : “….. maka apabila Abul Hasan Al-Asy’ary itu sebagai yang telah tersebut dikenal dengan aqidahnya yang baik yang membenarkan madzhab menurut kalangan ahli telah sepakat, dalam kebanyakan pendapat dia para pembesar ulama dan tidaklah ada yang mencela keyakinannya kecuali orang-orang yang bodoh dan membangkang. Maka haruslah bagi kita untuk menjelaskan secara jujur tentang aqidahnya dan menjauhi dari menambah dan mengurangi agar kita dari khianat; dan untuk mengetahui hakekat kebenaran aqidahnya di dalam prinsip-prinsip dien, maka dengarkanlah apa yang beliau sebutkan di dalam permulaan kitabnya yang bernama Al-Ibanah yang insya Allah di akhir risalah ini akan disebutkan.

Kemudian pada halaman 171 beliau berkata melalui sejumlah bait syi’ir yang dinisbatkan kepada sebagian orang-orang sezamannya; Kalaulah umurnya belum menulis selain Al-Luma’ dan Al-Ibanah, maka cukuplah, bagaimana tidak sedang sungguh dia fitnah didalam-ilmu-ilmu yang dia kumpulkan sekumpulan yang tersusun dari 200 diantara apa-apa yang telah ia lakukan, belum ternilai dalam tulisannya suatu kritik-kritik yang pantas, maka dengannya orang-orang yang mencari kebenaran dan yang menelaahnya pasti mengambil manfaat. Dibacakan arti kitab-kitabnya di atas mimbar-mimbar Jum’at. Dan penganut paham gereja dan ahli jual beli takut pukulannya, maka dia adalah pemberani bagi siapa yang meninggalkan sunnah dan berbuat bid’ah.
Dan diantara orang yang menisbatkan Al-Ibanah kepada Abul Hasan Al-Asy’ary adalah al-hafidzul kabiir Abu Bakar Ahmad bin Al-Husein bin Ali Al-Baihaqy Asy-Syafi’I (wafat tahun 485 H). yang berkata dalam kitabnya ” Al-I’tiqaad wal Hidaayah ilas-Sabiilirrasaad” di dalam satu bab yang membahas tentang beberapa pendapat tentang Al-Qur’an hal 31, Imam Syafi’I menyebutkan apa-apa yang menunjukkan bahwa apa yang kitam baca pada Al-Qur’an melalui lisan kita, kita dengar dengan telinga kita dan kita tulis dalam mushaf-mushaf kita adalah kalam Allah subhanahu wa ta’ala dan bahwasanya Allah dengannya berbicara dengan hamba-hambanya yang dengannya Dia mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan berma’na dengan apa yang disebutkan tadi disebutkan pula oleh Ali bin Isma’il di dalam kitabnya Al-Ibanah.

Juga berkata pada halaman 22 dari kitab tersebut berkata Abu Hassan Ali bin Isma’il di dalam kitabnya Al-Ibanah : yakni kalau ada seseorang yang mengatakan sesungguhnya kalam Allah itu di dalam atau di laukhul makhfudz kita juga demikian, sebab Allah telah berfirman :

بَل هُوَ قُرْآنٌ مَجِيْدٌ فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ

Artinya :
“Bahkan dia itu adalah Qur’an yang terpuji di laukhul Mahfud”
Maka Al-Qur’an itu ada di laukhul mahfud, walaupun dia itu terdapat dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan dibaca oleh lisan sebagaimana Allah telah berfirman :

لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

Artinya :
“Janganlah engkau gerakkan dengannya lisanmu”
Dan Al-qur’an itu tertulis di mushaf-mushaf kita yang pada hakekatnya terpelihara di dada-dada kita, terbaca oleh lisan kita, terdengar oleh telinga kita dengan sebenarnya sebagaimana Allah telah berfirman :

…فَأَجِرْه حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ….

Artinya :
“Maka lindungilah dia sehingga ia mendengar firman Allah”
Kemudian berkata pula pada halaman 36 setelah membeberkan dalil-dalil bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah dan bukan makhluk. Dan orang-orang yang membantah Ali bin Isma’il Al-Asy’ary berhujjah dengan pasal-pasal yang terambil dari nash manuskrip yang tulisannya pada tahun 1086 H.
Dan diantara yang menyebutkan Al-Ibanah beserta penisbatannya kepada Abul Hasan Al-Asy’ary adalah al-hafidz yang terkenal dengan Adz-Dzahaby, yang terkenal dalam tulisannya “Al-Uluw lil Aliyyil Ghaffar” pada halaman 278.

Telah berkata dalam kitab Al-Ibanah fii Ushuuliddiyaanah bab al-istiwa’: apabila ada yang mengatakan bagaimana pendapatmu tentang al-istiwa’ ..? maka kita jawab sesungguhnya Allah bersemayam diatas arsy, sebagaimana dia telah berfirman :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas arsy”
Sampai di akhir perkataan di dalam al-ibaanah kemudian berkata : “Dan kitab Al-Ibanah itu adalah di dalam tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary yang terkenal sebagaimana yang telah Ibnu Asaakir masyhurkan yang kemudian tulisannya disalin oleh Imam Muhyiddin an-Nawawy.

Imam Adz-Dzahaby meriwayatkan dari al-hafidz Abul Abbas bin Tsabit At-Turqy bahwasanya beliau berkata : “saya telah membaca kitab Abul Hasan yang bernama Al-Ibanah beberapa dalil tentang adanya sifat al-istiwa’.

Dan dinukil dari Abu Ali Ad-Daqaqad bahwasanya beliau mendengar Zuhair bin Ahmad Al-Faqih berkata: “telah meninggal Abul Hasan Al-Asy’ary diatas pangkuanku seraya beliau berkata tentang polemiknya”. Semoga Allah mela’nati orang-orang yang berpaham mu’tazilah, merekalah yang telah mengaburkan dan mendeskreditkan. Sampai disini perkataan Adz-Dzahaby.

Dan diantara yang menisbatkan Al-Ibanah kepada Abul Hasan Al-Asy’ary adalah Ibnu Farhun Al-Maliky, dia telah berkata :
“Dan diantara kitab-kitab yang pro Asy’ary adalah kitab “Al-Lam’ul Kabiir” dan kitab “Al-Lam’ush Shaghiir dan kitab “Al-Ibaanah ‘an Ushuluddiyaanah”. Juga Abdul Fatah Abdul Hay bin Al-Imad Al-Hambaly (wafat tahun 1098 H) beliau nyatakan di dalam kitab ” Syadzaraatudz-dzahabi fii a’yaani man dzahab” : “Abul Hasan Al-Asy’ary telah berkata di dalam kitabnya Al-Ibanah ‘an ushuuliddiyanah dimana kitab ini adalah merupakan kitab terakhir dan sekaligus dijadikan standar oleh para pengikutnya didalam membelanya dari orang-orang yang mencelanya, kemudian dia sebutkan fasal yang lengkap dari Al-Ibanah”.
As-Sayyid Al-Muntaha Az-Zubaidy dia telah berkata dalam kitab “Ithaafussaadatil-muttaqiin fii syarhi asraari Ihya ‘ulumuddin ” : “Setelah kembalinya dari faham mu’tazilah Abul Hasan Al-Asy’ary menulis suatu kitab yang terdiri atas tiga jilid, kitab ini sangat bermanfaat dalam membantah terhadap faham jahmiyah dan mu’tazilah yaitu kitab “Maqaalaatul islaamiyyin” dan “Al-Ibanah”. Dan telah terdahulu suatu riwayat dari Ibnu Katsir yang menyatakan bahwa Al-Ibanah adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Abul Hasan Al-Asy’ary.

Abul Qaasim Abdul Malik bin Isa bin Darbaas Asy-Syafi’I (wafat tahun 605 H) beliau berkata dalam suatu risalahnya yang bertema tentang pembelaan terhadap Abul Hasan Al-Asy’ary : “Ketahuilah saudara-saudara bahwa kitab Al-Ibanah ‘an Ushuulliddiyaanah yang ditulis oleh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al-Asy’ary adalah kitab yang berisi tentang aqidahnya yang terakhir yang dia yakini setelah kembalinya dia dari faham mu’tazilah berkat karunia dan kemurahan Allah, dan setiap makalah yang sekarang dinisbatkan kepadanya padahal bertentangan dengan fahamnya yang baru dan dia telah berlepas diri pada Allah dari padanya betapa tidak karena dia telah menulis sebagai ikrarnya tentang aqidah yang diyakininya di dalam buku itu dan telah meriwayatkannya dan mengukuhkannya bahwa yang demikian itu adalah merupakan dien yang diyakini oleh para sahabat, tabi’in, para imam hadits danmerupakan pendapat Imam Ahmad bin Hambal. Dan bahwasanya apa-apa yang didalamnya itulah yang berdasarkan kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka layaklah kalau dikatakan padanya sesungguhnya beliau telah mencabut pernyataannya itu dan telah berpendapat dengan yang lainnya. Maka kembali kemana yang dimaksud apakah beliau berpendapat bahwa beliau kembali dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengan apa-apa yang diyakini dan diamalkan oleh para sahabat, tabi’in dan para imam hadits padahal telah sama-sama dima’lumi bahwa adalah madzhab mereka dan beliau telah meriwayatkannya dari mereka radhiyallahu ‘anhu ajma’in”.

Inilah apa-apa yang tidak layak dinisbatkan pada orang awam dikalangan kaum muslimin terlebih lagi hal itu dinisbatkan pada para imam kaum muslimin. Apakah mungkin juga dikatakan : beliau mungkin saja tidak mengetahui apa yang beliau nukil dari assalafush-shaleh walaupun beliau menfatwakan hal itu padahal sekian banyak umurnya beliau pergunakan untuk mempelajari dan mengenal madzhab-madzhab yang ada; Maka itulah diantara hal-hal yang tidak mungkin terlintas pada fikiran-fikiran orang yang munshif (obyektif) dan tidak ada yang menyatakan seperti itu kecuali orang yang takabur dan berlebih-lebihan. Telah jelas dan tidak bisa disangkal lagi bahwa kitab Al-Ibanah adalah tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary dan beliau telah memuji dengan pa yang beliau tulis didalamnya dan berlepas diri dari setiap bid’ah yang dinisbatkan kepadanya dan buku ini telah menjadi bahan nukilan para imam yang terkenal dalam kalangan ahli fiqih, para imam qurra’ dan penghafal hadits dan lain-lain.

Ibnu Darbaas telah menyebutkan satu tho’fah (kelompok) dari kalangan orang-orang yang telah kami sebutkan bahkan telah ditambah oleh al-hafidz Abul Abbaas Ahmad bin Abbaas Al-Irooqy yang telah menyebutkan tentang Abul Hasan Al-Asy’ary bahwa beliau ketika menjelaskan tentang istiwa’ dari tulisannya : Saya memandang mereka orang-orang jahmiyah telah memustahilkan keberadaan Allah di atas ‘arsy dan pena’wilan al-istiwa’ kepada Abul Hasan Al-Asy’ary adalah merupakan kebatilan yang mereka adakan dan mereka paksakan sungguh telah aku baca kitabnya yang bernama Al-Ibanah ‘an ushuuliddiyaanah beberapa dalil dari sekian banyak apa yang saya sebutkan tadi terhadap terjadinya sifat istiwa’ yang diantara mereka adalah : Abu Utsman bin Ismail bin Abdur Rahman ash-Shabuny, beliau telah menyebutkan bahwa tidak pernah beliau keluar menuju majelis ta’lim kecuali beliau memegang kitab :Al-Ibanah” tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary yang nampak kekaguman beliau terhadapnya dan berkata : “Apalagi yang dapat digugat dari kitab ini tentang penjelasan madzhabnya “. Inilah penjelasan Abu Utsman yang sekaligus beliau termasuk tokoh ahlul atsar di Khurasan.
Juga Imam Al-Qura Abu Ali bin Ali bin Ibrahim Al-Farisi, beliau telah menyebutkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary berkata melalui perkataannya di dalam salah satu kitabnya yang bernama “Al-Ibanah” yang beliau tulis ketika beliau masuk ke negeri Baghdad, Ibnu Darbas menyebutkan bahwasanya beliau menemukan kitab Al-Ibanah diantara tumpukan kitab-kitab Abu Fathi Nash Al-Maghdisy (wafat tahun 490 H) di Baitul Maqdis dan beliau berkata : “Saya telah melihat pada sebagian tulisannya mengenai al-ushul yang beberapa pasal diantaranya melalui tulisannya sendiri.

Juga Al-Faqih Abul Ma’aly Mujalla, penulis kitab “Ad-Dakhair fil Fiqh”, berkata Ibnu Darbas : Tidak hanya satu orang yang telah memberikan kepadaku dari Al-Hafidz Abi Muhammad Al-Mubarak bin Ali Al-Baghdady yang aku nukil langsung dari tulisan tangannya pada akhir kitab ‘Al-Ibanah” beliau berkata : “Saya nukil seluruh kitab ini dari satu naskah yang waktu itu dipegang oleh Asy-Syeikh Al-Faqih Al-Maqallah Asy-Syafi’I yang beliau keluarkan dari suatu jilidan besar. Maka aku tulis kitab itu dan aku perlihatkan kepadanya dan beliau menyutujuinya dan beliau berkata : “Demi Allah ini adalah tulisannya dan telah berdebat dengannya orang yang mengingkarinya. Hal itu telah disebutkan kepadaku secara lisan : Inilah fahamku dan kepadaNyalah aku berpendapat. Hal ini saya nukil pada tahun 540 H di Makkah dan inilah akhir dari apa yang saya nukil dari tulisan Ibnu Ath-Thabbah”.

Abu Muhammad bin Ali Al-Baghdady, telah berkata Ibnu Darbas : “Saya telah menyaksikan naskah dari kitab Al-Ibanah melalui tulisannya dari awal sampai akhir yang hal itu sekarang dipegang oleh Imam Al-Alamah Abul Hasan Al-Mufadhal Al-Maqdisy dan saya telah menyalin naskah dan memperbandingkannya setelah saya menulis naskah lain saya temukan dari penemuanku pada kitab Al-Imam Nashr Al-Maghdisy di Baitul Maqdis dan para sahabat kami telah memaparkan hal itu kepada para tokoh sebagian Jahmiyyah yang mempercayai isu-isu dusta terhadap Abul Hasan Al-Asy’ary di Baitul Maqdis, maka beliau mengingkarinya dan berkata : “Tidak sedikitpun hal itu aku dengar dan hal yang demikian itu bukanlah tulisannya. Orang berusaha untuk menghapus syubhat ini dengan kecerdasannya dan berkata setelah menggerakan jenggotnya: “Kemungkinan kitab itu dia tulis dalam keadaan haswiyan (asal-asalan). Telah berkata Ibnu Darbas : maka betapa anehnya hal itu bagi saya, apakah karena kejahilan dia tentang kitab ini padahal telah masyhur dan banyak para ulama mengatakan bahwa kitab itu adalah tulisannya, atau karena jahilnya dia dengan gurunya yang membuat berita dusta tentang kecondongannya kepada beliau sebelum beliau bertaubat dari faham mu’tazilah dihadapan orang-orang baik itu ‘alim maupun jahil.

Maka kalau demikian keadaan orang yang menisbatkannya pada beliau, sebagaimana jadinya orang terdahulu dari para imam dari kalangan sahabat, tabi’in, fuqaha dan muhaditsin yang mereka itu tidak pernah melihat kitab dan meninggalkan mereka. Demi Allah mereka itu adalah lebih bodoh dan lebih bodoh, betapa tidak karena sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada Abul Hasan Al-Asy’ary hanya karena dakwaan padahal sebenarnya bertentangan dengan tulisan Abul Hasan yang telah merujuk kepadanya dan berkeyakinan dengannya dan penulis telah berpaham dengan makalah yang pertama yang sebenarnya, yang lebih utama dan lebih selamat adalah sebaliknya. Demikian kelangsungan kaidah dan pemersatuan kalimat sesuai dengan perkataan Ibnu Darbas.

Juga Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Karim bin Abdus Salam yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H), beliau berkata dalam “Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubra” hal. 70 : “Telah berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam kitabnya yang diberi nama “Al-Ibanah an ushuliddiyanah” dan para sahabatnya telah menyebutkan bahwa kitab itu adalah kitab terakhir yang ditulisnya yang sekaligus digunakan untuk membelanya dari kalangan yang mencacinya”. Beliau telah berkata pasal tentang penjelasan perkataan ahlul haq dan ahlus-sunnah dan menyebutkan pada permulaan kitab “Al-Ibanah” dan akan datang uraiannya berikut ini insya Allah.

Juga Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Az-Zar’I yang dikenal dengan nama Ibnul Qayim Al-Jauziyyah Al-Hambaly Ad-Dimasqy (wafat tahun 751 H), telah berkata dalam kitabnya “Ijtima’ Al-Juyusi Al-Islamiyah ‘ala Ghafwil Ma’athilah wa Aj-Jahmiyyah, cet. India hal. 111 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Ketika Abul Hasan telah kembali dari faham mu’tazilah beliau berjalan pada manhaj ahlus-sunnah wal hadits dan menisbatkan dirinya pada Imam Ahmad bin Hambal, sebagaimana hal itu telah disebutkan di dalam seluruh kitab-kitabnya seperti “Al-Ibanah, Al-Mujaz, Al-Maqalaat” dan lain-lain.

Kemudian Ibnul Qayim berkata : “Abul Hasan Al-Asy’ary beserta imam dan sahabat beliau seperti Al-Hasan Ath-Thabary Abu Abdillah bin Al-Mujahid dan al-Qaady Abu Bakr Al Bakilany, mereka sepakat terhadap pengukuhan sifat-sifat khabariyah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, seperti al-istiwa’, muka, tangan dan membatalkan penakwilan tentang sifat-sifat itu, dan Abul Hasan Al-Asy’ary sama sekali tidak mempunyai dua pendapat tentang itu dan seorang pun dari kalangan pengikutnya yang menyebutkan hal ini, akan tetapi para pengikutnyalah yang mempunyai dua pendapat tentang itu”.

Dan Abul Ma’aly Al-Juwaini didalam menakwilkan sifat-sifat itu dengan dua pendapat :
a. Di dalam Al-Irsyaad yang kemudian beliau kembali dari takwilnya dan mengharamkan pada risalahnya yang bernama “An-Nidhamiyyah “.
b. Dan beliau menukil ijma’ salaf tentang haramnya dan bahwasanya hal itu bukanlah wajib dan bukan boleh.
Kemudian Ibnul Qoyim menyebutkan perkataan Abul Hasan Al-Asy’ary Imam kelompok Al-Asy’ariyyah dengan berkata : Kami sebutkan perkataannya tentang apa yang kami dapati dari kitab-kitabnya seperti Al-Mujas, Al-Ibanah dan Al-Maqalaat.
Ibnul Qoyim berkata di dalam “Qasidah Nuhiyahnya” yang diberi nama “Al-Kaafiatus Syafi’iyah fil Intishaaril Firqatin Naajiyah” cet, Mesir hal 68.
Dan perkataan Al-Asy’ary : Tafsir istiwa’ (bersemayam, pent-) sebenarnya adalah istaula (menguasai pent-) adalah perkataan dusta. Perkataan itu adalah perkataan para pemaham mu’tazilah dan pengikut jahmiyah. (Hal itu, pent-) di dalam kitab-kitabnya Al-Mujas, Al-Ibanah dan Al-Maqalaat. Dan pada hal. 69 dari kitab tersebut beliau berkata : Ibnu Abdil Baar telah mengatakan di dalam kitabnya “At-Tamhid dan Al-Istidzkar” secara berani telah mengatakan : Para ahli ilmu telah berijma’ melalui penjelasan-penjelasan bahwa Allah itu di atas ‘arsy dan disana telah terdapat obat bagi ahlul huda, akan tetapi disebabkan penyakit bagi orang-orang yang buta.

Demikianpula Ali Al-Asy’ary di dalam kitab-kitabnya sungguh telah datang dengan penjelasan, dengan melalui penjelasan beliau telah menetapkan bersemayamnya Allah di atas ‘arsy, demikian pula menetapkan sifat ‘uluw (tinggi, pent-) dengan sebaik-baiknya penetapan, maka lihatlah kitab-kitabnya secara seksama. Dan seorang salafy besar Muhibudin Al-Khatib sungguh telah menegaskan nukilan-nukilan yang kuat ini tentang taubatnya Abul-Hasan Al-Asy’ary dari ta’wil dan ta’thil (memalingkan dan memustahilkan, pent-) didalam komentar tentang komentar beliau terhadap kitab Al-Muntaqa Mukhtasar Minhajus Sunnah tulisan Ibnu Taimiyah seraya berkata : “Sesungguhnya kelompok Al-Asy’ariyah itu menisbatkan diri mereka kepada Abul Hasan Al-Asy’ary, padahal telah saya katakan bahwa Abul Hasan Al-asy’ary mempunyai tiga fase :
1. Menginduknya beliau kepada faham mu’tazilah
2. Keluar dan pembantahan beliau terhadap mereka (mu’tazilah pent-) dengan menggunakan metode-metode pertengahan antara metode mu’tazilah dan faham salaf.
3. Beralihnya beliau ke faham salaf dan tulisan beliau tentang itu melalui kitab al-Ibanah dan yang semisal dengan itu.
Di tempat yang lain berkata : “Walaupun kelompok As’ariyah itu madzhab yang menisbatkan mereka kepada Abul Hasan Al-Asy’ary dalam hal ilmu kalam, maka sebagaimana beliau tidak menampikan keasy’ariyannya pada fase faham mu’tazilahnya. Maka bukanlah suatu sikap yang obyektif kalau beliau dinisbatkan dengannya pada zaman yang Allah kehendaki untuk menyelamatkannya, bahkan hal itu dapat kita ambil dari perkataan-perkataannya yang pada waktu itu beliau masih berada pada fase yang kedua kemudian beliau berpaling pada akhirnya dari kebanyakan perkataannya itu, sampai pada perkataannya : “Abul Hasan Al-Asy’ary itu termasuk Imam dan ulama besar di dalam Islam”.
Beliau pada mulanya tumbuh dan berkembang diatas faham mu’tazilah dan beliau bermurid tentang iti kepada Al-Juba’I, kemudian Allah sadarkan hati beliau pada pertengahan umurnya dan permulaan kematangannya pada tahun 304 H. Maka beliau mengumumkan kembalinya beliau dari kesulitan faham mu’tazilah, dan berlalunya fase kedua ini beliau curahkan dalam menulis, berdiskusi dan memberikan pelajaran-pelajaran dalam membantah faham mu’tazilah dengan metode yang pertengahan antara debat dan ta’wil dan metode salaf, kemudian beliau mematangkan caranya dan mengikhlaskan dirinya kepada Allah dengan kembalinya beliau secara sempurna kepada manhaj salaf dan mengukuhkan sesuatu yang telah oleh nash dari masalah-masalah yang ghaib yang Allah mewajibkan setiap hambanya untuk untuk menjernihkan iman mereka terhadapnya.

Dengan demikian mereka menulis kitab yang terakhir diantaranya yang menyebar pada masyarakat, yaitu kitab Al-Ibanah, dan seorang penulis bilbiografinya bahwa al-Ibanah itu adalah tulisan yang terakhir dan inilah yang Allah karuniakan kepadanya dan setiap yang menyimpang dari itu, dari hal-hal yang dinisbatkan kepadanya atau kelompok Asy’ariyah mengada-adakan perkataan itu, padahal asy’ariyah telah kembali kepada apa yang tertera di dalam kitab Al-Ibanah dan sejenisnya.

Kemudian berkata : “Sesungguhnya pendapat-pendapat asy’ariyah itu berkembang sesuai dengan perkembangan pemikirannya yaitu dari faham mu’tazilah kepada perdebatan secara mantiq beserta mu’tazilah sebagai usaha pemalsuan terhadap makalah-makalah mereka, kemudian Allah menakdirkan kepadanya khusnul khatimah dengan kembalinya beliau kepada manhaj salaf yang murni lagi jernih”, (hal. 41-42 dari kitab Al-Muntaqa).

Saya mengatakan : inilah nukilan-nukilan para imam terkemuka dari pemuka-pemuka Islam yang mengandung penjelasan dan jauh dari kekaburan bahwa kitab Al-Ibanah bukanlah suatu kitab yang dipalsukan terhadap Abul Hasan al-Asy’ary sebagaimana yang dikatakan dari sebagian mereka yang tertipu oleh ahli taqlid bahkan kitab ini adalah merupakan tulisan-tulisannya yang beliau tulis terakhir kalinya dan beliau konsisten memang terhadap yang ada di dalamnya berupa aqidah salaf yang al-Qur’an dan as-sunnah telah datang menjelasankannya. Dan setelah nukilan-nukilan yang menunjukkan dalil yang jelas terhadap kebenaran nisbat kitab Al-Ibanah kepada abul hasan Al-Asy’ary ini dan bahwasanya itu merupakan kitab terakhir yang ditulisnya. Saya sebutkan beberapa contoh aqidah imam ini yang telah ruju’ sebagaimana yang terdapat dalam kitab Al-Ibanah dan kitab Al-Muntaqa.

Saya akan menyebutkan teks langsung dari beliau agar jelaslah bagi setiap pembaca yang obyektif memahaminya tanpa ta’asub dan bahwasanya Abul Hasan Al-Asy’ary telah bertaubat dari ta’til, takhrif dan ta’wil (peniadaan, pemalsuan dan penyalahgunaan arti, pent-). Sebagaimana juga beliau belum pernah mempertanyakan tentang kaifiyat, tasbih dan tamsil (bagaimana, menyerupakan dan mempersamakan, pent-), bahkan beliau mengukuhkan dan berkeyakinan tentang segala apa yang allah beritakan tentang diri-Nya, tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang baik dan yang tinggi di dalam Al-Qur’an setiap apa yang Rasulullah shallallahu ‘aalaihi wasalam beritakan dan jelaskan berdasarkan kepada tiga prinsip sebagaimana yang terkandung di dalam surat Asy-Syura’ :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ

Artinya :
“Tidak sesuatupun yang menyerupainya dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
Dan surat Thaha :

ولاَ يُحِيْطُوْنَ بِهِ عِلْمًا

Artinya : “Dan mereka itu tidak akan mampu meliputi ilmu tentang-Nya”
Prinsip yang pertama
Adalah membenarkan allah dari mempersamakan makhluk-makhluk Allah dengan seluruh nama, sifat dan dzat-dzat-Nya terhadap prinsip ini, firman-Nya :

لَيْسَ كَمِثْلِيْهِ شَيْءٌ

Artinya : “Tidak ada sesuatupu yang menyerupai-Nya” (QS. Asy-Syura : 11), mengisyaratka tentang itu.

Prinsip yang kedua
Adalah mengukuhkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik dan tinggi dan diisyaratkan dalam firman-Nya :

وَهوَ السَّمِيْعُ البَصِرُ

Artinya : “Dan dia Maha Mendengar lagi maha melihat” (QS. Asy-Syura :11).

Prinsip yang ketiga
Adalah putus asa dan tidak rakus untuk mengetahui kaifiyah dari nama-nama dan sifat-sifat allah sebagaimana tidak ada sesuatupun dari kalangan makhluk-makhluk Allah yang rakus dalam mengetahui kaifiyat tentang dzat Allah yang hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya :

ولاَ يُحِيْطُوْنَ بِهِ عِلْمًا

Artinya : “Dan mereka tidak akan mampu meliputi ilmu tentang-Nya” (QS At-Thaha ayat 110).
Maka inilah aqidah Abu Hasan Al-Asy’ary secara global yang terdapat dalam kitab “Al-Ibanah” sebagai kitab terakhir yang ditulisnya. Beliau berkata pada bagian pertama kitab ini, “bab tentang penjelasan pendapat ahlul haq dan ahlus-sunnah”.

Jika tidak ada orang yang mengatakan kepada kita kalian telah memungkiri perkataan mu’tazilah, qadariyah, jhmiyyah, khauriyah, rafidlah dan murji’ah maka terangkanlah kepada kami perkataanmu yang kalian katakan dan dienmu yang kalian anut. Jawabannya adalah perkataan yang kita katakan dan dien yang kami anut adalah berpegang teguh kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dan apa-apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in dan para imam hadits dan dengan yang demikian itu dan dengan apa yang dikatakan oleh abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal : “Kami berpegang teguh dan berkeyakinan dan terhadap orang yang menyimpang dari perkataannya kami berpaling karena dia adalah seorang imam yang utama dan pemuka yang telah menjelaskan manhaj dan menaklukan bid’ah para ahlul bid’ah serta keraguan orang-orang yang ragu dan penyimpangan orang-orang yang menyimpang, maka semoga rahmat Engkau limpahkan kepadanya sebagai imam yang terkemuka, mulia dan dihormati.

Secara garis besar kita katakan bahwasanya kita beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya beserta apa yang mereka datangkan dari sisi Allah dan yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak menolak sesuatupun dari yang demikian itu.

Dan bahwasanya Allah itu Ilah yang satu, tidak ada ilah melainkan Dia yang Esa, tempat bergantung dan tidaklah dia mengambil untuk-Nya kawan dan anak.
Bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus-Nya membawa petunjuk dan dien yang benar, dan bahwasanya hari kiamat itu pasti akan datang dan tidak diragukan lagi. Bahwasanya Allah akan membangkitkan setiap orang dari dalam kubur dan bahwasanya Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ…

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ…

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا…
Artinya :
“Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).
Bahwasanya barang siapa yang nama-nama Allah itu digunakan nama-nama untuk selain Allah, maka orang itu adalah sesat.

Dan bahwasanya Allah itu memiliki ilmu sebagaimana firman-nya :
…أَنْـزِلَهُ بِعِلْمِهِ…
Artinya :
“Dialah yang menurunkan dengan ilmu-ilmu-Nya” (QS. An-Nisa : 166)
…وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثِى وَلاَ تَضَعُ إِلاَّ بِعِلْمِهِ…
Artinya :
“Dan tidaklah perempuan itu mengandung melahirkan kecuali dengan ilmu-Nya” (QS. Faathir : 11).
Kita menyatakan bahwa orang-orang kafir itu terhalang dari melihat Allah ketika orang-orang yang beriman melihat-Nya di dalam syurga sebagaimana telah berfirman :
كَلاَّ إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِدٍ لَمَحْجُوْبُوْنَ
Artinya :
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu terhalang dari melihat Allah” (QS. Al-Muthaffifiin : 15).

Bahwasanya Musa ‘alaihi salam itu meminta kepada Allah agar dapat melihat-Nya di dunia, kemudian Allah memperlihatkan-Nya di gunung sehingga menjadikannya tak sadarkan diri. Dengan demikian itu ketahuilah bahwa Musa tidak melihat-Nya di dunia ini.

Keyakinan kita adalah tidak mengkafirkan seorangpun dari kalangan kaum muslimin (ahlul kiblat) karena perbuatan dosa yang dilakukannya seperti zina, mencuri, meminum khamr sebagaimana yang diyakini oleh khawarij yang menyatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir.
Kita menyatakan sesungguhnya setiap orang yang melakukan dosa besar seperti zina, mencuri atau yang sejenisnya dengan suatu keyakinan menghalalkannya dan tidak meyakini haramnya maka dia itu kafir.
Kita menyatakan sesungguhnya Islam itu lebih luas dari pada iman dan tidak setiap islam itu iman.
Kita meyakini bahwa Allah subhanahu wata’ala membolak-balikkan hati antara dua jari. Dan bahwasanya Allah itu meletakkan langit itu diatas satu jari dan bumi-bumi itu di atas satu jari sebagaimana riwayat-riwayat tentang itu telah datang pada kita dari Rasulullah saw.

Kita meyakini ketidak bolehan memastikan seorangpun dari ahlu tauhid dan orang-orang yang berpegang teguh dan beriman bahwa dia akan masuk surga atau neraka kecuali barang siapa yang dinyatakan oleh Rasulullah saw.
Kita berharap agar orang-orang yang berdosa itu dan menghawatirkan bahwa mereka akan diadzab di dalam neraka. Kita menyatakan sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala akan mengeluarkan suatu kaum dari neraka setelah mereka memperoleh syafa’at dari Rasulullah saw. sebagai konsekuensi membenarkan riwayat-riwayat yang datang dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita mengimani adanya adzab kubur dan al-haudh.
Dan bahwasanya timbangan itu adalah haq, ash-shirath (jembatan) adalah haq, bahwa hari kebangkitan setelah mati adalah haq dan bahwasanya Allah akan mengadili seluruh manusia di suatu …. dan menghisab kaum muslimin.
Dan bahwasanya iman itu adalah perkataan dan perbuatan, yang bertambah dan berkurang.
Kita menerima riwayat-riwayat yang shahih dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh dan adil sampai kepada Rasululllah saw.
Kita meyakini tentang wajibnya cinta terhadap para salaf yang dipilih oleh Allah untuk menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita menghargai mereka sebagaimana Allah menghargai mereka dan menjadikan mereka sebagai wali.
Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah).
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu.
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu.
Kita mengimani adanya adzab kubur, Munkar dan Nakir dan pertanyaan-pertanyaan tentang orang yang di kubur di dalam kuburan mereka dan kita membenarkan hadits isra’ mi’raj.

Kita membenarkan kebanyakan impian-impian di dalam tidur dan bahwasanya setiap impian itu ada tafsirnya.

Kitapun berpendapat bolehnya bersodaqoh dan berdo’a untuk orang-orang yang sudah mati dari kaum muslimin serta mengimani bahwa Allah akan memberikan manfaat dengan seperti itu dan kita membenarkan bahwa di dunia ini ada sihir dan para tukang sihir.

Kita meyakini adanya shalat bagi orang-orang yang mati bagi ahli kiblat (muslim), baik itu shaleh atau tidak dan kita meyakini adanya hukum waris bagi mereka.

Kita meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk, bahwasanya setiap orang yang mati atau terbunuh sesuai dengan ajalnya, bahwasanya rezeki itu dari Allah yang Allah karuniakan kepada semua hamba-Nya secara halal maupun haram. Dan bahwasanya setan itu mendesas-desuskan rasa was-was dan keraguan dan penyesatan terhadap manusia, berbeda halnya dengan pendapat kaum mu’tazilah dan jahmiyah sebagaimana firman-Nya :

Artinya :
“Orang-orang yang memakan riba itu tidaklah bangun kecuali seperti orang yang kemasukan setan dan penyakit gila” (QS. Ali Imran : 275)

Artinya :
“Dari kejahatan was-was yang dihembuskan terhadap hati-hati manusia baik dari kalangan jin maupun manusia” (QS. An-Naas : 4).
Dan kita mengatakan orang-orang yang shaleh itu bisa saja Allah mengaruniakan kekhususan terhadap mereka melalui keajaiban-keajaiban yang diperlihatkan terhadap mereka.

Dan pendirian kita terhadap anak-anak musyrikin (yang masih kecil, pent), bahwa Allah subhanahu wata’ala menyediakan untuk mereka pada hari kiamat api neraka, kemudian Allah mengatakan kepada mereka : “lahaplah oleh kalian mereka itu”, sebagaimana telah datang riwayat tentang itu.

Kita meyakini bahwa Allah mengetahui apa yang diusahakan oleh makhluk-Nya dan kemana mereka akan kembali, mengetahui apa-apa yang telah terjadi, apa-apa yang akan terjadi dan apa-apa yang tidak akan terjadi yang kalaulah hal itu akan terjadi, niscaya hal itu akan terjadi.

Kita meyakini harusnya memutuskan hubungan dengan para da’I kepada kebid’ahan dan harusnya menjauhi ahlil hawa.

Komentar
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
(Wakil direktur Al-Jami’ah Al-Islamiyyah)

Dengan nama Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan yang berwali kepadnya.

Amma ba’du

Sungguh telah saya telaah risalah yang berharga ini yang telah dikumpulkan oleh saudara kita dan kawan kita syaikh Hammad bin Muhammad Al-Anshary, dosen kuliah syari’ah di Riyadh tentang penjelasan sekelumit dari bibliografy Abul Hasan Al-Asy’ary dan penjelasan kembalinya beliau dari faham mu’tazilah kepada faham ahlus sunnah di dalam mengukuhkan apa-apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-sunnah yang shahih tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik lagi tinggi sesuai dengan selayaknya, tanpa penyimpangan (takhrif), pengingkaran (ta’thil), perumpamaan maupun pembahasan kaifiyyah (takyif). Sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh para ulama hadits dan dipegang oleh salaful ummah (para pendahulu umat ini, pent), para sahabat, tabi’in radliallahu ‘anhum, dan inilah yang dijelaskan Abul Hasan Al-Asy’ary di dalam kitab yang masyhur seperti “Al-Maqaalatul Al-Mujaz dan Al-Ibaanah”.

Sungguh saudara kita Syaikh Hammad dengan baik dan bermanfaat di dalam risalah ini dan memperlihatkan nukilan yang berguna bagi para imam, para imam terkemuka dalam menyingkap syubhat, menghapus kekaburan, membimbing kepada kebenaran dan menjelaskan hakekat aqidah Abul Hasan Al-Asy’ary yang telah membantah dan menolak atau mengkanter siapa yang menyimpang dari padanya sebagaimana juga menjelaskan hakekat faham Mu’tazilah dan caciannya terhadap merekaserta menjelaskan hakekat kebatilan mu’tazilah, kegoncangan prinsip-prinsip mereka dan keruntuhan aqidah-aqidah mereka kepada kaum muslimin.

Semoga Allah membalas orang yang berbuat baik dan berkah di dalam usaha-usahanya, dan semoga dengannya bermanfaat bagi kaum muslimin sesungguhnya. Dan maha berkuasa atas segala sesuatu.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada hamban-Nya, Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam beserta para keluarga dan para shahabat-Nya.

Komentar
Syaikh Ismail Muhammad Al-Anshary

Segala puji bagi allah, shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan seluruh sahabatnya ………

Amma ba’du

Sungguh suatu bukanlah hal yang tersembunyi bagi yang dikaruniai taufiq di dalam aqidah ini bahwa manhaj as-salafus shaleh di dalam berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-sunnah dan tidaklah selainnya dapat menentangnya.

Sungguh Abul Hasal Al-Asy’ary yang bernisbat kepadanya kelompok Al-Asy’ariyah adalah orang yang termasuk mendapat petunjuk dari allah kepada manhaj ini setelah beliau mempelajari faham mu’tazilah dari ayahnya, guru besar faham mu’tazilah, Muhammad bin Abdul Wahab Abu Ali Al-Juba’I sehingga beliau bertaubat dan berpegang teguh dengan nash-nash sehingga mengukuhkan apa-apa terhadap allah sesuai apa yang dikukuhkan olehnya tanpa pengingkaran, pena’wilan, perumpamaan dan takyif.

Dan untuk menjelaskan itu beliau menulis kitab “Al-Ibanah fi Ushulid-Diyaanah” walaupun banyak orang yang menisbatkan diri mereka kepada zaman-zaman terakhir tidak mengetahui hal itu atau berpura-pura tidak tahu sehingga bertentangan dengan aqidah salafus-shaleh dengan hal-hal yang diakui bahwa itu adalah aqidah Al-Asy’ary, padahal sebenarnya beliau berlepas diri hal itu.

Bahkan sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa kitab “Al-Ibanah” itu sesuatu yang dipalsukan terhadap diri Abul Hasan Al-Asy’ary, yang semua ini merupakan bahaya yang besar terhadap Imam asy’ary yang telah dikaruniai petunjuk untuk kembali kepada kebenaran dan menelanjangi mu’tazilah dan para pengekor mereka di dalam kitab yang beliau tulis tersebut.

Sungguh semua ini telah disadari oleh seorang pembahas yang teliti yaitu Syaikh Hammad bin Muhammad Al-Anshary, dosen kuliah syari’ah di Riyadh. Beliau mempelajari tulisan-tulusan para imam dari berbagai kalangan sehingga darinya keluar intisari yang berharga ini yang membawakan tentang penjelasan dan keterusterangan Al-Asy’ary sendiri tentang taubatnya dari segala yang dikategorikan dengan bertentangan dengan nash-nash dan sifat-sifat lainnya serta keyakinan yang diyakini oleh aqidah as-salafus shaleh yang terkandung dalam “Al-Ibanah”.

Sebagaimana telah dinukil untuk kalangan kelompok Asy’ariyah, nukilan-nukilan dari kalangan ulama mutakallimin, muhaditsin, fuqaha dan para penulis yang menjelaskan tentang kembalinya Abul hasan Al-Asy’ary kepada aqidah as-salafus shaleh dan bahwa kitab “Al-Ibanah” adalah merupakan tulisan Al-Asy’ary.

Maka dengan ini penulis risalah ini telah menunaikan kewajiban menjelaskan aqidah dari satu sisi dan kewajiban membela Al-asy’ary dan kitabnya “Al-Ibanah” dari sisi lain, sehingga tidak ada sesuatu diragukan lagi tentang semua ini.

Maka semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan dan memberikan manfaat melalui penulis ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Dekat dan Maha Mengetahui.

Sumber : http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/06/08/abu-hasan-al-asyary/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s